Rima (30) adalah lulusan Jurusan Manajemen yang memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Riau. Ia tidak bekerja kantoran atau formal seperti sarjana umumnya, tetapi berhasil meraih keuntungan sampai tiga kali lipat dari Upah Minimum Provinsi (UMP) di Riau dengan berjualan ayam penyet.
Bisa jadi, sebagian orang memandangnya sepele. Namun bagi Rima yang sudah mencicipi pekerjaan formal yang tidak menguntungkan itu, berjualan lebih bisa diandalkan untuk menopang ekonomi keluarganya.
Lika-liku setelah lulus dari Jurusan Manajemen
Berjualan ayam penyet tidak langsung menjadi pekerjaan pertama Rima. Setelah lulus dari Jurusan Manajemen di Universitas Islam Riau pada 2018, perempuan ini sempat mengajar di salah satu sekolah islam di Riau.
“Aku tamat kuliah tuh 2018, setelah tamat kuliah aku ngajar di sekolah MTs (Madrasah Tsanawiyah),” ujarnya saat dihubungi Mojok, Senin (9/3/2026).
Setahun setelahnya, Rima memutuskan untuk menikah dan mulai berkecimpung dalam jual-beli. Kala itu, jualan pertamanya adalah jus buah. Namun, bukan bisnis namanya kalau tidak ada tantangannya. Itulah yang dialami Rima saat salah seorang mantan karyawannya justru membuka usaha yang sama sepertinya.
Akibatnya, usaha Rima terancam gulung tikar. Pelanggannya lebih tertarik untuk membeli jus buah dari mantan karyawan alih-alih dirinya.
Maka saat itu, Rima dan suami yang juga Sarjana Ekonomi, lulusan Jurusan Akuntansi, memutuskan untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengganti ide bisnisnya. “Omzetnya udah kacau kali, makanya aku sama Paksu (Pak Suami) putar otak gimana caranya supaya dapat penghasilan lainnya karena jujur penghasilan jualan jus saat itu benar-benar anjlok cuma cukup untuk makan sehari-hari aja,” katanya.
Saat itulah, muncul ide untuk mencoba berjualan ayam penyet yang sebenarnya sudah pernah dijual di sekitar Rima. Akan tetapi, karena lokasi yang tidak strategis, usaha itu tutup, dan menjadi celah untuknya mereplikasi jualan makanan tersebut.
“Dulu udah pernah dijual cuma karena lokasinya nggak strategis karena kurangnya lahan parkir jadi tutup, eh malah ayam penyet ini kita buka lagi untuk nambah penghasilan,” ujarnya.
Diremehkan karena Sarjana Ekonomi, tapi kerjanya hanya berjualan
Sudah banting tulang sampai pindah haluan dari berjualan minuman ke makanan, Rima masih harus menghadapi ujian lain yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Tak lain dan tak bukan adalah dipandang sebelah mata karena hanya berjualan ayam penyet.
Sebagian orang membayangkan, sudah berkuliah selama empat tahun dan berjuang untuk lulus dengan susah, menjadi pedagang saja seperti sia-sia. Sebab, berdagang adalah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa harus mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Islam Riau.
“Sarjana kok malah jualan, percuma kuliah kalau gitu,” kata Rima menirukan ejekan yang dilontarkan orang-orang selama ini.
Selentingan itu tidak bisa dipungkiri mengganggu Rima saat sampai ke telinganya. Pasalnya, stigma itu isinya meremehkannya dengan menganggap kalau berjualan bukan pekerjaan yang layak, sebab tidak menguntungkan seperti kerja kantoran.
Namun pada akhirnya, Rima memilih untuk tidak ambil pusing. “Kalau menurut saya, stigma orang tentang sarjana tidak bekerja, aku nggak terlalu ambil pusing,” ujarnya.
Menurutnya, selama dapurnya bisa ngebul melalui jualan ayam penyet, ia tidak acuh ketika orang lain berbicara mengenai dirinya.
“Selagi aku punya penghasilan juga biarin aja orang beropini apa tentang aku,” tambah dia.
Kantongi keuntungan sampai Rp10 juta per bulan
Alasan lainnya Rima tidak lagi memikirkan kata orang-orang tentang dirinya adalah keuntungan yang telah dikantonginya. Baginya, bekerja di dapur tidak masalah selama tetap menghasilkan keuntungan. Itulah yang bisa didapatkannya dari berjualan ayam penyet selepas kuliah.
“Walaupun kerjanya di dapur, alhamdulillah tetap cuan,” kata Rima.
Meskipun, untuk mendapatkan cuan, Rima harus mengesampingkan gengsinya untuk turun langsung ke dapur, bahkan tidak jarang menjadi kurir yang mengantarkan pesanan. Namun setidaknya, Rima memahami kalau untuk kebutuhan ekonomi, dirinya tidak akan bisa makan kalau mempertahankan gengsi semacam itu.
Selain itu juga, didampingi suami yang mengelola usaha ini bersamanya, Rima punya perbandingan bahwa gaji pekerja kantoran yang dianggap lebih mentereng oleh kebanyakan orang justru jauh dari keuntungan yang bisa didapatkannya dalam sebulan.
“Padahal ya, Paksu aku tuh dulunya sempat kerja kantor, tapi gajinya jauh lebih kecil ketimbang pas jualan, mana pusingnya luar biasa,” katanya.
Dibandingkan pekerja kantoran dalam jabatan staf yang gajinya tidak jauh dari UMP Riau sekitar Rp3,7, Rima bisa mengantongi keuntungan sedikitnya tiga kali lipat dari nominal tersebut.
“Kalau profit bisa 10 juta per bulan,” katanya.
Padahal, keuntungan tersebut didapatkan dari penjualan di lingkungan yang tidak besar di wilayah kampungnya. Dengan konsumen yang sedikit, Rima sudah bisa mengelolanya sampai mendapatkan tiga kali lipat dari gaji rata-rata pegawai di perkotaan.
Kepandaian Rima dalam mengelola bisnisnya ini tidak datang secara cuma-cuma. Ia justru menyebut, pelajaran terbesarnya diperoleh dari bangku perkuliahan. Oleh karena itu, lulus sebagai Sarjana Ekonomi, kemudian berjualan ayam penyet, tidak pernah menjadi perjalanan yang sia-sia bagi Rima.
“Kalau ilmu kuliah bisa diterapin atau nggak, ya bisa banget. Aku kan kuliah Jurusan Manajemen ya, Paksu aku Jurusan Akuntansi, benar-benar teraplikasikan,” ujarnya.
“Dari kita hitung HPP (harga pokok penjualan), kelola cash flow, manage karyawan, komunikasi ke customer juga ada ilmunya,” ujar dia menambahkan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














