Sriwijaya FC adalah klub sepak bola “mainan” politisi yang dikelola selaiknya toko kelontong. Kini mereka hancur lebur. Namun, saya tak pernah malu mengaku pernah “dibaptis” jadi fans mereka.
***
“Ngapain sih buru-buru balik ke rumah?”
“Aku mau nonton Sriwijaya FC main, soalnya nanti jam tiga big match lawan PSMS.”
Tawa pun meledak. Teman-teman saya tidak siap, atau malah menganggap jawaban itu sebagai lelucon. Ada yang menganggapnya bualan, ada juga yang yakin itu cuma akal-akalan agar saya bisa pulang nongkrong lebih awal.
Jawaban itu dianggap absurd karena pada waktu itu, sekitar tahun 2008, ada pandangan miring terhadap Liga Indonesia. Level permainannya dianggap katrok. Selain itu, yang lebih membingungkan lagi bagi mereka: ngapain nonton Sriwijaya FC, kan kita orang Jawa Tengah?
Karena Persiwi begitu katrok, saya memilih “dibaptis” jadi fans Sriwijaya FC
Saya sebenarnya agak malu mengakui hal ini. Namun, harus saya sampaikan secara jujur: ketika masih remaja, kira-kira saat SMP, saya “dibaptis” menjadi fans Sriwijaya FC. Betul, sebuah keputusan yang agak lain.
Akan tetapi, saya punya alasan masuk akal. Di Wonogiri, tempat saya tumbuh besar, sepak bola profesional adalah barang mewah yang hanya mampir lewat televisi. Jangan tanya soal tim lokal. Persiwi Wonogiri, bagi kami, adalah nama yang lebih sering muncul di obrolan bapak-bapak random daripada di klasemen liga nasional.
Kami terbiasa melihat tim lokal itu main di kompetisi tarkam, di lapangan becek, atau sesekali mendengar mereka berlaga di kasta terbawah yang jadwalnya tak menentu. Hingga usia saya menginjak 27 tahun, bahkan saya lebih mengenal Stadion Pringgondani di Wonogiri sebagai lapangan upacara tujuh belasan alih-alih markas Persiwi.
Alhasil, karena tidak punya pahlawan lokal (local heroes), saya memutuskan menjadi “fans musafir”. Saya mencari identitas di luar batas kabupaten. Dan, saat saya duduk di bangku SMP, ada satu nama yang begitu berkilau, begitu gagah, dan begitu layak untuk dipuja: Sriwijaya FC.
Sebagai anak muda yang–saya kudu mengakuinya–glory hunter, saat itu saya melihat Sriwijaya FC bukan sekadar tim. Mereka adalah simbol kesuksesan. Mereka adalah bukti bahwa kalau kamu punya ambisi, kamu bisa mengangkangi dominasi tim-tim besar dari Jawa.
Saya meyakini, memilih Sriwijaya FC sebagai tim jagoan terasa sangat logis bagi anak seusia saya saat itu.
Bayangkan, mereka punya segalanya. Mereka punya Stadion Jakabaring yang saat itu terlihat sangat megah. Mereka punya Keith Kayamba Gumbs, mesin gol yang selebrasi ikoniknya bisa kita rayakan tiap pekan. Mereka punya Zah Rahan, yang dulu pernah saya samakan dengan Juan Roman Riquelme.
Mereka juga punya legenda lokal yang tak kalah ikonik, seperti Ferry Rotinsulu, Charis Yulianto, hingga Mahyadi Panggabean.
“Tim Siluman” selevel PS TNI dan Bhayangkara FC
Sriwijaya FC sebenarnya bukanlah tim dengan identitas akar rumput yang kuat. Mereka, kalau memakai terminologi hari ini, hanyalah “tim siluman” setara PS TNI atau Bhayangkara FC; sebuah tim hasil akuisisi yang tiba-tiba muncul di kasta teratas.
Perjalanan mereka dimulai dari langkah nekat pada tahun 2004. Saat itu, Pemprov Sumatera Selatan “mengimpor” sebuah klub dari Jakarta bernama Persijatim. Langkah ini awalnya dipandang sinis. Banyak yang bilang sepak bola tidak bisa dibeli hanya dengan memindahkan domisili.
Namun, di bawah langit Palembang, “tim instan” itu justru tumbuh menjadi monster yang menakutkan.
Boleh dibilang, Sriwijaya FC sebenarnya adalah sebuah eksperimen sosiopolitik yang sangat ambisius. Mereka dibangun dengan cara “potong kompas”. Mereka tidak lahir dari proses panjang berdarah-darah di kasta bawah, tetapi hasil akuisisi yang dipindah rumahnya ke Palembang. Namun, untuk anak SMP di Wonogiri saat itu, siapa yang peduli soal itu?
Kala itu, saya hanya melihat siapa yang main cantik, itu yang layak dijagokan. Siapa yang angkat piala lebih banyak, itu yang harus dibela.
Raja turnamen yang rekornya belum terpecahkan
Dan di masa saya puber, Sriwijaya FC adalah tim yang paling sering angkat piala. Pada musim 2007-2008, di bawah asuhan Rahmad Darmawan, Laskar Wong Kito tampil menggila. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, mereka menundukkan PSMS Medan untuk mengangkat trofi Liga Indonesia.
Tak puas sampai di situ, mereka juga menyapu bersih gelar Copa Indonesia.
Bagi saya yang saat itu masih sekolah, Sriwijaya adalah bukti bahwa dominasi Jawa bisa diruntuhkan dengan organisasi yang rapi dan ambisi yang terukur.
Mereka adalah tim pertama yang menyandingkan dua gelar paling bergengsi dalam satu musim–sebuah rekor double winner yang membuat nama “Sriwijaya FC” terasa setinggi kejayaan kerajaan pendahulunya.
Setelah tahun emas itu, Sriwijaya FC tidak lantas redup. Mereka mengukuhkan diri sebagai “Raja Turnamen” dengan menjuarai Piala Indonesia tiga kali beruntun (2007, 2008, 2010). Melihat mereka saat itu seperti melihat tim yang punya “mantra” khusus di partai final.
Mereka tidak selalu mendominasi setiap laga, tapi mereka selalu tahu cara untuk menang. Kalau kata anak sekarang, mentalitasnya mirip Real Madrid, lah.
Setelah sempat sedikit menurun, Sriwijaya FC melakukan rebranding kekuatan di musim 2011-2012 di bawah arahan Kas Hartadi. Lini depan mereka adalah mimpi buruk. Duet Keith Kayamba Gumbs yang “tua-tua keladi” dengan Hilton Moreira, bagi saya fans Liverpool, seperti melihat duet SAS (Suarez dan Sturridge).
Ditambah lagi keberadaan Ponaryo Astaman dan Firman Utina di lini tengah, dua jenderal lapangan tengah terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Mereka menjuarai Indonesia Super League (ISL) dengan sangat dominan, mengunci gelar bahkan sebelum liga benar-benar usai.
Sriwijaya FC, tim bola yang dikelola kayak toko kelontong
Sayangnya, beberapa hari lalu, saat hasil pertandingan melawan Adhyaksa FC muncul di notifikasi, saya sempat mengira itu typo. 0-15. Dalam sepak bola profesional, skor seperti ini biasanya hanya terjadi di game FIFA kalau kamu main di level “Amateur” melawan komputer. Tapi ini nyata. Ini terjadi di liga kita.
Kekalahan 0-15 itu adalah sebuah penghinaan. Bukan cuma buat suporter mereka di Palembang, tapi buat saya, anak Wonogiri yang dulu pernah bangga menerikan nama Keith Kayamba di depan TV.
Saya pun langsung bertanya kepada salah satu kawan saya, Rachmat, seorang “akamsi” Palembang yang sejak kecil dididik menjadi die-hard Sriwijaya FC.
Ia menyebut, masalah Sriwijaya FC adalah masalah klasik sepak bola kita: dikelola seperti toko kelontong, bukan institusi olahraga modern. Saat uang ada, semua tampak indah. Pemain bintang didatangkan, bonus mengalir.
“Tapi begitu kran dana seret, entah karena urusan politik atau sponsor yang pergi, hancur lebur itu klub. Klub bola tapi pengelolaannya kayak toko kelontong,” ujarnya saat dihubungi pada Selasa (3/2/2026).
Secara historis, Sriwijaya FC memang bukan klub yang lahir dari rahim kompetisi internal yang berdarah-darah. Sebagaimana “tim siluman” lainnya, ia sempat menjadi “anak kandung kekuasaan”. Ketika Pemprov Sumsel membeli lisensi Persijatim, yang terjadi adalah upaya “pencangkokan” harga diri.
Sepak bola digunakan sebagai alat legitimasi politik yang instan. Efektif secara prestasi, tapi gagal membangun kemandirian ekonomi yang organik.
Rachmat paham betul bahwa sudah jadi rahasia umum kalau Sriwijaya FC cuma “mainan” pejabat. Pada masa kejayaannya, klub ini adalah etalase bagi ambisi daerah. Dana mengalir deras dari konsorsium yang dibentuk karena kedekatan penguasa dengan sektor swasta.
Hal tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai artificial stability. Klub terlihat profesional karena uangnya ada, bukan karena sistem industrinya berjalan.
Ketika sang patron tidak lagi menjabat, atau kepentingan politik bergeser, kran logistik itu tersumbat.
“Namanya juga mainan. Kalau yang mainin udah bosen, atau yang pegang mainan udah ganti tangan, ya dibuang kan,” kata Rachmat dengan nada getir.
Tragedi ini juga mencerminkan kegagalan transformasi menuju perusahaan olahraga modern. Meskipun Sriwijaya adalah tim pertama yang berstatus Perseroan Terbatas (PT) di era ISL, roh pengelolaannya tetap saja tradisional.
Misalnya saja, mereka tidak punya aset fisik mandiri. Stadion Jakabaring adalah milik pemerintah provinsi, bukan klub. Ketika hubungan dengan pemerintah merenggang, klub tidak memiliki jaring pengaman ekonomi.
Mereka tidak punya akademi yang menghasilkan pemain untuk dijual, sehingga setiap musim mereka harus “membakar uang” untuk membeli bintang demi menjaga eksistensi.
Kekalahan 0-15 itu adalah kulminasi dari runtuhnya pondasi rapuh tersebut. Dalam industri yang sehat, kekalahan memalukan biasanya berakar pada masalah teknis. Tapi di sini, ia berakar pada masalah eksistensial.
Pemain yang bertanding tanpa gaji adalah “buruh yang dirampas martabatnya”. Ketika hak dasar tidak terpenuhi, taktik sehebat apa pun akan hancur oleh realitas perut yang kosong.
Itulah bahanya kalau tim bola cuma jadi mainan politisi
Kembali ke sudut pandang saya sebagai anak Wonogiri. Mengapa saya begitu terluka? Karena bagi orang-orang dari daerah “pinggiran” sepak bola seperti saya, tim besar seperti Sriwijaya FC adalah sebuah harapan. Kami ingin percaya bahwa sepak bola kita punya masa depan yang teratur, profesional, dan bisa dibanggakan.
Namun, ketika tim sebesar Sriwijaya FC hancur seperti ini, harapan itu ikut terkikis.
Kita jadi berpikir: kalau tim yang punya stadion internasional dan sejarah juara saja bisa sehancur ini, bagaimana dengan tim lokal saya di Wonogiri? Apakah mereka punya kesempatan untuk tumbuh kalau ekosistem di atasnya saja penuh dengan borok?
Hmmm…
Kekalahan 0-15 ini harusnya menjadi lonceng kematian bagi gaya pengelolaan klub yang hanya mengandalkan “siapa yang berkuasa”. Sepak bola tidak bisa lagi dianggap sebagai mainan politik lima tahunan. Ia adalah industri yang melibatkan keringat pemain dan air mata suporter. Menghancurkan sebuah klub sama saja dengan menghancurkan sepotong memori kolektif dari ribuan orang.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













