Tak bisa dimungkiri, cut off alias memutus hubungan pertemanan dapat menyebabkan luka batin. Namun, pengalaman ini justru menjadi proses pengembangan diri yang berharga. Alih-alih meratapi, kandasnya hubungan dapat menjadi bahan evaluasi di masa depan.
Tragedi cut off usai pertemanan yang berjalan 10 tahun
Hubungan saya dan eks sahabat saya sebetulnya sudah berjalan 10 tahun lebih dan banyak mengalami hubungan jarak jauh atau long-distance friendships. Saya tak memungkiri ada banyak momen bahagia, haru, sedih, bahkan pertengkaran kecil yang sudah kami lewati sebelum kami sama-sama melakukan cut off satu sama lain.
Saking akrabnya, saya pun tahu masalah dia dengan keluarganya. Begitupun sebaliknya. Namun, seiring berjalannya waktu, prioritas hidup kami telah berbeda. Keterbatasan waktu dan jarak membuat hubungan kami semakin renggang.
Beberapa kali kami mencoba berkomunikasi tapi tidak berjalan lancar. Seringnya, kami justru menguliti kesalahan masing-masing. Parahnya, kami adalah dua orang yang keras kepala sehingga tidak ada yang mau saling mengalah.
Sebenarnya, fenomena ini adalah hal yang wajar. Seorang terapis dari Key Counseling Group, Matko Mosunjac berujar pertemanan seseorang dari usia 20-30-an dapat sangat berubah karena suatu alasan.
Alasan utamanya, kata dia, karena kebanyakan orang mengalami fase transisi yang terus berjalan. Fase transisi sangat krusial dalam membentuk jati diri seseorang, terutama soal pencapaian karier maupun impian lainnya.
Saya pun memahami, ternyata nilai-nilai hidup kami sudah tidak lagi berjalan beriringan. Di awal 20-an, kami masih kesulitan menemukan jati diri. Alih-alih saling mendukung, kami malah saling menyela. Tak memahami perasaan satu sama lain.
Perbedaan cara pandang dan prinsip yang makin berubah, akhirnya membuat kami canggung dan diam selama berbulan-bulan. Pada akhirnya, silent treatment yang kami lakukan berujung pada retaknya hubungan kami alias cut off.
Hilangnya empati yang berujung cut off
“Aku sudah memendam masalah ini lama, aku kesal setiap kali aku ajak main kamu nggak pernah bisa. Selama kita berteman, aku sudah banyak memaklumi perilakumu, terutama caramu berkomunikasi dengan seenaknya,” kata eks sahabat saya yang akhirnya jujur dengan perasaannya.
“Aku pun nggak sekali dua kali memberitahu kamu soal hal-hal dasar tentang semua hal dalam hidup, tapi kamu nggak pernah berubah. Mungkin kamu bangga dengan jiwa introvert-mu, tidak peduli, seenaknya sendiri, tapi hidup nggak bisa seperti itu,” lanjutnya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk saling melakukan cut off.
Bukan bermaksud melakukan pembelaan, tapi saya sendiri kurang paham di mana tepatnya perilaku saya yang seenaknya sendiri itu. Padahal, saya pun sudah cukup memaklumi keegoisannya dan berusaha meluangkan waktu untuknya.
Setidaknya, saya pernah satu minggu sekali ke kosannya yang jauh bahkan dalam kondisi hujan-hujanan. Saya pernah menemaninya terbaring di kasur karena sakit, sembari menggarap pekerjaan saya kala malam.
Namun dalam perspektifnya, barangkali upaya yang saya lakukan masih belum ada apa-apanya. Di sisi lain, saya tidak melihat upaya atau timbal balik serupa dari dirinya. Meski begitu, saya tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya.
Keretakan hubungan yang tak bisa diperbaiki
Saya berusaha memahami semua kejadian ini dengan pengetahuan yang pernah saya pelajari di bangku kuliah. Sebelum mengenal istilah cut off, saya pernah belajar soal relationship maintenance atau strategi pemeliharaan hubungan di perkuliahan dulu.
Salah satunya memahami The Triangular Theory of Love dari Robert Sternberg. Singkatnya, Robert membagi tiga komponen cinta yang harus saling dijaga jika hubungan interpersonal kita ingin berkembang dan menguat. Tiga komponen itu yakni, passion (gairah), intimacy (keintiman), dan commitment (komitmen).

Anggap saja passion atau ketertarikan fisik atau individual itu sudah saya hadapi bersama eks sahabat saya, karena kami sudah bertahan 10 tahun lamanya. Dan setelah saya pelajari, ternyata letak kekurangan kami ada di intimacy dan commitment.
Karena faktor jarak dan perubahan nilai tadi, kami tidak dapat jujur satu sama lain, saling menyalahkan, hingga akhirnya menyerah untuk mempertahankan hubungan saat menghadapi masalah yang sudah menumpuk. Ujung-ujungnya, gairah yang pernah kami miliki pun hilang.
Robert menegaskan jika tiga komponen cinta tadi tidak dapat diperbaiki, maka fase hubungan ini telah memasuki fase non-love (tanpa cinta) alias runtuh total. Tanda-tandanya bisa dilihat dari kehancuran emosional total, apatis, dan timbul rasa benci, seperti yang saya dan eks sahabat saya alami.
Cut off: Membantu pengembangan diri
Daripada saling menyakiti, saya dan dia akhirnya sepakat untuk cut off dengan dalih demi kebaikan masing-masing. Saya tidak bisa memungkiri bahwa keputusan ini berdampak besar pada kehidupan saya sehari-hari.
Mirip seperti duka, saya seringkali sedih karena merasa kehilangan support system. Namun, alih-alih larut menyalahkan diri sendiri, saya memilih belajar berwelas asih atau self compassion dalam istilah psikologi.
Dr. Kristin Neff, seorang peneliti psikologi, menjelaskan bentuk welas asih bisa dilakukan dengan cara tidak menghakimi diri sendiri, serta mengakui bahwa penderitaan dan ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia.
Pada akhirnya, pengalaman tersebut juga berguna untuk pengembangan diri saya. Tedeschi dan Calhoun dalam penelitiannya, Post-Traumatic Growth (PTG) berujar peristiwa traumatis dapat membentuk perubahan positif dalam diri.
Oleh karena itu, saya dapat mengevaluasi kembali, apa yang sebenarnya saya cari dalam sebuah hubungan pertemanan. Pengalaman cut off kemarin membantu saya menetapkan standar dan batasan (boundaries) yang lebih sehat dalam hubungan baru di masa depan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: 5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan