User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

ilustrasi - terbiasa pakai KA Sancaka, turun dari KA Sri Tanjung langsung prengat-prengut. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Satu-satunya alasan saya naik Kereta Api (KA) ekonomi Sri Tanjung dibandingkan KA eksekutif seperti Sancaka adalah karena murah, mengingat banyaknya undangan pernikahan dari teman-teman yang mengharuskan saya pulang dari Jogja ke Surabaya sehingga saya harus berhemat.

Biasanya, paling tidak, saya akan pulang satu bulan sekali menggunakan KA Sancaka. Meski fasilitasnya tak senyaman kereta eksekutif, kereta api rute Jogja–Banyuwangi ini tak pernah sepi penumpang. Bahkan, tabiat penumpangnya pun macam-macam. Dalam perjalanan pulang-pergi selang sehari, saya sudah mengalami banyak kejadian.

Kebebalan penumpang kereta ekonomi 1

Kejadian seorang penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung yang pindah tempat duduk baru saja saya alami kemarin Sabtu (12/4/2026). Untungnya bukan saya, tapi bangku di sebelah saya. Tepatnya di kursi tegak yang berhadap-hadapan (3-3 orang).

Awalnya, hanya ada satu orang penumpang laki-laki yang duduk di dekat jendela sebelum saya naik dari Stasiun Surabaya Gubeng. Lambat laun, penumpang di kursi itu bertambah jadi 6 orang saat kereta ekonomi Sri Tanjung tiba di Stasiun Jombang. Artinya, kursi dengan nomor 10A-B-C hingga 11A-B-C itu seharusnya sudah penuh.

Beberapa lama kemudian, kereta ekonomi Sri Tanjung tiba di Stasiun Nganjuk. Lalu, ada seorang perempuan yang naik dan membawa tas carrier menuju kursi tersebut. Ia mengaku duduk di kursi 10A. Namun, ada seorang ibu-ibu yang membawa balita dan tak mau mengalah.

“Permisi Bu, ibunya kursi nomor berapa ya?” tanya si perempuan.

“Situ gerbong berapa?” tanyanya dengan nada jutek.

“Gerbong tiga, saya seharusnya duduk di 10A dekat jendela,” jawab perempuan tadi.

Beberapa penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung dengan kursi 10 B, 10 C, hingga 11 C pun ikut menanyai, sampai si perempuan tadi menunjukkan bukti tiketnya yang ada di handphone. Seorang petugas perempuan KAI yang mengantar makanan pun turut menengahi.

Ingin duduk di kursi dekat jendela

Tak lama kemudian, ibu itu pindah bersama anaknya. Tanpa meminta maaf sedikit pun, mereka duduk di kursi belakangnya (nomor 9). Begitu pula laki-laki paruh baya yang sedari tadi duduk di hadapannya. 

Di stasiun berikutnya, seorang penumpang lain yang baru naik menegur salah satunya karena menempati kursinya. Akhirnya, si laki-laki paruh baya pindah lagi ke salah satu kursi deretan nomor 10 ABC. Tempat duduknya tadi. 

Sampai akhirnya, ketiganya turun di Stasiun Madiun. Saat itulah, seorang penumpang perempuan lain yang duduk di kursi 11A mengajak ngobrol si perempuan pembawa tas carrier.

“Sabar ya Mbak, ibu sama bapak tadi kayaknya salah beli tiket jadi pisah gitu tempat duduknya, membelakangi,” ucapnya.

“Iya Bu, makanya saya bingung,” jawab si perempuan.

Kejadian serupa juga pernah saya alami. Misalnya, saya pernah menjumpai penumpang yang menyuruh saya pindah karena ia ingin duduk di kursi dekat jendela. Sudah nadanya tidak sopan, seenaknya pula. 

Saya sendiri tak bisa menjamin tidak akan bertemu penumpang bebal seperti ini di kereta eksekutif Sancaka. Tapi sejauh yang saya amati, saya tak pernah menjumpai penumpang yang minta ganti tempat duduk. 

Ada pun, kita tak perlu debat bersungut-sungut, sebab informasi nomor kursi dan posisi mana yang dekat jendela terpampang jelas di jendela kereta eksekutif Sancaka. Selain itu, kursi Sancaka kelas Eksekutif dan Ekonomi New Generation atau premium bisa diputar. Tak perlu pindah-pindah seperti penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung nomor 10 tadi.

Keegoisan penumpang kereta ekonomi

Tak hanya kursi, penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung juga kerap egois memakan tempat rak bagasi kabin yang berada di atas kursi penumpang. Selain koper besar, biasanya mereka juga membawa tas tenteng maupun kardus Indomie. 

Tentu saja, isinya kadang berbeda. Dan itu semua biasanya diletakkan di atas kursi penumpang lain. Sampai-sampai, penumpang yang seharusnya mendapatkan haknya tak kebagian tempat untuk meletakkan barang miliknya, sehingga biasanya terpaksa ia pangku atau diletakkan di bawah kursi. 

Pada hari yang sama saat saya naik kereta ekonomi Sri Tanjung, hujan deras mengguyur seluruh gerbong kereta. Sampai-sampai, airnya merembes masuk dan membasahi lantai. Beberapa penumpang pun mulai panik, terutama yang meletakkan barang-barangnya di bawah kursi.

Untungnya, saya masih bisa memangku tas berisi laptop di atas kursi, walaupun paha saya terasa lelah karena harus bertahan selama 2 jam. Sementara, ada penumpang yang lebih parah. Seorang bapak-bapak yang baru naik stasiun membawa dua barang besar, entah berisi apa karena dibalut kardus. 

Saat melihat rak bagasi kabin yang sudah penuh di sekelilingnya, bapak itu hanya menghela nafas dan terpaksa meletakkan barangnya di kolong kursi. Karena hujan yang merembes tadi, kardus-kardusnya pun jadi basah tanpa bisa diselamatkan.

“Loh, lantainnya basah!” ucap salah satu penumpang yang mulai panik.

“Barangmu, Pak. Awas!” jawab penumpang lain mengingatkan.

Jangan coba-coba, jika kesabaranmu setipis tisu

Tak pelak, suasana kereta ekonomi Sri Tanjung semakin ramai. Lebih ramai dari yang sebelumnya, saat ibu-ibu mengajak bercengkerama seorang mahasiswa lalu membanggakan anaknya yang sudah lulus, seorang remaja yang melakukan video call atau berselancar di media sosial dengan suara kencang, dan anak-anak yang mulai menangis karena rewel. 

Meski terkesan menyebalkan, suasana hangat itulah yang sebenarnya jarang saya jumpai di kereta eksekutif Sancaka. Namun, jika Anda tidak terbiasa atau punya kepribadian introvert alias capek di keramaian atau saat mengobrol dengan orang baru, saya sarankan Anda naik kereta eksekutif saja. Atau kalau terpaksa, cobalah bersabar dan empati dengan penumpang kereta ekonomi Sri Tanjung.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version