Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Ilustrasi salah jurusan di PTN. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Di Indonesia, bulan-bulan pengumuman kelulusan ujian masuk perguruan tinggi, atau kini UTBK, selalu menjadi arena pembuktian gengsi. Ada aturan tak tertulis yang telanjur dipercaya banyak orang: lolos Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah kasta tertinggi pendidikan. 

Sebaliknya, masuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sering dianggap sebagai pilihan cadangan atau tempat penampungan bagi mereka yang gagal menembus ketatnya persaingan kampus negeri.

Dogma soal “kasta” ini begitu kuat mengakar. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang rela membuang cita-cita aslinya hanya gengsi kuliah di PTN. Bima (27), bukan nama sebenarnya, adalah salah satu orang yang kini harus membayar mahal karena termakan gengsi tersebut.

Membuang cita-cita menjadi orang hukum cuma gara-gara gengsi

Cerita Bima bermula empat tahun lalu. Sejak SMA, ia punya impian kerja di bidang hukum. Paling tidak seperti kakaknya yang merupakan seorang corporate lawyer atau pengacara perusahaan.

“Soalnya lihat kakak kerjanya santai tapi elegan,” katanya, Sabtu (4/4/2026) lalu.

Untuk mewujudkan mimpinya, Bima pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja pada 2017 lalu. Bagi siapa saja yang paham, Fakultas Hukum UII bukanlah kampus sembarangan. 

Fasilitasnya lengkap, kualitasnya diakui secara nasional, dan koneksi alumninya di berbagai firma hukum ibu kota, pengadilan, hingga instansi pemerintahan sangatlah kuat. Secara finansial, orang tua Bima juga sangat mampu membayar biaya kuliah di sana.

Secara logika, jalan Bima menuju masa depan sudah sangat terang. Namun, semuanya hancur saat tekanan dari lingkungan sekitarnya mulai datang.

Teman-teman dekat Bima di tongkrongan banyak yang lolos ke PTN. Teman-temannya yang gap year, bahkan ada yang memamerkan tangkapan layar pengumuman lolos SNBT (dulu SBMPTN) di media sosial. Di sekolah pun, guru-guru hanya memuji siswa yang masuk negeri. Bahkan ada anggapan di lingkungannya kalau anak yang masuk kampus swasta berarti kurang pintar.

“Stigmanya itu PTS anak-anak buangan, bodoh. Yang penting bayar. Kalau PTN itu pinter, gitu,”ungkapnya.

Ego Bima terluka. Ia merasa tidak siap menjadi satu-satunya anak di tongkrongannya yang memakai jaket kampus swasta. Gengsi telah mengambil alih akal sehat.

Tanpa pikir panjang, hanya enam bulan kuliah, Bima nekat membuang kursi Fakultas Hukum UII. Ia memilih berhenti kuliah dan fokus mengejar tes masuk PTN di tahun berikutnya.

Agar peluang lolosnya besar, ia sengaja memilih jurusan yang peminatnya paling sepi, yakni Jurusan Filsafat di salah satu PTN. 

“Tahu nggak, ini kata orang-orang jurusan buangan. Karena ya buat anak-anak yang merasa nggak mampu aja masuk jurusan lain,” tawanya.

Jadi mahasiswa Filsafat di PTN cuma “ngang-ngong”

Di awal masa kuliah, hari-hati Bima ia jalani sebagaimana mahasiswa umumnya. Ada kelegaan bisa kuliah di PTN, apalagi salah satu kampus top–meski ia merasa di jurusan yang salah.

Namun, penyesalannya datang begitu cepat. Begitu perkuliahan benar-benar berjalan, Bima baru sadar bahwa ia telah salah jurusan.

Otaknya tak bisa berpikir. Ia mencoba terbiasa dengan materi yang menurutnya “aneh” dan sama sekali baru baginya. 

Sebagai pelarian dari rasa penyesalan, Bima memaksa dirinya belajar mati-matian. Ia tidak mau terlihat gagal. Namun, semakin keras ia mencoba, ilmu yang masuk tak bisa maksimal. Ibarat kata, “belajar doang tapi nggak paham”.

“Menjelang skripsian makin ngerasa salah jurusan karena nggak tahu kudu ngapain. Di situasi itu aku mikir kayaknya lebih baik DO dan melihara lele,” candanya.

Namun, berkat bantuan teman-teman dan pacarnya, ia berhasil lulus pada 2024 lalu setelah kuliah 11 semester–atau molor satu setengah tahun.

Eh, ijazah PTN tak laku di mata HRD

Kenyataan di dunia kerja ternyata jauh lebih kejam. Setelah wisuda, Bima mulai mencari lowongan pekerjaan. Namun, selama berbulan-bulan ia tak kunjung juga mendapat pekerjaan dan terpaksa hidup dari uang orang tua.

“Jujur malu. Di saat kakak sudah bisa banggain keluarga, ngasih THR ponakan saat lebaran, aku masih nganggur. Di rumah aja makan tidur,” katanya.

Menurut Bima, memang jarang ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya di PTN. Sekalinya ada, itu adalah pekerjaan-pekerjaan–yang kata dia–”indie” dengan gaji jauh di bawah UMR Jogja.

Kasus Bima ini adalah potret nyata dari kerasnya dunia rekrutmen masa kini. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahun angka pengangguran terdidik (lulusan universitas) di Indonesia konsisten berada di angka ratusan ribu jiwa. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksesuaian antara ijazah dengan kebutuhan industri.

Di era sekarang, perusahaan sangat kaku soal keahlian yang linier. Tim rekrutmen mencari orang dengan skill dan legalitas ijazah yang spesifik. Mereka tidak punya waktu untuk mengajari karyawan dari nol, apalagi merekrut orang yang salah jurusan hanya karena tergoda nama besar kampusnya.

“Lulusan filsafat daftar call center sih bisa, tapi ya aneh aja nggak sih?”

Daftar CPNS pun mentok

Putus asa ditolak belasan perusahaan swasta, Bima akhirnya mencoba peruntungan terakhir: mendaftar seleksi CPNS. Orang tuanya juga sangat mendukung langkah ini.

Lagi-lagi, realita data menampar wajah Bima. Saat melihat daftar rincian formasi yang dirilis Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima lemas. Formasi untuk lulusan Ilmu Hukum selalu mendominasi, mencapai puluhan ribu lowongan di hampir semua kementerian dan pemerintah daerah.

Sebaliknya, lowongan untuk lulusan Filsafat hanya ada segelintir. Itu pun posisinya sangat terbatas.

Bima akhirnya sadar, bahkan untuk mengabdi kepada negara pun, ijazah PTN-nya tidak punya tempat. Ia telah membuang disiplin ilmu yang sebenarnya paling dicari oleh negara.

“Gengsi masuk PTN itu rasanya memang enak, tapi umurnya cuma sebulan setelah pengumuman. Percaya deh, kalau kamu sampai salah pilih jurusan dan buang mimpimu cuma demi PTN, ya penyesalannya bakal datang.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version