Selalu ada cara aneh untuk bertahan. Katanya, setiap kali terpikir untuk berhenti, jangan lupa makan. Sebab boleh jadi, seporsi makanan menjadi alasan untuk hidup lebih lama. Inilah yang saya alami di Jogja baru-baru ini, bahwa menemukan takjil khas Kalimantan yang terasa nyaman (enak) di lidah menjadi penguat di perantauan.
Cerita sesama perantau asal Kalimantan
Alkisah, kekuatan ini datang tanpa aba-aba. Pada siang hari yang tidak beralasan, saya menghubungi beberapa teman yang sama-sama berasal dari Kalimantan. Dua orang asal Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, satu lagi dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Intinya adalah kami sama-sama berdarah Banjar—atau hanya asumsi saya, sebab setidaknya kami berbahasa ibu yang sama.
“Apa pernah berburu makanan Kalimantan di Jogja?” tanya saya begitu saja, tidak pakai permisi apalagi basa-basi.
Satu menjawab, “Belum.”
Satu lagi menjawab serupa, “Belum, tapi mau, tapi nggak keburu.”
Yang memberi jawaban ini, dia sudah pergi ke Italia, tepatnya Padova, untuk berkuliah lagi setelah lulus dari UGM. Jadi, wajar kalau menyebut ingin, tapi tidak sempat.
Tersisa satu dari tiga yang belum membalas. Kira-kira keesokan harinya, barulah masuk beberapa pesan yang di antaranya berisi satu gambar kue khas Kalimantan yang sering menjadi takjil saat bulan Ramadan, namanya bingka.
“Ini [bingka] ada di Naskun Gin,” kata Nawalre (25), Kamis (19/2/2026) sore menjelang berbuka.
Masuknya pesan berisi rekomendasi itu, disertai gambar wadai—artinya kue—yang selalu menghiasi meja makan di rumah saat Ramadan membuat saya tidak berpikir panjang untuk memesannya.

Menjemput bingka dari Kalimantan di Jogja
Perlu dua hari untuk saya dapat mencicipi kue bercita rasa manis ini. Sebab, ada sistem pre-order yang diterapkan dalam pembelian.
Maka, pada hari Sabtu (21/2/2026) pukul 16.00 WIB, motor saya melaju ke arah Sinduadi setelah mendapat kabar melalui pesan, “Bingkanya udah ready ya, Kak.”
Sepanjang perjalanan, yang terlintas di pikiran saya adalah skeptisme. Saya pernah mencicipi makanan Banjar di salah satu warung makan yang ada di Jogja. Hasilnya, jauh dari kata memuaskan.
Bukannya menyembuhkan kerinduan saya akan masakan rumah, makanan itu justru membuat saya ingin buru-buru pulang. Menggantikan jejak rasa makanan yang lebih sedap dengan masakan mama.
Sayangnya, tidak bisa.
Ini alasannya, saya mencoba tidak berekspektasi, tetapi diam-diam berharap takjil ini tidak akan mengecewakan. Alasannya bukan hanya karena uang yang dibayarkan untuk membeli bingka (mungkin ini juga), tetapi lebih kepada indera perasa saya yang sudah mengecap membayangkan bisa memakan takjil dari Kalimantan di Jogja.
Untungnya, pengalaman makan ini terasa memuaskan. Berbuka puasa dengan bingka sebagai takjil mengalahkan tiga kali pengalaman saya berpuasa saat Ramadan di Jogja. Makanan-makanan yang pernah dinikmati, dikalahkan dalam satu kali percobaan takjil kue berbentuk seperti bunga ini.
Dengan bagian luar yang sedikit gosong, atau saya sebut well-cooked saja sebagai pemakluman atas rasanya yang otentik, rasa gurih dari bingka semakin kuat menyapa pada gigitan pertama. Tekstur agak padat, tetapi lembut dan berlemak dari kuenya, menyatu dengan rasanya yang legit.
Perpaduan telur, santan, dan adonan lain yang tidak bisa dikenali dengan nama tetap dapat diketahui melalui perasaan “akrab”. Khususnya, saat setiap gigitan mempertemukan rasa kue dan potongan kentang di dalamnya memunculkan kombinasi tekstur dan rasa yang sentimental.
Merindukan makanan rumah, perasaan yang dibagikan para perantau
Perasaan ini, untuk dapat kembali menikmati makanan yang familiar seperti di rumah, bukan hanya pengalaman saya sendiri. Kerinduan semacam ini telah lumrah dan wajar di kalangan para perantau.
Ada Mohamed yang sudah merindukan masakan rumahnya setelah tiga bulan meninggalkan kampung halamannya di Irak ke Minnesota, Amerika Serikat.
“Aku kangen nasi putih pedas masakan mama,” kata Mohamed, seperti dikutip dari VOA. “Aku kangen makanan Irak kesukaanku, nasi biryani.”
Sebastian yang sudah menetap lebih dari setahun di AS menyadari, dia tidak bisa melewatkan satu hari tanpa mengingat makanan rumahan. Ia merasa ingin memakan masakan rumah setiap hari di perantauannya.
Bagi Mohamed, kerinduan ini jadi bagian yang terlupakan saat berada di rumah. Ia tidak berpikir kalau akan merindukan masakan ibunya selagi bisa memakannya langsung, tetapi kemudian disusupi perasaan ingin memakannya lagi ketika sudah jauh dari rumah.
Datang dari nostalgia dan identitas untuk tetap bertahan di Jogja
Kesamaan antara perantau ini lahir dari hubungan mendalam antara makanan dan ingatan. Psikolog, Leigh Matthews, menjelaskan, ini bukan hanya sebagai keinginan untuk makan makanan tertentu, tetapi adanya ikatan emosional terhadap rumah, keakraban, dan identitas.
“Dalam psikologi, ini dikenal sebagai memori episodik, yang merujuk pada kemampuan untuk mengingat peristiwa atau pengalaman spesifik dari masa lalu kita. Makanan berperan dalam ingatan ini karena berkaitan dengan perayaan, bahkan momen biasa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya, dilansir dari Therapy in Barcelona.
Saat menyantap makanan yang telah familiar dengan diri kita, Leigh bilang, bukan hanya rasa lapar yang sedang dipuaskan. Sebenarnya, seseorang justru sedang melakukan perjalanan kembali ke momen yang membuatnya merasa aman, nyaman, dan dicintai.
Dalam cara bertahan hidup di perantauan, perasaan ini dimunculkan melalui nostalgia. Setelah terombang-ambing dalam emosi di tempat yang asing, nostalgia melalui makanan mengembalikan perasaan terhubung dalam identitas asal.
Antropolog, Claude Levi-Strauss, pernah menyebutnya, “Makanan harus baik untuk dipikirkan sekaligus enak untuk dimakan.”
Artinya, makanan menjadi cara memahami dunia dan membentuk diri kita. Makanan yang memberikan kenyamanan secara sentimental plus cita rasa yang sedap menjadi lebih dari sekadar “hidangan” karena peran gandanya, yang bisa jadi juga akan berujung pada makanan yang membuat seseorang bertahan hidup lebih lama, khususnya di tempat yang asing.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Menelusuri Sejarah Takjil Pertama, Berkah Gulai Kambing di Kauman Jogja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














