Hari ini, bermodal pandai merangkai kata di depan video YouTube atau TikTok, seseorang sudah bisa dengan percaya diri melabeli dirinya sebagai pundit sepak bola. Ambang batas yang kelewat rendah ini akhirnya melahirkan ekosistem diskusi yang sangat bising.
Ketika semua orang berebut views dan perhatian algoritma, kedalaman analisis perlahan dikesampingkan demi mencari jalan pintas berupa kontroversi.
Buntutnya, dunia perpunditan nasional kita belakangan malah lebih mirip tayangan infotainmen. Huru-hara dan drama sindir-menyindir urusan personal antar-pundit sering kali lebih laku keras ketimbang perdebatan adu kapasitas ball-knowledge di atas lapangan.
Memang, secara tertulis tidak pernah ada standard baku soal siapa yang sah menyandang gelar pundit. Ada kelompok yang meyakini bahwa gelar itu eksklusif hanya untuk mantan pemain, mantan pelatih, atau minimal jurnalis olahraga yang turun langsung ke lapangan.
Namun, realitasnya, panggung pundit Indonesia hari ini justru dikuasai oleh mereka yang berangkat dari luar garis tersebut.
Beda mazhab soal pundit favorit
Dalam obrolan di tongkrongan, standard kepunditan ini sering memicu perdebatan seru. Kawan saya, Vito, seorang pekerja di sebuah hotel mewah di kawasan Sleman, secara terbuka mengaku lebih menyukai gaya Justinus Lhaksana.
Bagi Vito, terlepas dari argumennya yang kadang dinilai ngawur atau sekadar mencari sensasi, Coach Justin adalah “pelopor”. Ia sosok yang harus diakui telah “membuka jalan” bagi industri kepunditan di Indonesia hingga para pundit lain bisa ikut mencari makan dan mejeng di ruang publik.
Sementara itu, kawan saya yang lain, Deri, punya aliran berbeda. Bagi Deri, pundit yang sebenar-benarnya adalah para komentator sepak bola di era awal 2000-an.
Nama-nama seperti Bung Kusnaeni, Anton Sanjoyo, Weshley Hutagalung, Gita Suwondo, hingga Tommy Welly alias Towel di masa jayanya adalah panutan. Saat media sosial belum sekencang sekarang, mereka sudah melakukan riset mendalam dan benar-benar hidup dari ekosistem sepak bola.
Pundit yang baik adalah mereka yang menulis
Mendengar perdebatan mereka, saya sebagai orang yang tumbuh besar dengan membaca Tabloid BOLA dan Soccer, punya standard sendiri. Bagi saya, pundit sejati adalah mereka yang menulis.
Menulis bukanlah perkara bersilat lidah secara spontan. Menulis, menuntut seseorang untuk mengumpulkan bahan, melakukan riset, dan mengolah data secara berdarah-darah sebelum menyajikannya menjadi sebuah argumen.
Karena itulah, saya amat menghormati jurnalis olahraga zaman dulu. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pundit era YouTube, para penulis koran bola inilah pemegang kasta kepunditan tertinggi.
Berkat kegemaran membaca koran dan tabloid itu pula, saya pernah mengecap posisi sebagai “pusat informasi” sepak bola di kampung pada masa akhir SD hingga SMP.
Di saat anak-anak lain sibuk bermain, saya menjadi satu dari sedikit remaja desa yang rutin menyisihkan uang jajan untuk membeli, membaca, dan mengkliping berita bola.
Klasemen per pekan, daftar top skor, manuver transfer, hingga trivia ringan saya arsipkan di kepala. Beberapa malah ada yang saya klipping.
Saat nongkrong, informasi itu saya bedah dan bagikan ke teman-teman. Kalau dipikir-pikir, di titik itu saya sebenarnya sudah menjadi “pundit”, meski levelnya hanya sebatas anak SMP di sebuah desa.
Tahu istilah-istilah ndakik seputar taktik dari gim FM
Zaman berubah, informasi kini melimpah ruah, dan jumlah pundit dadakan bermunculan tak terkendali. Untuk bertahan di tengah kebisingan itu, saya akhirnya membuat filter ketat. Saya memilih mengurasi podcast mana yang memang “ada isinya” demi bisa mengikuti perkembangan taktik sepak bola modern.
Namun, sekadar mendengarkan omongan orang di YouTube ternyata belum cukup. Ilmu sepak bola saya baru benar-benar teruji saat saya keranjingan bermain Football Manager (FM).
Di gim simulasi manajerial ini, saya dipaksa bertindak layaknya pelatih sungguhan. Saya rutin mengotak-atik tim, menyusun program latihan, bereksperimen, hingga meracik formasi aneh.
Dari layar laptop tempat saya bermain FM itulah, saya mulai fasih melafalkan istilah-istilah taktik yang ndakik-ndakik ala pundit.
Misalnya, istilah Deep Lying Playmaker (DLP). Ini adalah peran gelandang bertahan yang bertugas mengatur tempo permainan dan mendistribusikan bola langsung dari area paling dalam. Di dalam gim maupun realitas, atribut elegan ini sangat lekat dengan maestro seperti Andrea Pirlo, Toni Kroos, atau Jorginho.
Lalu ada posisi Mezzala, atau half-winger. Ini adalah peran gelandang tengah modern yang area jelajahnya justru melebar ke area sayap untuk menciptakan kekacauan di lini pertahanan lawan. Peran hibrida ini paling pas dijalankan oleh Nicolo Barella atau Sergej Milinkovic-Savic.
Saya juga menaruh perhatian pada Ball Winning Midfielder (BWM), si gelandang perebut bola yang kejam. Tugas utamanya murni sebagai anjing penjaga; merusak alur serangan lawan dan memutus transisi secepat mungkin. Peran kotor ini selalu dieksekusi dengan sempurna oleh pemain tipe petarung seperti Casemiro, Gennaro Gattuso, dan Javier Mascherano.
Jadi suhu bola di desa
Segala kerumitan taktik itu rupanya menjadi sesuatu yang menguntungkan saya. Harus diakui, di desa belum terbentuk kultur membedah taktik apalagi mendengarkan podcast bola berjam-jam.
Bagi pemuda desa, menonton sepak bola murni sekadar hiburan 90 menit ditemani kopi dan rokok.
Kondisi inilah yang tanpa sadar menjadi panggung saya. Setiap kali pulang ke desa dan nongkrong bersama kawan sebaya, saya mulai sengaja mengeluarkan jurus kata-kata njelimet itu.
Begitu istilah DLP, Mezzala, atau Inverted Fullback meluncur mulus dari mulut saya, suasana tongkrongan seketika hening. Mereka mendengarkan saya persis seperti saya menyimak omongan Zen RS; seolah menganggap saya tahu segalanya soal sepak bola.
Apalagi kalau obrolannya sudah saya seret ke urusan intrik politik di dalam klub, saya merasa seperti “suhu”.
Di momen itu, status sosial saya otomatis naik pangkat menjadi “pundit” yang fatwanya tak boleh didebat. Teman-teman desa tidak pernah tahu, di balik citra analitis dan gelar kehormatan itu, modal kepunditan saya hanyalah sisa ingatan dari tabloid yang saya baca masa SMP dulu, mendengarkan podcast, dan mempraktekkannya di game FM.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bermula dari Main Tarkam di Wonosobo demi Bayaran “Menggiurkan”, Buka Jalan ke Sepak Bola Profesional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan