Tinggal selama hampir 2 tahun di Jogja, baru Sabtu (13/6/2026) kemarin saya berkesempatan mengunjungi wisata Plunyon Kalikuning, Yogyakarta yang nyatanya hanya 22 menit dari Universitas Islam Indonesia (UII). Namun, pengalaman yang saya nanti-nanti itu sedikit mengecewakan.
Buang ekspektasi kalian soal mendaki di Plunyon Kalikuning
Pertama kali yang saya lakukan sebelum pergi ke Plunyon Kalikuning adalah mencari informasi soal ketinggian yang harus saya naiki. Berdasarkan informasi yang beredar, ketinggiannya mencapai 900-1.100 meter di atas permukaan laut.
Namun sebenarnya, yang perlu diperhatikan justru panjang rute dan waktu yang dibutuhkan untuk trekking. Alih-alih disebut mendaki, jalur Plunyon Kalikuning, Yogyakarta lebih cocok disebut sebagai aktivitas susur sungai.
Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dan dapat ditempuh dalam kurun waktu 1-2 jam. Oleh karena itu, wisata ini lebih cocok digunakan untuk piknik bersama keluarga karena menyajikan pemandangan hutan dan sungai.

Selain itu, area ini juga menyediakan program outbound half-day. Namun, fasilitas tersebut kini sudah rusak dan terbengkalai. Bahkan wisata Watu Gebyok yang menjadi spot favorit pengunjung juga terpaksa ditutup karena banjir, sehingga jalur untuk trekking pun dibatasi.
Jangan lengah terhadap pemandangan Plunyon Kalikuning
Selain pemandangan hutan, sungai, dan wisata Watu Gebyok, salah satu spot di Plunyon Kalikuning, Yogyakarta yang populer adalah dua jembatan kembar. Salah satunya, pernah menjadi lokasi syuting KKN di Desa Penari.
Awalnya, Jembatan Plunyon dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada dekade 1920-an oleh warga, sebagai jalur penghubung untuk menyalurkan hasil bumi mereka dari wilayah Yogyakarta ke daerah sekitar Magelang.
Seiring perkembangan zaman, fungsi jembatan tersebut berubah menjadi destinasi wisata. Pada jembatan pertama dari dekat pintu masuk, pengunjung bakal dimanjakan oleh pemandangan hutan pinus.
Kemudian mereka harus melewati jembatan kedua menuju saluran irigasi sebelum sampai ke tepi sungai air jernih. Dalam perjalanannya, pengunjung harus fokus melihat sekitar termasuk jalan yang dilewati agar tidak terperosok ke gorong-gorong.
Tiket masuk Plunyon Kalikuning sudah mencapai Rp12 ribu
Seiring dengan popularitasnya yang meningkat, tiket wisata Plunyon Kalikuning pun dipatok seharga Rp12 ribu—belum termasuk biaya parkir. Tiket masuk dibuka dari pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Ali, pedagang siomay yang sudah 15 tahun mangkal di dekat gapura wisata Plunyon Kalikuning berujar dulu pengunjung belum dikenakan tiket masuk. Namun kebijakan itu berubah sejak tahun 2016 usai Plunyon Kalikuning mulai dikelola oleh Taman Nasional Gunung merapi (TNGM).
“Katanya sih untuk pemeliharaan dan biaya pengelolaan tempat ini, termasuk perbaikan fasilitas dan kebersihan area. Apalagi waktu Gunung Merapi meletus tahun 2010 itu kan kawasan sini juga kena sampai terbakar,” kata Ali.
Masalahnya, apa yang saya lihat justru berbeda. Saya justru miris melihat fasilitas outbound yang rusak dan tidak ada tanda-tanda perbaikan. Terlebih, saya juga masih menjumpai sampah plastik, jalan kerikil dan licin untuk pejalan kaki, ranting patah hingga daun kering yang tak diurus.
Berbeda dengan wisata Deles Indah, Klaten yang lokasinya tak jauh dari lereng Gunung Merapi, wisata Plunyon Kalikuning, Yogyakarta memiliki sedikit papan informasi untuk sekadar memberitahu pengunjung di titik mana dia sedang berada atau seberapa jauh lagi dia harus berjalan?
Begitu juga soal tanda peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Meskipun di pintu loket terdapat informasi soal peta wisata Plunyon Kalikuning serta beberapa larangan. Jadi, kemana biaya pemeliharaan itu?
“Kalau nggak mau bayar bisa datang pukul 06.00 WIB Kak atau sekitar Rp16.00 WIB waktu penjaganya sudah pulang semua,” kata Ali memberi saran.
Pengunjung yang tak beradab
Lebih dari itu, kekecewaan saya mengunjungi Plunyon, Kalikuning semakin menggebu setelah melihat perilaku pengunjung yang ada di sana. Selain kepadatannya di masa libur, saya jengkel dengan mayoritas pelajar yang berpenampilan Jawa metal alias jamet.
Bukan karena pakaian yang mereka kenakan, melainkan lebih kepada perilaku yang tak mencerminkan siswa terdidik. Terutama saat mereka terang-terangan merokok di tepi sungai, baik laki-laki maupun perempuan.
Belum lagi saat mereka bergerombol dan mengobrol. Lalu, makian demi makian keluar tanpa dikontrol. Saat menuju pintu keluar, saya sempat berpapasan dengan sekelompok pelajar tersebut dan mereka mulai teriak-teriak tidak jelas menirukan suara monyet, sementara teman-temannya tertawa.
“Di atas sana ada teman saya Bu,” kelakarnya tiba-tiba ke arah saya dan lanjut berjalan dari pintu keluar.
Entah apa yang membuatnya lucu, tapi saya merasa risih. Pemandangan alam di kawasan Plunyon Kalikuning itu pada akhirnya harus terkontaminasi dengan potret gagalnya pendidikan kita. Belum lagi, vandalisme yang saya lihat di tengah pemandangan indah.
Udara di Plunyon Kalikuning pun tak lagi segar karena asap dari kegiatan bakar-bakar yang dilakukan ratusan pengunjung. Airnya pun tak lagi jernih dan hampir keruh. Sontak, teman saya mencegah saya untuk cuci muka langsung di sana.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bukit Argobelah: Tempat Terbaik Melihat Pemandangan Gunung Merapi dari Dekat, Tak Sampai Satu Jam dari Jogja Bisa Dapat Ketenangan Batin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan