Menurut keyakinan saya, sate taichan adalah makanan paling nanggung. Tidak terlalu buruk di lidah, tapi juga jauh dari kesan enak.
***
Buat kalian yang hobi jalan-jalan, rasanya ada yang kurang kalau mampir ke kota orang, tapi tidak mencoba makanan khasnya. Itu sudah menjadi semacam “ritual” wajib yang harus dilakukan.
Namun, cerita jadi agak antiklimaks ketika saya sedang ada urusan pekerjaan di Jakarta dan harus menginap di kawasan Senayan. Kita semua tahu, ini adalah kawasan elite. Isinya kalau nggak gedung perkantoran tinggi, ya mal-mal mewah.
Orang-orang di sini kelihatannya selalu sibuk dengan urusan kantor. Tipe-tipe masyarakat urban pada umumnya. Gara-gara lingkungan yang model begini, saya justru kesulitan buat menemukan makanan yang benar-benar khas.
Padahal, dari jauh-jauh hari saya sudah semangat membuat daftar kuliner apa saja yang wajib dicoba. Sialnya, pas sampai lokasi, realitanya beda. Kuliner-kuliner yang ada di daftar itu susahnya minta ampun buat ditemuin di tengah kawasan elite Senayan.
Sate taichan makana wajib para pekerja di Senayan
Di tengah kebingungan itu, seorang rekan kantor memberikan sebuah petunjuk. Ia meminta saya mencicipi kuliner yang, konon, sangat identik dengan para pekerja Jakarta, khususnya mereka yang mencari nafkah di Senayan: sate taichan.
Awalnya, kening saya berkerut. Saya tak begitu mengerti mengapa sate jenis ini bisa menjadi kudapan yang begitu populer dan dipuja di kawasan ini.
Namun, jika sejenak membaca beberapa cerita di internet, popularitas ini memiliki akar sejarah yang unik. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca sekilas, kemunculan sate taichan konon berawal dari sebuah ketidaksengajaan–atau lebih tepatnya, permintaan spesifik–di warung sate Madura Pak Amir di kawasan Senayan, Jakarta, sekitar rentang tahun 2014 hingga 2016.
Alkisah, ada seorang pelanggan ekspatriat–disebut-sebut berasal dari Jepang atau Korea Selatan–yang memiliki preferensi rasa berbeda. Pelanggan tersebut tidak menyukai bumbu kacang yang pekat dan meminta sate polos.
Ia meminta daging yang hanya dibumbui garam, jeruk nipis (atau limau), lalu disantap begitu saja dengan sambal pedas. Interaksi budaya terjadi di sini.
Nama “taichan” sendiri muncul dari sebutan akrab pelanggan tersebut kepada sang penjual, yang kemudian menjadi viral dari mulut ke mulut, hingga berkembang dengan berbagai variasi yang kita kenal kini.
Dari sebuah permintaan sederhana di warung tenda, ia bertransformasi menjadi ikon kuliner malam anak-anak muda Jakarta Selatan.
Penelusuran ke gang sempit
Berbekal rasa penasaran dan deskripsi seorang kawan yang menyebut “sate taichan itu kayak telanjang” karena bentuknya yang polos, saya membulatkan tekad. Pada Senin (19/1/2026) malam, misi pencarian itu dimulai.
Mencari sate taichan di Senayan ternyata semudah menemukan kedai kopi di setiap tikungan Jakarta. Kuliner ini tak sulit dijumpai; mulai dari pedagang kaki lima, warung tenda yang riuh dengan asap pembakaran, hingga masuk ke dalam menu rumah makan besar.
Ia ada di mana-mana, seolah menjadi menu wajib bagi warga urban Senayan.
Namun, saya tidak ingin sembarangan. Saya memutuskan makan di tempat yang konon paling kondang di Senayan, sebuah lokasi yang menjadi jujugan utama para karyawan kantoran melepas penat sepulang kerja.
Lokasinya cukup mengejutkan. Alih-alih berada di dalam gedung berpendingin udara, tempat ini berada di sebuah gang sempit dekat Universitas Prof. Dr. Moestopo.
Suasananya amat kontras dari “Senayan Pusat” yang dipenuhi gemerlap lampu LED gedung bertingkat. Di sini, di gang yang mungkin lebarnya hanya cukup untuk satu mobil, denyut kehidupan kuliner malam justru terasa lebih hidup dan merakyat. Asap pembakaran mengepul, bercampur dengan suara obrolan para pekerja.
Pertemuan dengan “sate telanjang”
Setelah mengantre dan memesan satu porsi, momen pembuktian pun tiba. Piring disajikan di hadapan saya.
Hal pertama yang terlintas di benak saya saat melihatnya adalah: kawan saya benar, sate ini “benar-benar telanjang”.
Sebagai pecinta sate ayam konvensional–yang terbiasa dengan daging bakar berbalut bumbu kacang–saya merasa aneh melihat sate taichan. Penampilannya menabrak pakem sate yang selama ini tersimpan dalam memori kepala saya.
Di atas piring itu, cuma ada daging potongan dadu yang ditusuk, kemudian dibakar tipis-tipis. Proses pembakaran yang minimalis ini membuat warnanya tetap putih pucat.
Tidak ada jejak gosong yang biasanya memberikan aroma smoky. Sekilas, tampilannya bahkan masih terlihat setengah matang.
Ia tidak sendirian di piring itu. Pendampingnya pun tak kalah minimalis. Sate ini disajikan bersama bumbu cabai medok yang dihaluskan dan diberi sedikit air, taburan bawang goreng, serta sejumput bubuk putih yang saya yakini sebagai totole alias kaldu jamur.
Bagi saya, secara rupa, hidangan ini tak terlalu menggoda untuk disantap. Ada kesan dingin dan pucat yang memancar dari tusukan-tusukan daging itu. Namun, aroma cabai yang menyengat hidung seolah menantang saya untuk segera mencobanya.
Rasa sate taichan bikin bingung
Saya adalah pecinta makanan pedas. Namun, definisi pedas bagi saya adalah yang normal-normal saja. Pedas yang masih bisa dinikmati tanpa harus merusak struktur lidah atau bikin mati saraf pengecap.
Sialnya, ketika mencicipi sate taichan ini, keyakinan saya goyah. Menurut keyakinan saya, ia bukan pedas yang bisa dinikmati.
Suapan pertama masuk ke mulut. Kesan saya langsung dibuat tak berselera.
Daging ayam yang juicy tapi tawar itu bertabrakan dengan hantaman pedas yang brutal. Rasanya cuma seperti makan cabai tanpa diberi bumbu tambahan yang berarti, bahkan terasa kurang garam. Pedas, itu saja.
Tidak ada layer rasa lain yang menyertainya. Tidak ada manis, tidak ada gurih, hanya rasa pedas yang “nggak ngotak”.
Pada gigitan-gigitan berikutnya, saya mencoba mencari sisi positifnya, berharap menemukan “harta karun” rasa yang tersembunyi. Namun, kesannya masih sama. Rasanya cuma seperti makan daging sambil lalap cabai mentah. Kesederhanaan yang ditawarkan sate ini, bagi lidah saya, justru terasa sebagai kekosongan.
Kekecewaan itu memuncak hingga saya tak bisa menghabiskan porsi yang berisi 10 tusuk sate ini. Piring itu masih menyisakan beberapa tusuk sate pucat yang terlihat menyedihkan.
Anomali lidah Senayan
Duduk di tengah keramaian pengunjung yang tampak lahap menyantap tusuk demi tusuk, saya mulai meragukan diri sendiri. Saya jadi merasa, apakah saya salah tempat makan, sehingga tak menemukan sate taichan yang enak?
Segera saya mengeluarkan ponsel dan mengecek ulasan. Begitu melihat ulasan Google, mata saya terbelalak.
Tempat makan ini punya rating bintang 4,5 dari 5 dengan ratusan ulasan positif. Pujian bertebaran di kolom komentar. Ada yang mengklaim ini adalah sate taichan terenak di Senayan, ada yang mengaku sudah menjadi langganan tetap tiap pulang kantor, bahkan ada yang menyebut belum afdol rasanya ke Jakarta kalau belum makan di sini.
Memang, saya menemukan beberapa ulasan negatif. Namun, keluhan mereka berkutat pada hal-hal teknis, non-rasa. Seperti pelayanan yang lama, tekstur daging yang agak keras, hingga porsi lontong yang dianggap terlalu sedikit.
Anehnya, soal rasanya yang menurut keyakinan saya agak “kureng”–yang cuma menawarkan sensasi cabai tanpa kedalaman rasa–sama sekali tidak dibahas oleh para pemberi ulasan buruk tersebut. Alias, mereka sama sekali tak mempermasalahkan rasa yang bagi saya hambar dan pedas menyakitkan itu.
Di titik ini, saya mulai merasa aneh dengan lidah anak-anak Senayan. Apakah tekanan pekerjaan dan hiruk-pikuk kehidupan metropolitan membuat standar rasa bergeser? Apakah sensasi pedas yang ekstrem menjadi satu-satunya cara untuk “membangunkan” lidah yang lelah setelah seharian bekerja di ruang ber-AC?
Malam itu di Senayan, saya belajar bahwa selera memang tidak bisa diperdebatkan, tapi sangat mungkin dipertanyakan.
Menurut keyakinan saya, sate taichan adalah makanan paling nanggung. Ia berada di posisi tengah: tidak terlalu buruk di lidah hingga membuat mual, tapi juga jauh dari kesan enak yang bikin rindu.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
