Bagi pekerja ibu kota, terutama yang sering pulang larut malam, Family Mart sering dianggap sebagai penyelamat. Saya membuktikan sendiri klaim ini.
Sebagai orang yang menetap di Jogja, kota yang belum dijamah ritel ini–karena lebih akrab dengan Indomaret Point atau Circle K–kenyamanan convenience store tersebut sempat bikin saya agak mengalami culture shock.
Malam itu, di pertengahan tahun lalu, sekitar pukul 11 selepas menonton sebuah konser di Jakarta, saya “terdampar” di Family Mart cabang Melawai, Kebayoran Baru. Teman yang kosnya akan saya tumpangi malam itu menyuruh saya menunggu di sana karena ia belum selesai lembur.
Begitu saya masuk, di sudut-sudut meja, saya melihat pemandangan yang begitu seragam. Ada deretan driver ojol yang sedang ngadem, hingga beberapa orang yang tampak khusyuk menatap layar laptop.
Di tengah Jakarta yang serba mahal, tempat ini terasa seperti oase malam hari yang menenangkan dan ramah di kantong.
Bagi karjimut, ngopi di Family Mart adalah pilihan terbaik
Tak lama, teman saya datang dengan wajah kuyu sisa beban pekerjaan. Ia langsung memvalidasi tebakan saya bahwa tempat ini memang penyelamat bagi pekerja Jakarta.
Bagi pekerja dengan status “gaji numpang lewat” sepertinya, Family Mart adalah andalan utama untuk bertahan hidup, dan tentunya, menjaga kewarasan. Alasan utamanya jelas karena harganya murah.
“Kalau ke kafe ‘kan mahal,” kira-kira begitu ungkap teman saya malam itu.
Family Mart memang memiliki struktur harga yang sangat pas untuk ukuran pekerja Jakarta bergaji pas-pasan. Hanya dengan bermodal uang Rp25 ribu, seorang pelanggan sudah bisa mendapatkan kombinasi makanan berat dan segelas es kopi susu.
Bagi teman saya, ini adalah pilihan paling logis. Daripada harus menghabiskan lima puluh ribu rupiah hanya untuk secangkir kopi di coffee shop, ia lebih memilih singgah di sini. Jaraknya dekat dari kos, makanannya mengenyangkan, kopinya cukup untuk membuat mata melek, dan dompetnya aman hingga akhir bulan.
Tempatnya juga nongkrongable
Tak cuma murah dan enak, Family Mart juga enak buat nongkrong. Menurut amatan saya, tata letak area duduknya memang didesain secara fungsional. Suasananya lebih menyerupai coffee shop mini ketimbang minimarket tempat orang sekadar lewat membeli barang.
Susunan mejanya dirancang untuk individu atau kelompok kecil berkapasitas dua hingga tiga orang. Sangat jarang terlihat rombongan besar yang nongkrong heboh atau tertawa lepas di sini. Semuanya sibuk dengan urusan atau rasa lelahnya masing-masing.
Meski ukuran ruangannya tak seluas kafe sungguhan, Family Mart bagi saya berhasil mengoptimalkan kenyamanan indoor. Pencahayaannya terang benderang, suhu pendingin ruangan selalu maksimal, dan yang bagi saya paling penting di setiap meja tersedia colokan listrik.
Bagi pekerja yang butuh tempat tenang untuk menyelesaikan deadline, Family Mart adalah tempatnya. Ditambah lagi, karena berada di dalam ruangan tertutup, tempat ini bebas dari asap rokok. Sebuah poin plus yang membuat pelanggan non-perokok betah berlama-lama duduk di sana, termasuk teman saya.
Pekerja Family Mart dituntut multitasking, kadang malah bikin pelayanan lama
Namun, kekaguman saya pada kenyamanan itu agak terganggu ketika melihat area di balik mesin kasir. Di cabang Melawai malam itu–dan kabarnya standard operasional di banyak cabang lain–satu shift kerja sering kali hanya dijaga oleh tiga orang pegawai.
Saya melihat secara langsung, tiga pemuda berseragam Family Mart itu dituntut untuk melakukan kerja multitasking. Kata teman saya, “mereka kayak gurita”.
Satu orang harus sigap menjadi kasir melayani transaksi cepat, lalu berlari ke pojok meracik kopi layaknya barista, berputar lagi menyiapkan makanan panas seperti ayam goreng, menguras kuah oden, dan di sela-sela waktu masih harus memastikan meja pelanggan bersih dari tumpahan minuman.
Di satu momen, antrean pesanan dari aplikasi ojek online dan pelanggan offline menumpuk tak karuan. Mesin pencetak setruk terus berbunyi sementara tenaga mereka terbatas.
Saya menyaksikan seorang pelanggan laki-laki marah-marah, mengomeli pegawai kasir karena pesanannya tak kunjung selesai setelah menunggu hampir satu jam. Pegawai itu hanya bisa menunduk sambil menggumamkan permintaan maaf dengan wajah yang sangat kelelahan.
Bukannya ikut kesal pada pelayanan yang lambat, saya justru merasa sangat kasihan. Mereka jelas kewalahan dihantam efisiensi sistem kerja perusahaan.
Beban kerja ekstra, gaji tak seberapa
Rasa iba saya malam itu makin memuncak, apalagi setelah menengok linimasa di Threads tentang curhatan para mantan pegawai ritel ini yang sering kali viral dan mengonfirmasi kerasnya realitas kerja mereka.
Beban kerja fisik yang memaksa mereka serba bisa itu rupanya sering kali tidak dihargai dengan pantas. Banyak akun eks pegawai Family Mart yang terang-terangan bercerita bahwa gaji yang mereka terima di awal masuk berada di bawah UMR.
Syaratnya, mereka harus sanggup bertahan dan bekerja setidaknya selama satu tahun sebelum bisa menikmati upah sesuai standar UMR.
Seorang mantan pekerja dari cabang Surabaya menceritakan keputusasaannya, mengaku hanya sanggup bertahan enam bulan karena fisiknya remuk ditekan beban kerja ganda dengan bayaran minim. Di kolom balasan lain, ada cerita tentang gaji yang sempat tertahan.
Realitas ini makin menampar saya. Kenikmatan dan kewarasan kelas pekerja ibu kota yang mencari es kopi murah di ruang ber-AC itu, ternyata “disubsidi” oleh keringat kelas pekerja lain yang sedang dieksploitasi habis-habisan demi efisiensi bisnis.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan