Jika kita hanya membaca judulnya saja, “Memburu Muhammad”, mungkin kita akan mengernyitkan dahi sembari mbatin, “maksudnya apa?” Tapi jika kita berkenan untuk berprasangka baik dan membaca bukunya, kita akan tahu bahwa isi buku ini sangat jauh dari elemen penistaan seperti yang dituduhkan.
Isi buku “Memburu Muhammad” karya Feby Indirani bukan sekadar cerita tentang Nabi Muhammad. Buku ini bukan buku Sirah Nabawiyah atau buku yang ingin menandinginya. Buku ini merupakan kumpulan 19 cerpen yang memuat berbagai macam kritik sosial dan spiritualisme dalam balutan fiksi magis dan sentuhan satire. Buku ini juga bagian dari Trilogi Islamisme Magis setelah buku “Bukan Perawan Maria.”
Buku yang terbit melalui Bentang Pustaka pada tahun 2020 ini kembali ramai dibicarakan pada September 2026. Penyebabnya adalah pembatalan diskusi buku di Pekan Sastra Bogor karena adanya tekanan dan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Dari situlah perdebatan mengenai isi buku, kebebasan berekspresi, hingga dugaan penistaan agama ikut melebar.
Siapa Feby Indirani , penulis buku “Memburu Muhammad”?
Nama Feby Indirani bukan nama yang asing di dunia sastra dan kepenulisan. Feby Indirani merupakan jurnalis dan penulis yang telah menerbitkan sejumlah karya. Feby dikenal melalui karya-karya yang kerap mengangkat persoalan kehidupan beragama dengan pendekatan yang cukup unik, seperti satire, humor, dan kritik sosial.
Sebelum “Memburu Muhammad”, Feby sudah pernah menerbitkan buku berjudul “Bukan Perawan Maria” pada 2017. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, dan Italia. Menurut Feby, cerpen-cerpen yang ada di dalam kedua bukunya bersumber dari pengalaman serta pengamatannya terhadap kehidupan umat Muslim di Indonesia.
Hal ini tidak lepas dari pengaruh bagaimana hubungannya dengan tradisi Islam selama ini. Feby mengatakan bahwa latar kepenulisannya tidak terlepas dari pengaruh tradisi Islam. Feby yang berasal dari keluarga muslim dan lahir sebagai seorang muslim, sudah terbiasa dengan berbagai kisah islami yang menurutnya menggambarkan manusia dan kebenaran secara reflektif, humoris, dan tidak hitam-putih.
Buku “Memburu Muhammad” bercerita tentang apa, sih?
Selain nama Feby yang sudah tidak asing, “Memburu Muhammad” juga bukan buku baru di skena sastra. Buku ini sudah eksis selama lebih dari lima tahun. Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen kedua dari penulis Feby Indirani dalam triloginya yang berjudul Trilogi Islamisme Magis. Buku ini adalah buku kedua setelah setelah buku “Bukan Perawan Maria.” Buku ini pertama kali diterbitkan pada 2020 dan berisi 19 cerita pendek.
Melalui buku ini, Feby mencoba mengemas agama melalui sesuatu yang berbeda. Feby tidak menguraikannya seperti ustad atau guru ngaji mengajarkan agama. Feby membalutnya dengan cerita-cerita yang kadang absurd, sarat sentuhan magis, juga kerap menggelitik. Salah satu cerpen cukup populer berjudul “Berebut Jenazah” yang sempat diadaptasi jadi film dengan judul yang sama pada tahun 2025. Cerpen ini menceritakan tentang Naomi, gadis keturunan Indonesia-Jepang yang bekerja sebagai idol di Jepang, meninggal secara mendadak.
Kedua orang tuanya yang sudah lama bercerai, saling rebutan untuk memakamkan Naomi sesuai keyakinannya. Ayahnya yang orang muslim Indonesia bersikukuh ingin memakamkan Naomi dengan tatacara Islam. Sedangkan ibunya yang seorang Buddhis Jepang, juga keukeuh ingin memakamkan anaknya dengan upacara agama Buddha. Konfliknya berkutat di perkara ini.
“Memburu Muhammad” sebagai cerita utama
Sorotan utamanya tentu ada di cerpen berjudul “Memburu Muhammad”, yang juga menjadi judul buku ini. Kalau membaca utuh cerpennya, atau baca utuh sinopsisnya saja, reaksi dari manusia normal yang nalarnya waras tidak akan marah. Sebaliknya, mereka akan merasakan kegetiran, bahkan sedih.
Ceritanya bermula dari tokoh bernama Abu Jahal, salah satu tokoh yang kita kenal sebagai musuh Nabi Muhammad dalam sejarah Islam. Dalam cerpen ini, Feby menggambarkan tokoh Abu Jahal yang tiba-tiba hadir di Indonesia pada zaman modern dan mencari seseorang bernama Muhammad.
