Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa

Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Kota Sampit terdengar seperti kawasan antah berantah. Jauh dari kemajuan. Namun, nyatanya, kota ini malah lebih maju kalau dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten di Jawa.

***

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa, saya harus mengakui satu dosa besar. Saat masih SMA, saya punya bias Jawa-sentris yang lumayan parah. 

Di kepala saya, saat itu–dan mungkin juga di kepala jutaan orang Jawa lainnya–standard kemajuan sebuah kota itu diukur dari seberapa mirip kota tersebut dengan Jakarta, Surabaya, atau minimal Jogja.

Kalau bicara soal kota-kota di luar Pulau Jawa, apalagi Kalimantan, bayangan yang otomatis terputar di otak saya sangatlah klise. Kalau bukan ibu kota provinsi seperti Balikpapan atau Pontianak, pasti isinya cuma hamparan hutan belantara, perkebunan sawit, jalanan tanah berlumpur, dan sungai-sungai tempat habitat hewan liar. 

Apalagi dulu saya pernah menonton film monster ular anaconda yang berlatar di Kalimantan.

Pendeknya, saya dulu menganggap kota-kota kabupaten di luar Jawa itu antah-berantah. Tertinggal dan sepi.

Saya sempat menganggap Sampit sebagai kawasan yang jauh dari kemajuan

Bias ini makin parah kalau mendengar nama Kota Sampit. Jujur saja, ingatan saya soal Sampit seperti membeku di tahun 2001. Tragedi kelam masa lalu itu meninggalkan trauma kolektif yang sangat kuat. 

Karena bayang-bayang sejarah berdarah itu, saya tidak pernah tertarik untuk mengulik, mencari tahu, apalagi membayangkan seperti apa wajah Kota Sampit hari ini. Di benak saya, kota itu pasti masih suram dan jauh dari kata modern.

Saat masuk kuliah pun, saya juga berkenalan dengan para mahasiswa asal Kalimantan. Mereka juga bercerita betapa tertinggalnya daerah asal mereka. Tak heran, kalau mendengar kata “Sampit” pun, pandangan saya kurang lebih sama dengan saat mendengar kota-kota pelosok lain.

Sampai akhirnya, ketidaktahuan saya itu ditampar dengan telak oleh seorang anak baru di kantor. Namanya Shofi. Saat masa perkenalan, ia menyebutkan asal daerahnya: Sampit, Kalimantan Tengah. 

Awalnya, saya menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Saya hanya membatin, “Wah, jauh juga ya dari pedalaman Kalimantan merantau ke sini.” 

Namun, seiring berjalannya waktu, obrolan-obrolan kasual di jam istirahat kantor pelan-pelan meruntuhkan semua asumsi bodoh di kepala saya. Shofi bercerita tentang kotanya dengan sangat biasa, tapi efeknya bagi saya luar biasa.

Sampit punya bandara sendiri. Fakta yang baru saya ketahui di usia 28.

Tamparan pertama datang saat menjelang libur panjang. Teman-teman kantor saling bertanya soal rencana mudik

Saya iseng bertanya kepada Shofi, “Kamu kalau mudik ke Sampit rutenya gimana, Shof? Terbang ke Palangka Raya dulu, terus nyambung jalan darat berapa jam melewati hutan?”

Shofi menjawab dengan tertawa. “Ya nggak gitu dong, Mas. Aku terbang langsung dari Surabaya, turunnya ya di Sampit. Kan kita punya bandara sendiri.”

Saya langsung terdiam. Pas saya cek di Google, benar: Bandara H. Asan Sampit, namanya. Ternyata kota yang saya anggap antah-berantah ini punya bandara dengan rute penerbangan langsung ke Semarang dan Surabaya. Mobilitas warganya sekelas warga kota besar. 

Di titik ini, saya mulai membandingkan dengan kampung halaman saya dan beberapa kabupaten lain di Jawa. Boro-boro punya bandara, warga kabupaten seperti Wonogiri, Pacitan, atau Grobogan saja kalau mau naik pesawat harus rela menempuh perjalanan darat berjam-jam ke Solo, Jogja, atau Semarang.

Tongkrongan hidup di kota ini

Tamparan kedua jauh lebih keras, kali ini menyangkut gaya hidup. Suatu hari, kami membahas soal film yang sedang tayang di bioskop. Saya penasaran, bagaimana masa muda Shofi dihabiskan di Sampit. 

“Dulu sebelum merantau, kalau weekend hiburan di sana apa, Shof?” tanya saya dengan nada bercanda tapi sebenarnya penasaran. Sebab, saya membayangkan Kota Sampit ini terisolir, jauh dari mana-mana.

Lagi-lagi Shofi menjawab santai. “Ya ke mall lah, Mas.” Saya terdiam seketika.

Ternyata, di sana ada memang ada mall. Citimall Sampit, namanya. Kalau mau nonton, di mal itu ada Cinepolis. Kalau mau makan cepat saji, franchise terkenal juga lengkap.

Jawaban itu benar-benar bikin saya merasa seperti katak dalam tempurung. Sebuah kota di Kalimantan yang selama ini saya anggap hanya berisi hutan sawit dan sungai yang dipenuhi hewan liar, ternyata punya pusat perbelanjaan modern lengkap dengan bioskop jaringan nasional. 

Sekali lagi, ini menampar asumsi yang menyebut bahwa kabupaten-kabupaten di Jawa lebih maju. Berapa banyak kabupaten pinggiran di Jawa, sih, yang sampai detik ini belum punya bioskop modern? Banyak sekali. 

Warga daerah di Jawa sering kali harus menyeberang ke kota tetangga hanya untuk sekadar menonton film rilisan terbaru. Sementara Shofi dan warga Sampit lainnya bisa menikmati fasilitas hiburan urban itu di kotanya sendiri.

Rasa penasaran yang bercampur rasa malu membuat saya diam-diam membuka laptop dan mulai mencari informasi di internet. Saya ingin mencari tahu, apa sebenarnya yang membuat Sampit begitu maju dan hidup.

Kota Sampit kaya! UMR-nya jauh melampau rata-rata kabupaten di Jawa

Fakta dari Badan Pusat Statistik (BPS) langsung menjawab pertanyaan saya. Ternyata, Kabupaten Kotawaringin Timur (dengan Sampit sebagai ibu kotanya) bukanlah daerah sembarangan. Daerah ini adalah penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar se-Provinsi Kalimantan Tengah.

Kontribusi ekonomi Sampit menyentuh angka sekitar 17 persen. Hebatnya, angka ini konsisten mengalahkan Kota Palangka Raya yang notabene adalah ibu kota provinsi (yang kontribusinya berada di kisaran 11 persen). Dalam bahasa yang lebih sederhana: perputaran uang di Sampit itu luar biasa masif.

Status sebagai raksasa ekonomi ini tidak datang dari langit. Sampit adalah urat nadi perdagangan. Kota ini ditopang oleh pesatnya sektor perkebunan kelapa sawit, industri pengolahan, dan yang paling krusial: Pelabuhan Mentaya. 

Pelabuhan ini sangat sibuk dengan aktivitas bongkar muat barang yang menyuplai kebutuhan banyak daerah di Kalimantan Tengah.

Berkat putaran uang dari pelabuhan dan kebun sawit yang masif, standar upah di sana ikut terkerek naik. UMK Kotawaringin Timur tembus di angka Rp3,3 juta. Angka ini lebih besar dari UMR kabupaten-kabupaten di Jawa, yang rata-rata masih berada di kisaran dua jutaan.

Fakta besaran upah inilah yang melegitimasi mengapa warga Sampit punya daya beli tinggi untuk menghidupi mal, bioskop, dan gaya hidup urban lainnya.

Sampit hari ini bukanlah kota yang terjebak dalam memori kelam tahun 2001. Mereka sudah lama berbenah, membangun ekonomi, dan menjelma menjadi kota dagang yang sibuk dengan fasilitas metropolitan mini. Justru kita, orang-orang dengan bias Jawa-sentris inilah, yang ternyata masih tertinggal dan terjebak di masa lalu akibat kurang piknik dan kurang banyak membaca.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version