Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Juli 2026
A A
cut off pertemanan. MOJOK.CO

ilustrasi - Drama Korea You and Everything Else. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak bisa dimungkiri, cut off alias memutus hubungan pertemanan dapat menyebabkan luka batin. Namun, pengalaman ini justru menjadi proses pengembangan diri yang berharga. Alih-alih meratapi, kandasnya hubungan dapat menjadi bahan evaluasi di masa depan.

Tragedi cut off usai pertemanan yang berjalan 10 tahun

Hubungan saya dan eks sahabat saya sebetulnya sudah berjalan 10 tahun lebih dan banyak mengalami hubungan jarak jauh atau long-distance friendships. Saya tak memungkiri ada banyak momen bahagia, haru, sedih, bahkan pertengkaran kecil yang sudah kami lewati sebelum kami sama-sama melakukan cut off satu sama lain.

Saking akrabnya, saya pun tahu masalah dia dengan keluarganya. Begitupun sebaliknya. Namun, seiring berjalannya waktu, prioritas hidup kami telah berbeda. Keterbatasan waktu dan jarak membuat hubungan kami semakin renggang.

Beberapa kali kami mencoba berkomunikasi tapi tidak berjalan lancar. Seringnya, kami justru menguliti kesalahan masing-masing. Parahnya, kami adalah dua orang yang keras kepala sehingga tidak ada yang mau saling mengalah.

Sebenarnya, fenomena ini adalah hal yang wajar. Seorang terapis dari Key Counseling Group, Matko Mosunjac berujar pertemanan seseorang dari usia 20-30-an dapat sangat berubah karena suatu alasan. 

Alasan utamanya, kata dia, karena kebanyakan orang mengalami fase transisi yang terus berjalan. Fase transisi sangat krusial dalam membentuk jati diri seseorang, terutama soal pencapaian karier maupun impian lainnya. 

Saya pun memahami, ternyata nilai-nilai hidup kami sudah tidak lagi berjalan beriringan. Di awal 20-an, kami masih kesulitan menemukan jati diri. Alih-alih saling mendukung, kami malah saling menyela. Tak memahami perasaan satu sama lain. 

Perbedaan cara pandang dan prinsip yang makin berubah, akhirnya membuat kami canggung dan diam selama berbulan-bulan. Pada akhirnya, silent treatment yang kami lakukan berujung pada retaknya hubungan kami alias cut off.

Hilangnya empati yang berujung cut off

“Aku sudah memendam masalah ini lama, aku kesal setiap kali aku ajak main kamu nggak pernah bisa. Selama kita berteman, aku sudah banyak memaklumi perilakumu, terutama caramu berkomunikasi dengan seenaknya,” kata eks sahabat saya yang akhirnya jujur dengan perasaannya.

“Aku pun nggak sekali dua kali memberitahu kamu soal hal-hal dasar tentang semua hal dalam hidup, tapi kamu nggak pernah berubah. Mungkin  kamu bangga dengan jiwa introvert-mu, tidak peduli, seenaknya sendiri, tapi hidup nggak bisa seperti itu,” lanjutnya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk saling melakukan cut off. 

Bukan bermaksud melakukan pembelaan, tapi saya sendiri kurang paham di mana tepatnya perilaku saya yang seenaknya sendiri itu. Padahal, saya pun sudah cukup memaklumi keegoisannya dan berusaha meluangkan waktu untuknya. 

Setidaknya, saya pernah satu minggu sekali ke kosannya yang jauh bahkan dalam kondisi hujan-hujanan. Saya pernah menemaninya terbaring di kasur karena sakit, sembari menggarap pekerjaan saya kala malam. 

Namun dalam perspektifnya, barangkali upaya yang saya lakukan masih belum ada apa-apanya. Di sisi lain, saya tidak melihat upaya atau timbal balik serupa dari dirinya. Meski begitu, saya tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya.

Keretakan hubungan yang tak bisa diperbaiki

Saya berusaha memahami semua kejadian ini dengan pengetahuan yang pernah saya pelajari di bangku kuliah. Sebelum mengenal istilah cut off, saya pernah belajar soal relationship maintenance atau strategi pemeliharaan hubungan di perkuliahan dulu. 

Iklan

Salah satunya memahami The Triangular Theory of Love dari Robert Sternberg. Singkatnya, Robert membagi tiga komponen cinta yang harus saling dijaga jika hubungan interpersonal kita ingin berkembang dan menguat. Tiga komponen itu yakni, passion (gairah), intimacy (keintiman), dan commitment (komitmen). 

Triangular Theory of Love. MOJOK.CO
Triangular Theory of Love/ Foto: Glamour UK.

Anggap saja passion atau ketertarikan fisik atau individual itu sudah saya hadapi bersama eks sahabat saya, karena kami sudah bertahan 10 tahun lamanya. Dan setelah saya pelajari, ternyata letak kekurangan kami ada di intimacy dan commitment. 

Karena faktor jarak dan perubahan nilai tadi, kami tidak dapat jujur satu sama lain, saling menyalahkan, hingga akhirnya menyerah untuk mempertahankan hubungan saat menghadapi masalah yang sudah menumpuk. Ujung-ujungnya, gairah yang pernah kami miliki pun hilang. 

Robert menegaskan jika tiga komponen cinta tadi tidak dapat diperbaiki, maka fase hubungan ini telah memasuki fase non-love (tanpa cinta) alias runtuh total. Tanda-tandanya bisa dilihat dari kehancuran emosional total, apatis, dan timbul rasa benci, seperti yang saya dan eks sahabat saya alami.

Cut off: Membantu pengembangan diri

Daripada saling menyakiti, saya dan dia akhirnya sepakat untuk cut off dengan dalih demi kebaikan masing-masing. Saya tidak bisa memungkiri bahwa keputusan ini berdampak besar pada kehidupan saya sehari-hari. 

Mirip seperti duka, saya seringkali sedih karena merasa kehilangan support system. Namun, alih-alih larut menyalahkan diri sendiri, saya memilih belajar berwelas asih atau self compassion dalam istilah psikologi. 

Dr. Kristin Neff, seorang peneliti psikologi, menjelaskan bentuk welas asih bisa dilakukan dengan cara tidak menghakimi diri sendiri, serta mengakui bahwa penderitaan dan ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia. 

Pada akhirnya, pengalaman tersebut juga berguna untuk pengembangan diri saya. Tedeschi dan Calhoun dalam penelitiannya, Post-Traumatic Growth (PTG) berujar peristiwa traumatis dapat membentuk perubahan positif dalam diri.

Oleh karena itu, saya dapat mengevaluasi kembali, apa yang sebenarnya saya cari dalam sebuah hubungan pertemanan. Pengalaman cut off kemarin membantu saya menetapkan standar dan batasan (boundaries) yang lebih sehat dalam hubungan baru di masa depan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: 5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: cara memperbaiki hubungancut offcut off pertemanandrama pertemananpertemanan dewasaputus hubungan pertemanansolusi hadapi cut off
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Drakor berjudul "You and Everything Else" menceritakan pemutusan (cut off) persahabatan. MOJOK.CO
Catatan

Memahami Alasan Orang Memutus (Cut off) Hubungan Persahabatan agar Hidupnya Bahagia

23 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.