Program Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) merupakan bentuk kehadiran Pemerintah Kota Jogja dalam memastikan kemudahan akses pendidikan bagi semua orang, tanpa terkecuali.
***
Adil (bukan nama sebenarnya) masih berusia muda dan seharusnya bisa menikmati kehidupan selayaknya anak SMP. Sayang, kehidupan tidak adil kepada Adil. Ia tinggal di pemukiman kumuh yang terletak di bantaran Kali Code Jogja, menempati rumah sepetak bersama beberapa saudara, dan dihadapkan dengan realitas kedua orang tuanya telah berpisah (broken home).
Kalau saja tidak ada yang mengulurkan tangan untuk pendidikannya, Adil rasa bersekolah hanya akan menjadi mimpi untuknya.

(Mojok.co/Shofiatunnisa Azizah)
Diselamatkan dari peliknya kondisi rumah
Berkat bantuan Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, keinginan Adil untuk bersekolah menjadi nyata. Ia bisa memakai seragam SMP dan bergabung bersama teman-teman sebayanya untuk belajar di SMP Taman Dewasa (TD) Jetis.
Setidaknya saat mengenakan seragam sekolah dan berada di ruang kelas, Adil bisa melupakan peliknya kondisi rumahnya. Tidak perlu memikirkan harus berbagi kamar bersama saudara-saudaranya, tidak juga harus mengingat ibu yang menjadi tulang punggung tunggal keluarga setelah perceraian dengan sang ayah.
“Siswa dengan kondisi sulit ini kasihan ketika dilihat langsung, semisal saat survei oleh wali kelas,” kata perwakilan pihak sekolah, Puri, yang menggambarkan kondisi Adil, saat ditemui Mojok, Kamis (12/3/2026).
Perpisahan orang tua, kata Puri, bisa memberi dampak signifikan terhadap siswa. Bahkan tidak lagi mengherankan, orang tua tunggal yang masih memegang hak asuh anak akan meminta nama orang tua lainnya untuk dihapuskan dari data sekolah.
Tidak tanggung-tanggung, ijazah yang untungnya tidak lagi wajib mencantumkan nama ayah. Kalau tidak, sudahlah kehidupan Adil akan semakin runyam.

(Mojok.co/Shofiatunnisa Azizah)
Padahal, Adil baru salah satu. Ia salah satu dari siswa yang harus menerima kondisi pahit kehidupan, tidak peduli bahwa mereka masih anak-anak yang ingin bermain dan belajar. Ini juga dibenarkan oleh Puri, bahwa siswa-siswi di SMP TD Jetis rata-rata berlatar belakang sama dengan Adil. Mereka datang dari keluarga yang mengalami kesulitan finansial dan harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup sehari-hari.
“Sebagian dari keluarga [siswa] tidak mampu dengan pekerjaan tidak tentu, orang tua bercerai, siswa ada yang diasuh oleh kakek, nenek, atau budenya,” terangnya.
Beasiswa yang mengubah kehidupan siswa di Jogja
Menurut Puri, bantuan JPD sangat membantu siswa dan sekolah dalam hal ini. Misal, SMP TD Puri yang menjadi salah satu sekolah dengan siswa penerima manfaat ini merasakan bahwa siswa maupun wali murid tidak perlu risau soal biaya pendidikan bulanan (SPP).

Kemungkinan menunggak biaya pendidikan sampai membengkak, sebab kelonggaran yang diberikan sekolah swasta, pun dihapuskan. Oleh karena itu, Puri menyebut 10 persen dari jumlah siswa di sekolah, yakni 36 dari 329 siswa, menerima bantuan JPD pada tahun ini. Jumlah ini pun bersifat dinamis sesuai dengan verifikasi data penerima manfaat, berdasarkan pengajuan permohonan ke UPT JPD Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Jogja.
“Siswa yang terbantu berkat program JPD sejauh ini lumayan banyak karena daftar penerima tahun sebelumnya dan tahun berjalan kadang berbeda, bisa bertambah ataupun berkurang,” kata Puri.
“Kebanyakan siswa penerima di sekolah kami adalah dari keluarga tidak mampu,” tambahnya menerangkan.
Adapun dana JPD untuk SMP swasta berjumlah Rp2 juta. Penerimaan dana ini dibagi menjadi dua, yaitu biaya satuan pendidikan sebesar Rp1,5 juta dan biaya pribadi Rp500 ribu.
Untuk biaya pribadi disalurkan melalui Kartu Jogja Berprestasi (KJB) masing-masing siswa, sedangkan biaya satuan pendidikan langsung diteruskan kepada pihak sekolah.
Menjamin terwujudnya cita-cita wajib belajar
Program yang telah dilaksanakan sejak 2017 tersebut berhasil menjangkau setidaknya 10.382 penerima manfaat pada tahun lalu, 2025. Total anggaran untuk realisasi ini mencapai Rp11,8 miliar.

Kepala UPT JPD Disdikpora Kota Jogja, Menik Ria Agustiningsih, menyebut penyaluran biaya pada tahun lalu tersebut terbukti sangat membantu bagi siswa yang terkendala biaya.
“Jumlah penerima JPD tahun 2025 sebanyak 10.382 orang dengan total anggaran Rp11,8 miliar. Penerima JPD merasa terbantu dan teringankan biaya pendidikannya,” kata Menik saat dihubungi Mojok, Sabtu (7/3/2026).
Sementara itu, untuk tahun ini, usulan bantuan JPD Keluarga Sasaran Jaminan Perlindungan Sosial (KSJPS) tahap I pada 1-15 Februari 2026 telah diterima sebanyak 4.715 pemohon. Permohonan ini diajukan oleh siswa Jogja, mulai dari jenjang TK sampai SMA/SMK negeri dan swasta.
Menik menjelaskan, beberapa program JPD di antaranya KSJPS dengan sasaran siswa aktif, JPD Covid-19 dengan sasaran peserta didik yang orang tua atau wali asuh meninggal karena pandemi, JPD korban kekerasan untuk siswa yang putus sekolah karena kekerasan, JPD disabilitas, dan JPD perguruan tinggi.
Adapun jumlah JPD KSJPS tahap I tahun 2026 sekitar Rp4,08 miliar akan disalurkan untuk jenjang SD negeri (1.730 siswa) dengan total nominal Rp692 juta, diikuti SMP negeri (705 siswa) dengan total Rp352,5 juta, TK swasta (551 siswa) dengan total alokasi Rp468,35 juta dan SMP swasta (445 siswa) dengan total nominal Rp890 juta.
Penyaluran biaya bantuan JPD ini, kata Menik, merupakan upaya Pemkot Jogja untuk mewujudkan tercapainya wajib belajar minimal 12 tahun sampai dengan jenjang SMA/SMK/sederajat bagi siswa di Jogja. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menjalankan JPD agar mampu mewujudkan cita-cita bersama pendidikan tersebut, agar tidak ada siswa di Jogja yang terhalang biaya dalam bersekolah.
“Pemkot bercita-cita agar penduduk usia sekolah dapat mengakses pendidikan khususnya bagi mereka yang terkendala biaya. Hal ini diharapkan mampu mencapai target program wajib belajar 12 tahun serta tidak ada anak putus sekolah karena masalah biaya,” tandasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Bedah Rumah, Harapan Baru Warga Kota Jogja Memiliki Hunian Layak dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














