Kuliah di sebuah Universitas Islam Negeri (UIN) memberi pengalaman “absurd”: diajar oknum seorang dosen yang teramat kanan. Saat mengajar, ia tidak peduli perihal mata kuliah (matkul) apa yang harusnya ia ajarkan pada mahasiswa di UIN.
Ia justru lebih fokus pada upaya indoktrinasi. Menagak para mahasiswa mengharamkan dan mengkafirkan pihak yang yang berseberangan. Puncaknya, saat ujian akhir, si oknum dosen UIN tersebut justru mengujikan praktik wudu yang membuat banyak mahasiswa mendapat nilai C.
Ceramah panjang gara-gara kejadian di depan kelas
Dua semester Iqbal (27) diajar oleh oknum dosen UIN tersebut sejak kuliah pada 2017. Pertemuan pertama terjadi saat Iqbal memasuki semester 3. Lalu berlanjut di semester 5.
Di antara dosen-dosen di fakultas Iqbal di UIN, “dosen kanan”—begitu istilah yang Iqbal pakai—memang paling mencolok secara penampian. Pokoknya paling salafi: jenggot panjang, jubah sepantat, celana cingkrang, dan titik hitam di dahi.
Sebagai orang yang berusaha menjunjung toleransi, Iqbal tidak punya masalah soal itu. Bahkan meskipun momen perkenalan pertama Iqbal dengan dosen kanan tersebut rada wagu bagi Iqbal, ia sebenarnya tetap menghormatinya sebagai seorang pengajar.
“Biasa kan, mahasiswa kalau nunggu dosen datang, nongkrong-nongkrong dulu di depan kelas. Sambil rokok-rokok. Pas nunggu dosen kanan itu, sebelum kami masuk kelas sehabis menyundut rokok ke tanah, kami benar-benar diceramahi panjang lebar,” beber Iqbal, Jumat (27/3/2026).
Dalil-dalil langsung keluar dari lisan si dosen kanan itu menyoal hukum keharaman rokok. Bagi Iqbal, agak aneh rasanya diceramahi di depan kelas hanya karena mereka merokok: sesuatu yang hukumnya saja tidak mutlak sebagaimana hukum babi dan khamr.
Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa: fokus mengharamkan dan mengkafirkan atas nama UIN
Di tahap itu Iqbal sebenarnya masih tidak masalah, meski agak sedikit kesal. Namun, ia mulai berani bahwa cara oknum dosen kanan itu “absurd” adalah ketika perkuliahan sudah berlangsung di kelas.
Mata kuliah (matkul) yang diampu oleh oknum dosen kanan UIN tersebut sebenarnya sangat menarik bagi Iqbal. Di semester 3 mengajar matkul “Pemikiran Tokoh”. Kemudian di semester 5 mengajar “Geopolitik Timur Tengah”. Iqbal lupa apa nama persis matkulnya. Namun, topiknya kira-kira itu.
Masalahnya, si oknum dosen tidak mengajar sesuai matkul: mata kuliah apa, eh yang diajarkan apa. Sebab, sepanjang semester, ia hanya sibuk melakukan indoktrinasi, memaksakan kebenaran versinya agar diikuti oleh mahasiswa di kelasnya.
“Misalnya kita bicara soal tokoh A yang pemikirannya moderat. Sama beliau, langsung dibedah, bagian mana yang sesat. Lalu pembahasan sudah nggak akan lagi soal mata kuliah, tapi akan merembet ke perkara mengharamkan atau mengkafirkan pihak lain yang tidak sepaham dengan beliau,” kata Iqbal.
Kalau kata si oknum dosen UIN itu, pemahaman banyak umat Islam Indonesia yang mayoritas mengikuti ormas Islam hijau harus diluruskan. Harus dikembalikan kepada akidah yang benar berdasarkan teks Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw.
Ia bahkan bilang, posisinya saat mengajar adalah posisi “jihad”. Sebab, baginya, UIN sudah mendekati sesat. Sebagai Universitas Islam, bagi si oknum dosen, harusnya mengimplementasikan Islam (dalam versi dosen tersebut).
Suasana kelas dramatis gara-gara mata kuliah (matkul) si oknum dosen UIN
Suasana kelas tidak pelak menjadi dramatis. Pasalnya, ada beberapa mahasiswa (terutama laki-laki) yang merasa harus “melawan”. Karena mereka merasa tidak nyaman dengan cara mengajar si dosen yang dianggap radikal tersebut. Apalagi, pada masa itu, narasi toleransi dan Islam moderat sedang riuh-riuhnya.
