Bunga nekat kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi mewujudkan mimpi sang ibu. Sayangnya, ketika lulus, mimpi yang sudah dibangun itu harus dikubur. Sebab, masa depan seorang guru PAUD memang benar-benar suram.
***
Sudah setahun ke belakang, Bunga (bukan nama sebenarnya) tidak lagi berurusan dengan kegiatan belajar mengajar atau mendengar tangisan anak-anak di pagi hari. Sekarang, kesehariannya adalah duduk di depan komputer di sebuah kantor startup di daerah Jogja.
Tidak ada lagi seragam batik guru atau sepatu pantofel. Bunga, kini bekerja sebagai staf administrasi dengan pakaian santai, kasual, di ruangan ber-AC, dan jam kerja yang pasti.
Namun, keputusan Bunga untuk berhenti menjadi guru Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukanlah hal yang mudah. Ada pergolakan batin di baliknya. Masalahnya bukan karena ia tidak suka anak-anak, tapi karena realitas hidup yang harus ia hadapi setelah lulus kuliah.
Kuliah Jurusan PGPAUD demi mimpi sang ibu
Bunga adalah lulusan PGPAUD dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Bagi orang Jogja dan sekitarnya, kuliah di UNY–apalagi di jurusan pendidikan–adalah sebuah kebanggaan. Sebab, UNY dikenal sebagai salah satu kampus pencetak guru terbaik di Indonesia. Dan Bunga, berhasil masuk ke sana melalui jalur yang cukup kompetitif.
Namun, Bunga harus jujur. Ia masuk PGPAUD bukan karena keinginan pribadinya, tetapi demi mewujudkan mimpi Ibunya.
Ibu Bunga adalah seorang mantan guru TK yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Sang Ibu sangat mencintai pekerjaannya meskipun hingga pensiun ia tidak pernah menjadi PNS.
“Di desa Alhamdulillah nama ibu itu harum banget. Meskipun sampai beliau pensiun nggak pernah diangkat pegawai (PNS),” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Bunga adalah anak terakhir. Kakak pertamanya sudah meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun lalu, sementara kakak keduanya bekerja sebagai apoteker. Ibunya sangat berharap ada satu anaknya yang meneruskan jejaknya menjadi guru.
Karena rasa sayang dan baktinya yang besar kepada sang Ibu, Bunga pun mengubur minat pribadinya dan memilih mendaftar ke PGPAUD UNY. Di pikiran Bunga saat itu sederhana: “Yang penting Ibu senang dan bangga punya anak sarjana pendidikan.”
Jurusan kuliah yang sering diabaikan
Selama kuliah, Bunga sebenarnya adalah mahasiswi yang baik. Ia belajar banyak hal, mulai dari cara memahami otak anak, perkembangan fisik, hingga metode bermain sambil belajar. Namun, semakin lama ia kuliah, semakin ia menyadari bahwa dunia yang ia masuki tidak seindah yang dibayangkan.
Berdasarkan data yang sempat ia baca, jurusan pendidikan–terutama PAUD–memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi di kalangan lulusan baru. Pendeknya, masa depan guru, apalagi PGPAUD, memang suram.
Terbaru, analisis dari Bank Federal Reserve New York bahkan menyebutkan angka pengangguran lulusan ini mencapai sekitar 6,6 persen. Di Indonesia sendiri, masalahnya lebih kompleks. Jumlah lulusan PGPAUD setiap tahun mencapai puluhan ribu orang, tapi daya serap sekolah tidak sebanding dengan jumlah lulusan tersebut.
Banyak sekolah PAUD atau TK, terutama yang dikelola swasta kecil atau yayasan di desa-desa, tidak mampu menggaji guru sesuai standar sarjana. Mereka seringkali lebih memilih mempekerjakan tenaga yang bukan lulusan sarjana agar bisa dibayar lebih murah.
Inilah yang membuat persaingan lulusan S1 seperti Bunga menjadi sangat berat. Mereka harus bersaing dengan orang-orang yang mau dibayar rendah, sementara beban kerja guru sarjana sangatlah berat.
Guru PAUD kerja pontang-panting, gaji cuma Rp250 ribu sebulan
Setelah lulus dari UNY dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), Bunga sempat mencoba peruntungannya. Ia diterima mengajar di sebuah sekolah PAUD swasta. Di sinilah “mimpi” yang selama ini ia bangun untuk Ibunya mulai berbenturan dengan kenyataan hidup yang pahit.
Setiap hari, Bunga harus berangkat pagi-pagi sekali. Menjadi guru PAUD artinya harus siap mental menghadapi karakter anak yang berbeda-beda. Ia harus sabar saat ada anak yang tantrum, berkelahi, atau belum bisa mandiri di kamar mandi.
Pekerjaannya bukan cuma mengajar dari jam 8 sampai jam 11 siang. Setelah anak-anak pulang, tugas Bunga justru menumpuk.
“Harus nyusun rencana pembelajaran mingguan, bikin laporan perkembangan anak, sampai menyiapkan alat peraga untuk besok pagi,” jelasnya. “Jadi jangan pikir jadi guru PAUD itu mudah, karena kami itu mengajar sambil momong anak.”
Belum lagi tuntutan dari orang tua murid. Ada orang tua yang sangat menuntut anaknya harus sudah bisa membaca dan menulis dalam waktu singkat, padahal secara perkembangan usia dini, fokus utamanya bukan itu. Bunga seringkali harus membalas pesan WhatsApp dari orang tua murid hingga malam hari.
Puncaknya adalah saat menerima gaji pertama. Sebagai lulusan kampus ternama, banyak orang berekspektasi gajinya akan layak. Namun, kenyataannya gaji Bunga saat itu bahkan bisa dibilang tidak manusiawi: Rp250 ribu sebulan.
Angka tersebut jelas sangat tidak cukup untuk biaya makan, transportasi, apalagi menabung. Bunga merasa sedih sekaligus miris. Ia sudah kuliah empat tahun, belajar teori-teori sulit, tapi bayarannya sangat rendah.
“Aku menjadi saksi, nasib guru yang terlunta-lunta itu bukan omong kosong. Kami sungguh nggak dihargain,” ungkapnya.
Baca halaman selanjutnya…
Jenjang karier tak jelas. Lebih baik berhenti dan “banting stir” kerja di startup.














