Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Beberapa orang kota mengira: pensiun menyenangkan adalah menghabiskan masa tua dengan slow living di desa. Padahal, menua seperti orang desa sebenarnya tidak lebih baik dari yang mereka bayangkan. 

***

Obrolan dengan teman-teman tongkrongan di kota seringkali tidak jauh-jauh dari urusan kebebasan finansial, yang kemudian berujung pada rencana pensiun suatu saat nanti. Oleh karena itu, dana dan persiapan pensiun lain tengah dipersiapkan sedemikian rupa. 

“Melihat orang-orang yang menua di desa itu tenang sekali. Menghabiskan banyak waktu di rumah, kebun, dan bisa lebih sering ke masjid.” Seloroh semacam itu beberapa kali saya dengar dari teman-teman kota, terutama mereka yang berjibaku dengan kota metropolis seperti Surabaya—membayangkan pensiun dan menua dengan tenang alias slow living di desa. 

Akan tetapi, dari persinggungan saya dengan kehidupan desa, konsep semacam itu ternyata hanya ada di benak orang-orang kota. Orang desa sendiri tidak punya bayangan pensiun dan menghabiskan masa tua dengan rileks alias slow living. 

Tidak ada kamus pensiun dan slow living di desa, tetap bekerja sampai tua

Pekerjaan orang-orang di desa kebanyakan di sektor informal dengan penghasilan tidak menentu. Misalnya dalam konteks kampung halaman saya di Rembang, umumnya: nelayan, petani, kuli, tukang, pedagang jajanan untuk anak-anak sekolah, dan sejenisnya. 

Orientasi warga desa soal ekonomi hanya pada batas: yang penting ada jatah buat makan besok. Untuk besoknya lagi, dicari sambil jalan. 

Pemasukan yang tidak menentu membuat warga desa tidak punya dana lebih untuk disimpan. Misalnya sebagai dana darurat atau tabungan menyongsong hari tua—untuk pensiun. 

Hanya orang-orang yang lahir dari keluarga kaya lah yang cukup beruntung: punya aset berupa warisan tanah sebagai ganti dari tabungan hari tua. Kalau tidak, maka konsep “pensiun dan slow living di desa” adalah perkara yang amat jauh. 

Maka dari itu, tidak heran jika banyak orang desa—setidaknya yang saya temui di Rembang—punya prinsip: selagi raga masih sanggup, maka mereka akan bekerja sampai tua. Melampaui standar usia pensiun di Indonesia yang umumnya jatuh di usia 55 tahun. 

Tidak pernah punya rencana hidup saat menua di desa karena keadaan

Di meja tongkrongan di kota, saya kerap mendengar anak-anak muda menyusun banyak daftar rencana dan skema untuk pensiun dan mencapai slow living. Namun, ketika bersinggungan dengan orang-orang di desa, situasinya berbeda sama sekali. 

Seperti disinggung di atas, rencana hidup orang desa di Rembang adalah sejauh hari ini ke besok. Karena kondisi finansial memang hanya memungkinkan seperti itu. 

Saya sering iseng bertanya kepada orang-orang umur 40-an-60-an tahun di Rembang yang masih bekerja: apa rencana Jenengan jika sudah sangat sepuh?

Saya harus memberi penekanan pada “sudah sangat sepuh”, karena kalau tidak, jawaban mereka pasti kembali ke poin pertama: kalau masih kuat bekerja ya bekerja lah. 

Teka dilakoni ae, Mas. Sok emben apa jare Pengeran (Asal dijalani aja, Mas. Esok nanti apa kata Tuhan).” Itulah jawaban yang saya terima. 

Jawaban tersebut sebenarnya menyimpan kecemasaan yang coba dikaburkan. Kecemasan yang berangkat dari kenyataan bahwa sebenarnya tidak ada bayangan harus bagaimana nanti setelah pensiun atau sudah tidak kuat bekerja lagi karena tidak ada jaring pengaman ekonomi. Maka yang bisa dilakukan adalah fokus pada hari ini dan besok.

Terpaksa pensiun bukan karena slow living dan jaring pengaman yang tidak diinginkan

Meski tanpa rencana pensiun, tapi nyatanya banyak simbah-simbah yang menghabiskan sisa masa tua dengan di rumah saja dan sesekali ke kebun. Pokoknya tidak bekerja berat lagi. 

Dalam kasus di desa Haban (28-an) di Caruban, Jawa Timur, simbah-simbah yang berada di posisi itu kebanyakan—tentu tidak semua—adalah mereka yang terpaksa. Terpaksa berhenti bekerja karena kondisi fisik dan kesehatan. 

“Akhirnya mereka terpaksa berhenti, terpaksa jadi beban bagi anak-anaknya,” ujar Haban saat berbincang, Kamis (18/6/2026) pagi. Dan pada akhirnya muncul masalah sosial baru: lahirnya sandwich generation

“Orang tua sebenarnya nggak pengin merepotkan anak. Tapi kalau di desa, anak juga nggak bisa membiarkan orang tua begitu saja. Sementara secara fisik orang tua sudah nggak bisa mandiri di masa rentanya,” sambungnya. 

Haban adalah laki-laki pekerja di sebuah hotel kelas murah di Surabaya. Tumbuh dalam persinggungan kehidupan desa yang ala kadarnya dan dalam kerentanan kemiskinan, Haban menyadari betapa rapuhnya orang-orang di desa jika berhadapan dengan hari tua. 

Haban termasuk sandwich generation. Tiap pulang ke desanya di Caruban, ia kerap menyaksikan bapaknya yang sudah sepuh dan sulit berjalan lebih sering duduk diam-melamun di teras rumah. Berbeda jauh dari dulu semasa fisiknya masih prima. 

“Bapak pernah bilang, nggak menikmati masa tua seperti itu. Masa tua yang hanya bisa menjadi beban bagi anak-anaknya. Sialnya ia tidak bisa melawan usia,” ujar Haban. 

“Bapak juga sering sedih ketika cucunya, keponakanku (anak dari kakak perempuan Haban dan adik perempuannya yang sudah menikah terlebih dulu) datang berkunjung. Pas pada pamit, bapak menggerutu: mbah nggak punya duit, Le/Nduk, nggak bisa ngasih saku,” beber Haban. Situasi itu membuat bapak Haban dirundung rasa bersalah karena menua dengan tidak berguna. 

Pasrah dalam kemiskinan, mangan sak mangane

Lanjut Haban, di desanya ada slogan populer: mangan sak mangane (makan semakannya). 

Slogan tersebut muncul dari kepasrahan warga desa menjelang masa rentanya dengan kemungkinan sudah tidak bisa produktif lagi. Maka yang bisa dilakukan adalah pasrah dalam bayang-bayang kemiskinan

“Sama seperti Rembang, Caruban itu adalah yang merantau ke luar negeri. Orang kalau di luar negeri seperti Malaysia, akan susah buat memutuskan balik kampung, dalam arti pensiun di desa,” kata Haban. 

Pasalnya, kalau sudah pulang, mereka akan bingung harus kerja apa. Sementara mereka sadar tidak bisa selamanya kerja di negara orang. 

Di titik itu, kata Haban, anggota keluarga akan menenangkan: meminta agar keluarga yang di perantauan pasrah saja kepada Tuhan. Mangan sak mangane. 

Memang hidup di desa tanpa pekerjaan dengan upah selayak di Malaysia punya potensi menjerumuskan pada kehidupan serba kurang. Tapi selayak-layaknya upah di pekerjaan informal, pada akhirnya uang sudah habis lebih dulu untuk kebutuhan tanpa tersisa untuk dana pensiun. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Exit mobile version