Jika ada mahasiswa yang tetap berpegang pada keyakinan dan pemahaman mereka tentang Islam, maka wajah si oknum dosen UIN itu seketika merah padam. Setelahnya, dengan napas tersengal menahan amarah, si dosen akan makin keras dalam memaksakan kebenaran versinya. Kalau mentok, ia akan memberi label kafir pada mahasiswa tersebut.
“Karena nggak mau ribet, ada pula model mahasiswa yang pura-pura saja menyimak saat mata kuliah beliau. Pura-pura sepakat lah. Cara pikir beliau kan mudah ditebak. Jadi beliau pengin mahasiswa itu sepakat dengan beliau. Kalau beliau mau mengkafirkan pihak lain, kita harus ikut. Kalau mau mengharamkan sesuatu, kita harus ikut mengharamkan,” beber Iqbal.
Jika ada mahasiswa yang seperti itu—sesuai keinginan si oknum dosen kanan—si oknum dosen akan langsung memasang wajah haru. Matanya berkaca-kaca, bibirnya komat-kamit sembari melafal doa.
“Kalau kamu tanya aku ada di posisi mana, ya posisi pura-pura lah. Persetan melawan-melawan, pokoknya yang penting mata kuliah itu nggak ngulang,” ujar Iqbal. “Gara-gara aku mengharamkan sesuatu berbasis ayat-ayat Al-Qur’an, wah beliau langsung menengadahkan tangan, mendoakan keberkahan buatku. Ya aku amin-aminkan lan.”
Ujian akhir semesternya praktik wudu, banyak mahasiswa dapat nilai C
Jika di semester 3 masih banyak mahasiswa yang melawan, di semester 5 situasinya berubah drastis. Justru lebih banyak mahasiswa yang memilih main aman. Kalau merasa muak dengan ceramah si oknum dosen UIN itu, bisa memilih tidur. Kalau ditanya argumen, langsung tegas menjawab “haram” atau “kafir”. Sesederhana itu.
Tapi, yang tidak kalah absurd dari dua semester diajar oleh dosen tersebut, adalah momen saat ujian akhir semester.
Di semester 3 sebagai momen pertama kali mengikuti matkul yang si dosen UIN itu ampu, banyak mahasiswa termasuk Iqbal sendiri yang belajar serius untuk menghadapi ujian akhir semester. Namun, materi ujinya justru berbeda sama sekali dengan mata kuliah: praktik wudu.
“Tapi benar-benar nggak semudah yang dibayangkan. Misi beliau adalah membenarkan cara wudu kami. Jadi praktik wudu yang sempurna adalah versi yang beliau pahami. Alhasil, bagi mahasiswa yang terbiasa wudu ala ormas hijau, sudah pasti salah kaprah di mata beliau,” jelas Iqbal.
Dari cara memerlakukan keran saat sudah ribet. Setelah mengambil air untuk kumur, keran harus dimatikan. Lalu saat hendak ke gerakan lain, baru nyalakan lagi. Setelah ambil air di tangan, matikan lagi. Begitu hingga gerakan terakhir.
Ini belum detail gerakan dari kumur, membasuh wajah, menyesap air ke dalam hidung, membasuh dua tangan, mengusap sebagian kepala, membersihkan telinga, hingga kaki. Semua detailnya sangat berbeda dengan versi si dosen. Tidak pelak jika banyak mahasiswa yang mendapat nilai C.
“Dua semester aku dapat C. Tapi ya untung lah. Karena nilai C nggak harus ngulang,” kata Iqbal.
Situasi praktik wudu itu pun berlangsung dramatis. Sebab, jika ada mahasiswa yang cara wudunya tidak sesuai dengan cara si dosen, maka si dosen akan berkali-kali mengucap “astaghfirullah” sembari mengelus-elus dada. Bahkan juga menyebut, “Salat kamu selama ini tidak sah. Astaghfirullah, kamu harus bertaubat kepada Allah.” Sementara untuk segelintir mahasiswa yang sempurna cara wudunya, maka akan mendapat bonus doa dari si dosen.
Penulis: Miuchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












