Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Surabaya Setelah Hujan Indah dan Romantis, Tapi Sisi Lain Jadi Penyebab Tangis

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Januari 2026
A A
Sisi lain suasana Surabaya after rain yang dianggap puitis dan romantis: Ada tangis dan lelah yang tersapu hujan MOJOK.CO

Ilustrasi - Sisi lain suasana Surabaya after rain yang dianggap puitis dan romantis: Ada tangis dan lelah yang tersapu hujan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa orang—terutama para perantau—sepakat bahwa Surabaya after rain itu indah dan romantis. Saya sendiri, jujur saja, termasuk salah satu yang berpandangan demikian. Saat masih merantau di sana, saya kerap memacu pelan motor menyusuri jalanan Kota Pahlawan tak lama setelah hujan mereda.

Usai pindah perantauan, saya masih sering kangen dengan suasana hujan atau setelahnya di Surabaya. Aroma jalanan yang masih basah, entah bagaimana, begitu khas di hidung saya. Istri saya dan beberapa teman juga berpendapat serupa.

Belum lagi suasananya. Pendar lampu-lampu kota yang tersiram air langit menjadi visual puitis. Kalau kata teman saya, memutari Surabaya sehabis hujan menjadi lebih puitis sembari mendengar playlist yang terputar melalui audio kecil nirkabel yang tersumpal di dua telinga. Sembari meratapi patah hati, menyelami kesedihan, merayakan cinta yang tengah rekah di hati, atau sekadar meromantisasi nasib dan kesendirian.

Menatap Surabaya after rain dari jendela kamar

Pada penghujung November 2025 lalu, kantor mengutus saya ke Surabaya untuk satu-dua pekerjaan. Ah, saya selalu antusias mendatangi kota itu. Surabaya sedang “puitis-puitisnya” karena hujan.

Saya menginap di sekitaran Gubeng, terhitung masih dalam wilayah jantung kota. Hujan yang turun saban sore hingga malam membuat suasana sekitar amat indah, sebagaimana deskripsi di atas.

Saya menikmatinya dari jendela kamar di lantai 3. Itu kebiasaan saya juga saat dulu masih ngekos di Wonocolo: Memandangi rumah-rumah dan jalanan kampung yang diguyur hujan dari jendela kamar di lantai 2 indekos.

Setelah reda, saya beranjak keluar, menikmati Surabaya after rain, lalu bertemu dengan teman-teman lama. Dan saat itulah saya menyadari sesuatu yang sebenarnya selama ini amat dekat: Sisi lain hujan Kota Pahlawan, ada air mata yang luruh dan tak terlihat tersapu hujan.

Air mata yang tersapu hujan Surabaya

Saya sedang memandangi setiap jengkal jalanan yang saya lalui—untuk nostalgia—ketika tiba-tiba driver ojek online (ojol) yang mengantarkan saya mengumpat. Belum lama hujan reda, belum separuh jalan menuju lokasi tujuan, tiba-tiba hujan mengguyur lagi.

“Kita neduh dulu, Mas, ini deres,” ujar si driver ojol, saya mengiayakan.

“Saya cuma punya mantel satu, mantel plastik, kalau masnya mau terabas, pakai itu,” ucap si driver usai kami berteduh asal di bawah pepohonan rindang.

Saya mengenakan mantel plastik itu. Sementara si driver ojol usia 40-an tahun hanya membungkus ponselnya dengan plastik bening, agar ia tetap bisa memantau rute dari Google Maps.

“Sedih, kesel, diam-diam nangis kalau hujan begini,” ucap si driver ojol tiba-tiba bercerita. “Tapi ya mau gimana lagi, masa kesel sama Tuhan yang menciptakan hujan.”

Katanya, pagi, sore, dan malam adalah jam-jam peak untuk mendapat penumpang. Itu adalah jam-jam orang berangkat kerja, pulang kerja, dan anak berangkat sekolah, pulang sekolah.

Di atas pukul 08.00 pagi sampai menjelang Asar, orderan yang masuk tidak terlalu ramai. Di jam-jam tersebut, driver lebih banyak menunggu di warung-warung kopi, bahkan parkir sembarang untuk sekadar tiduran.

Iklan

“Kalau hujannya siang nggak masalah, tapi kalau sore sampai malam, itu kan awet. Jadinya sedih, banyak kesempatan narik yang hilang karena hujan,” tuturnya.

Menerjang hujan demi uang tambahan

Di sebuah kedai kopi bernuansa vintage, seorang teman lama datang menyibak hujan dengan mantel kelelawar. Wajahnya kuyup.

Ia bekerja sampingan sebagai kurir pesan antar makanan. Sepulang kerja kantor pada pukul 17.00, ia akan mengenakan jaket oranye, lalu siap mengantar pesanan-pesanan makanan yang masuk. Biasanya menjelang tengah malam ia baru pulang.

“Surabaya kalau musim hujan seperti ini bisa tertebak. Pagi-siang panas menyengat, tapi sore-malamnya hujannya awet,” ujarnya usai memesan secangkir kopi susu hangat dan duduk berhadapan dengan saya.

Masalahnya, orderan lebih banyak masuk ke akunnya ketika hujan sedang deras-derasnya. Beberapa kali ia tak mengambil. Tapi lebih sering mengambil karena daripada rezekinya tersendat.

Alhasil, ia harus menerjang hujan. Berdingin-dinginan. Sesekali juga harus melewati titik-titik jalan yang tergenang air. “Beberapa titik masih sama seperti dulu: Kalau hujan deras, pasti menggenang di atas mata kaki,” jelas teman saya itu.

Tapi mau bagaimana lagi. Ia memilih bekerja sampingan bukan karena iseng atau sekadar mengisi waktu. Tapi ia butuh uang tambahan untuk tambahan biaya hidup. Gajinya dari perusahaan di bawah UMR Surabaya, ternyata cukup tak cukup untuk sebulan. Apalagi, meski masih bujang, ia harus ikut membantu mengurus biaya-biaya rumah: Listrik dan lain-lain.

Menertawakan (getir) after rain

Di ujung pertemuan, kami sama-sama menertawakan masa lalu, saat kami sama-sama suka meromantisasi Surabaya after rain. Kata teman saya, memang romantis dan puitis bagi orang-orang yang sekadar memandangnya.

Namun, bagi orang-orang seperti teman saya atau driver ojol yang sebelumnya mengantar—yang berada persis dalam guyuran hujan—ada rekaman nelangsa yang mereka saksikan dari teman-teman serupa: Yang sama-sama menyambung hidup dari jalanan.

Hujan reda lebih sering ketika menjelang tengah malam. Telah lewat jam-jam peak penumpang. Itu tentu mengurangi potensi pendapatan driver ojol jika beroperasi lancar di jam-jam peak tersebut.

Sementara bagi teman saya yang seorang kurir pesan antar makanan, after rain (selepas hujan) di Surabaya menjelang tengah malam, ia akan pulang dengan tubuh terasa remuk. Lelah. Juga menggigil.

“Tapi kan begini. Dulu kita bisa pura-pura sakit biar nggak sekolah. Tapi sekarang, sakit pun kita harus pura-pura sehat biar bisa tetap kerja. Nggak kerja, nggak memeras tenaga, nggak hidup kita,” tutup teman saya.

Lalu kami sama-sama tertawa getir mengenang masa lalu: Menyimpulkan hujan dan suasana after rain di Surabaya begitu indah dinikmati. Ternyata dulu terasa indah hanya karena belum digebuk realita saja.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sendal Japit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2026 oleh

Tags: cuaca surabayadriverl ojolhujan surabayaojolojol surabayaSurabayasurabaya after rain
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Dari driver ojol dari supervisor. Perjalanan Ardi Alam Jabir kejar mimpi kuliah di Teknik Pertambangan UNHAS hingga bisa ke Jepang dan Tiongkok berkat Beasiswa LPDP MOJOK.CO
Kampus

Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor

1 Januari 2026
Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan MOJOK.CO
Esai

Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sendal Japit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya

31 Desember 2025
Sirilus Siko (24). Jadi kurir JNE di Surabaya, dapat beasiswa kuliah kampus swasta, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola amputasi MOJOK.CO
Sosok

Hanya Punya 1 Kaki, Jadi Kurir JNE untuk Hidup Mandiri hingga Bisa Kuliah dan Jadi Atlet Berprestasi

16 Desember 2025
Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak
Tinggalkan Komentar

Terpopuler Sepekan

5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
Risiko ketimpangan sosial di balik gegap gempita wisata Jogja di mata guru besar Sosiologi UGM MOJOK.CO

2 Sisi Koin Wisata Jogja: Ekonomi Berputar, Tapi Ada Risiko Ketimpangan Sosial bagi Warga Lokal dan Masalah yang Terus Berulang

1 Januari 2026
Sisi lain suasana Surabaya after rain yang dianggap puitis dan romantis: Ada tangis dan lelah yang tersapu hujan MOJOK.CO

Surabaya Setelah Hujan Indah dan Romantis, Tapi Sisi Lain Jadi Penyebab Tangis

3 Januari 2026
Liburan di Candi. MOJOK.CO

Kejutan di Awal Tahun 2026 untuk 5 Wisatawan Pertama Taman Wisata Candi

1 Januari 2026
5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 Januari 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026

Video Terbaru

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 Januari 2026
Foto Coip dan Keyakinan Hidup yang Baik-Baik Saja Meski Tidak Viral

Coip dan Keyakinan Hidup yang Baik-Baik Saja Meski Tidak Viral

30 Desember 2025
Toko Buku dan Cara Pelan-Pelan Orang Jatuh Cinta Lagi pada Bacaan

Toko Buku dan Cara Pelan-Pelan Orang Jatuh Cinta Lagi pada Bacaan

28 Desember 2025

Konten Promosi



Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.