Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
29 Maret 2026
A A
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di sebuah Universitas Islam Negeri (UIN) memberi pengalaman “absurd”: diajar oknum seorang dosen yang teramat kanan. Saat mengajar, ia tidak peduli perihal mata kuliah (matkul) apa yang harusnya ia ajarkan pada mahasiswa di UIN. 

Ia justru lebih fokus pada upaya indoktrinasi. Menagak para mahasiswa mengharamkan dan mengkafirkan pihak yang yang berseberangan. Puncaknya, saat ujian akhir, si oknum dosen UIN tersebut justru mengujikan praktik wudu yang membuat banyak mahasiswa mendapat nilai C. 

Ceramah panjang gara-gara kejadian di depan kelas

Dua semester Iqbal (27) diajar oleh oknum dosen UIN tersebut sejak kuliah pada 2017. Pertemuan pertama terjadi saat Iqbal memasuki semester 3. Lalu berlanjut di semester 5. 

Di antara dosen-dosen di fakultas Iqbal di UIN, “dosen kanan”—begitu istilah yang Iqbal pakai—memang paling mencolok secara penampian. Pokoknya paling salafi: jenggot panjang, jubah sepantat, celana cingkrang, dan titik hitam di dahi. 

Sebagai orang yang berusaha menjunjung toleransi, Iqbal tidak punya masalah soal itu. Bahkan meskipun momen perkenalan pertama Iqbal dengan dosen kanan tersebut rada wagu bagi Iqbal, ia sebenarnya tetap menghormatinya sebagai seorang pengajar. 

“Biasa kan, mahasiswa kalau nunggu dosen datang, nongkrong-nongkrong dulu di depan kelas. Sambil rokok-rokok. Pas nunggu dosen kanan itu, sebelum kami masuk kelas sehabis menyundut rokok ke tanah, kami benar-benar diceramahi panjang lebar,” beber Iqbal, Jumat (27/3/2026). 

Dalil-dalil langsung keluar dari lisan si dosen kanan itu menyoal hukum keharaman rokok. Bagi Iqbal, agak aneh rasanya diceramahi di depan kelas hanya karena mereka merokok: sesuatu yang hukumnya saja tidak mutlak sebagaimana hukum babi dan khamr. 

Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa: fokus mengharamkan dan mengkafirkan atas nama UIN

Di tahap itu Iqbal sebenarnya masih tidak masalah, meski agak sedikit kesal. Namun, ia mulai berani bahwa cara oknum dosen kanan itu “absurd” adalah ketika perkuliahan sudah berlangsung di kelas. 

Mata kuliah (matkul) yang diampu oleh oknum dosen kanan UIN tersebut sebenarnya sangat menarik bagi Iqbal. Di semester 3 mengajar matkul “Pemikiran Tokoh”. Kemudian di semester 5 mengajar “Geopolitik Timur Tengah”. Iqbal lupa apa nama persis matkulnya. Namun, topiknya kira-kira itu. 

Masalahnya, si oknum dosen tidak mengajar sesuai matkul: mata kuliah apa, eh yang diajarkan apa. Sebab, sepanjang semester, ia hanya sibuk melakukan indoktrinasi, memaksakan kebenaran versinya agar diikuti oleh mahasiswa di kelasnya. 

“Misalnya kita bicara soal tokoh A yang pemikirannya moderat. Sama beliau, langsung dibedah, bagian mana yang sesat. Lalu pembahasan sudah nggak akan lagi soal mata kuliah, tapi akan merembet ke perkara mengharamkan atau mengkafirkan pihak lain yang tidak sepaham dengan beliau,” kata Iqbal. 

Kalau kata si oknum dosen UIN itu, pemahaman banyak umat Islam Indonesia yang mayoritas mengikuti ormas Islam hijau harus diluruskan. Harus dikembalikan kepada akidah yang benar berdasarkan teks Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. 

Ia bahkan bilang, posisinya saat mengajar adalah posisi “jihad”. Sebab, baginya, UIN sudah mendekati sesat. Sebagai Universitas Islam, bagi si oknum dosen, harusnya mengimplementasikan Islam (dalam versi dosen tersebut). 

Suasana kelas dramatis gara-gara mata kuliah (matkul) si oknum dosen UIN

Suasana kelas tidak pelak menjadi dramatis. Pasalnya, ada beberapa mahasiswa (terutama laki-laki) yang merasa harus “melawan”. Karena mereka merasa tidak nyaman dengan cara mengajar si dosen yang dianggap radikal tersebut. Apalagi, pada masa itu, narasi toleransi dan Islam moderat sedang riuh-riuhnya. 

Iklan

Jika ada mahasiswa yang tetap berpegang pada keyakinan dan pemahaman mereka tentang Islam, maka wajah si oknum dosen UIN itu seketika merah padam. Setelahnya, dengan napas tersengal menahan amarah, si dosen akan makin keras dalam memaksakan kebenaran versinya. Kalau mentok, ia akan memberi label kafir pada mahasiswa tersebut. 

“Karena nggak mau ribet, ada pula model mahasiswa yang pura-pura saja menyimak saat mata kuliah beliau. Pura-pura sepakat lah. Cara pikir beliau kan mudah ditebak. Jadi beliau pengin mahasiswa itu sepakat dengan beliau. Kalau beliau mau mengkafirkan pihak lain, kita harus ikut. Kalau mau mengharamkan sesuatu, kita harus ikut mengharamkan,” beber Iqbal. 

Jika ada mahasiswa yang seperti itu—sesuai keinginan si oknum dosen kanan—si oknum dosen akan langsung memasang wajah haru. Matanya berkaca-kaca, bibirnya komat-kamit sembari melafal doa. 

“Kalau kamu tanya aku ada di posisi mana, ya posisi pura-pura lah. Persetan melawan-melawan, pokoknya yang penting mata kuliah itu nggak ngulang,” ujar Iqbal. “Gara-gara aku mengharamkan sesuatu berbasis ayat-ayat Al-Qur’an, wah beliau langsung menengadahkan tangan, mendoakan keberkahan buatku. Ya aku amin-aminkan lan.”

Ujian akhir semesternya praktik wudu, banyak mahasiswa dapat nilai C

Jika di semester 3 masih  banyak mahasiswa yang melawan, di semester 5 situasinya berubah drastis. Justru lebih banyak mahasiswa yang memilih main aman. Kalau merasa muak dengan ceramah si oknum dosen UIN itu, bisa memilih tidur. Kalau ditanya argumen, langsung tegas menjawab “haram” atau “kafir”. Sesederhana itu. 

Tapi, yang tidak kalah absurd dari dua semester diajar oleh dosen tersebut, adalah momen saat ujian akhir semester. 

Di semester 3 sebagai momen pertama kali mengikuti matkul yang si dosen UIN itu ampu, banyak mahasiswa termasuk Iqbal sendiri yang belajar serius untuk menghadapi ujian akhir semester. Namun, materi ujinya justru berbeda sama sekali dengan mata kuliah: praktik wudu. 

“Tapi benar-benar nggak semudah yang dibayangkan. Misi beliau adalah membenarkan cara wudu kami. Jadi praktik wudu yang sempurna adalah versi yang beliau pahami. Alhasil, bagi mahasiswa yang terbiasa wudu ala ormas hijau, sudah pasti salah kaprah di mata beliau,” jelas Iqbal. 

Dari cara memerlakukan keran saat sudah ribet. Setelah mengambil air untuk kumur, keran harus dimatikan. Lalu saat hendak ke gerakan lain, baru nyalakan lagi. Setelah ambil air di tangan, matikan lagi. Begitu hingga gerakan terakhir. 

Ini belum detail gerakan dari kumur, membasuh wajah, menyesap air ke dalam hidung, membasuh dua tangan, mengusap sebagian kepala, membersihkan telinga, hingga kaki. Semua detailnya sangat berbeda dengan versi si dosen. Tidak pelak jika banyak mahasiswa yang mendapat nilai C. 

“Dua semester aku dapat C. Tapi ya untung lah. Karena nilai C nggak harus ngulang,” kata Iqbal. 

Situasi praktik wudu itu pun berlangsung dramatis. Sebab, jika ada mahasiswa yang cara wudunya tidak sesuai dengan cara si dosen, maka si dosen akan berkali-kali mengucap “astaghfirullah” sembari mengelus-elus dada. Bahkan juga menyebut, “Salat kamu selama ini tidak sah. Astaghfirullah, kamu harus bertaubat kepada Allah.” Sementara untuk segelintir mahasiswa yang sempurna cara wudunya, maka akan mendapat bonus doa dari si dosen. 

Penulis: Miuchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: dosen radikaldosen uinkuliah uinmahasiswa UINmata kuliah uinmatkul uinuin
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO
Edumojok

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO
Edumojok

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman MOJOK.CO
Catatan

Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar

2 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026

Video Terbaru

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.