Masalahnya, nama Muhammad sudah menjadi nama yang sangat umum di Indonesia. Abu Jahal kemudian meminta bantuan petugas kantor kelurahan untuk mencari Muhammad yang dimaksud. Dengan bantuan komputer, ditemukan banyak orang bernama Muhammad. Namun, tidak satu pun yang sesuai dengan sosok yang sebenarnya Abu Jahal cari.
Di sinilah cerita mulai bekerja sebagai satire. Abu Jahal ternyata tidak sekadar mencari seseorang bernama Muhammad. Abu Jahal mencari sosok yang dikenalnya dari masa lalu, yakni Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun, ketika melihat banyak orang yang menggunakan nama tersebut pada masa kini, Abu Jahal justru tidak menemukan sosok yang menurutnya benar-benar mencerminkan Muhammad yang dia kenal.
Menarik, kan? Feby dengan ciamiknya menggunakan Abu Jahal, the biggest villain di sejarah Islam, sebagai pemicu pertanyaan mengenai sejauh mana umat Islam masa kini meneladani Nabi Muhammad. Apakah hanya sebatas memakai namanya saja tanpa meneladani sifat dan perilakunya? Harusnya kita (dan mereka) mikir dan introspeksi diri, sih.
Kronologi kontroversi buku “Memburu Muhammad”
Selama nyaris enam tahun beredar, buku ini tidak menimbulkan masalah. Tidak ada yang protes, tidak ada yang mengancam. Adem-adem saja. Kalaupun ada, paling hanya riak-riak kecil yang kalau kita biarkan sejenak pasti akan langsung hilang. Geger-gegernya baru muncul pada September 2026, di gelaran Pekan Sastra Bogor yang berencana menggelar diskusi buku “Memburu Muhammad” pada 20 September 2026.
Sayangnya, diskusi itu terpaksa batal. Panitia mengumumkan pembatalannya pada tanggal 19 September. Alasannya, panitia mendapatkan tekanan dan ancaman dari berbagai macam pihak (baca: ormas FPI). Pihak ormas merasa keberatan dengan judul buku dan tema diskusinya, menganggapnya sebagai penistaan agama. Sebenarnya sudah ada semacam mediasi dengan pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bogor, Kesbangpol, perwakilan ormas FPI, tapi ya tidak menolong.
Setelah pembatalan itu, banyak pihak yang bersuara. Pihak pemerintah (aparat, MUI) dan beberapa ormas agama lainnya ikut urun berpendapat, meskipun normatif. Dari pihak pegiat sastra dan perbukuan, mereka kecewa dan marah dengan peristiwa ini. Mereka bilang bahwa ini adalah bukti kebebasan berekspresi di Indonesia masih ada di level mengkhawatirkan.
Feby Indirani pun ikut buka suara. Feby, yang juga mendapatkan ancaman dari pihak-pihak tersebut, menegaskan bahwa “Memburu Muhammad” merupakan karya fiksi yang lahir dari niat baik dan pengalaman sebagai seorang muslim. Menurutnya, karya sastra tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan judul atau potongan cerita yang beredar. Dalam kasus cerpen “Memburu Muhammad”, Feby juga menjelaskan bahwa tokoh yang melakukan tindakan “memburu” adalah Abu Jahal, bukan dirinya sebagai pengarang.
Bahkan tokoh NU, Prof. Nadirsyah Hosen, yang memberikan pengantar untuk buku tersebut, juga menjelaskan bahwa keterkejutan terhadap judul belum otomatis membuktikan adanya penghinaan. Menurutnya, cerita perlu dibaca bersama konteks dan substansinya. Kalau konteksnya buku ini, sama sekali tidak ada penghinaan atau penistaan agama yang dilakukan.
Suramnya iklim kebebasan berkarya dan berpendapat
Melihat apa yang terjadi dengan Feby Indirani dan buku “Memburu Muhammad”, kita jadi kembali berpikir bahwa iklim kebebasan berkarya dan berpendapat makin lama makin suram. Pihak-pihak tersebut (baca: ormas) makin hari juga tidak makin pintar. Polanya dari dulu selalu sama, menghakimi sesuatu dari luarnya saja. Tidak mau cari tahu, tidak mau tabayyun.
Satu hal yang jelas, buku ini buku bagus. Isi buku “Memburu Muhammad” jauh lebih luas daripada cerpen yang menjadi judulnya. Sebagai pembaca, kita tidak perlu ikut takut. Kita juga tidak perlu ikut-ikutan bodoh seperti mereka yang hanya menghakimi dari luar. Baca bukunya, selami ceritanya satu per satu. Buktikan sendiri bahwa tidak ada satupun penghinaan atau penistaan agama dalam buku ini seperti yang mereka tuduhkan.