ADVERTISEMENT

Pantai Siung Membayar Lunas Kekecewaan Saya dari Pendakian Bukit Pengilon yang Menyiksa selama Satu Jam

Pemandangan Pantai Siung dari Bukit Pengilon, Gunungkidul. MOJOK.CO

Pantai Siung jadi satu-satunya obat pelipur lara saat kecewa dengan pemandangan yang disuguhkan Bukit Pengilon, Gunungkidul. Sadar bahwa jalurnya tak cocok untuk pemula.

***

Dalam sejumlah artikel dan konten di media sosial yang saya baca, Bukit Pengilon sering kali masuk daftar rekomendasi destinasi trekking bagi pendaki pemula. Barangkali, karena jalurnya yang relatif singkat. 

Sejumlah warga lokal (warlok) mengatakan, hanya perlu menempuh waktu sekitar 30 menit untuk berada di atas ketinggian 160 meter dari permukaan laut Bukit Pengilon dengan berjalan kaki. Maka tak heran, mereka merasa medannya tidak ekstrem ketimbang gunung.

Tapi perlu diingat, itu adalah kata-kata warlok yang sudah terbiasa naik-turun bukit untuk membuka warung pagi-pagi sekali, mengarit, bercocok tanam, mencari ikan, hingga mencari air bersih di sungai.

Nyatanya, pengalaman mendaki yang saya hadapi jauh dari kata “cocok” bagi pemula. Persiapan fisik saja tak cukup untuk menuju puncak, perlu mental yang kuat agar bisa menyelesaikan tektok.

Tak bisa melihat sunrise di puncak Bukit Pengilon

Saya datang ke Bukit Pengilon bersama empat orang teman pada Minggu (4/10/2026) pagi. Sebelum hari H, kami sudah membuat perencanaan untuk menikmati Pantai Siung yang berada di atas tebing sekitar 60-200 meter.

Mulanya, salah satu teman saya ingin menyewa tenda dan menikmati sunrise dari atas selama dua hari satu malam. Seperti suasana yang tergambar di video viral TikTok. Namun, kami yang berniat datang sejak Sabtu sore akhirnya batal usai mendapat saran dari penyewa tenda.

Warlok mengarit. MOJOK.CO
Salah satu warlok yang Mojok temui di jalur pendakian sedang mengambil rumput kering. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebagai informasi, titik kumpul kami berada di Kaliurang. Kami membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2,5 jam untuk sampai ke Bukit Pengilon. Sementara, salah satu teman kami baru pulang kerja pada sore hari. Alhasil, jika ingin melihat sunrise atau matahari terbit maka pilihannya ada dua, yakni mendaki pada malam hari atau berangkat pagi-pagi sekali.

Penyewa tenda pun menyarankan agar kami berangkat pagi daripada mendaki di malam hari untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan, apalagi kami tergolong pendaki pemula dan baru kali ini mengunjungi Bukit Pengilon.

Namun tetap saja, setelah mengikuti saran dari penyewa tenda kami tidak dapat melihat sunrise di puncak. Salah satu teman saya yang pernah mendaki ke Bukit Pengilon, dari awal memang sudah mengingatkan agar kami tidak terlalu menanti sunrise.

“Sunrise-nya nggak bakal muncul karena pas di puncak sudah tertutup tebing-tebing lain, tapi mungkin bakal kelihatan saat kita sedang mendaki,” ujarnya.

Ndilalah, kami justru menikmati sunrise dari dalam mobil dan baru mulai mendaki pukul 07.00 WIB, tapi alih-alih menikmati sunrise saya justru punya firasat bahwa pemandangan yang kami lihat nanti akan sedikit mengecewakan, mengingat gersangnya hutan yang baru kami lewati.

Keindahan Pantai Siung nyaris membatalkan pendakian

Jalan terjal menuju bukit. MOJOK.CO
Jalan mengitari Bukit Pengilon. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kekhawatiran saya soal musim kemarau di Bukit Pengilon, Gunungkidul seolah lenyap setelah tiba di bibir Pantai Siung, dekat dengan pintu masuk pendakian. Saya merasa puas dengan pemandangan deretan tebing karang raksasa yang menjulang tinggi di sisi barat dan timur.

Gelombang air yang belum tinggi saat pagi seolah ingin memamerkan batuan pesisirnya yang tertutup lumut. Sementara pasir putihnya siap menghadang deru ombak besar dari Samudra Hindia.

Pemandangan itu nyaris bikin saya urung mendaki ke Bukit Pengilon, tapi juga memacu semangat saya untuk melihat garis cakrawala yang lebih indah. 

Jika dari bawah saja pemandangannya seperti ini, bukankah visualnya bakal lebih memukai dari atas bukit?

Atas motivasi tersebut, kami pun memutuskan untuk tetap mendaki.

Harga yang harus dibayar untuk menikmati Pantai Siung dari atas bukit

Sayangnya, untuk menikmati pemandangan eksotik Pantai Siung dari atas Bukit Pengilon memang tidak mudah. Kami harus melewati jalan yang cukup ekstrem sejak berada di pintu masuk: menapaki tangga berpasir halus yang membuat kaki rawan melorot. Jarak antar tangga pun terbilang tinggi, sehingga otot paha kami harus bekerja secara ekstra.

jalan curam. MOJOK.CO
Salah satu jalan curam usai melintas bibir Pantai Siung. (Aisyah

Cuaca kering, seperti yang sempat saya singgung sebelumnya juga memperparah kondisi ini. Alhasil, kami tidak bisa memanfaatkan trekking pole dengan baik, saking gersangnya tanah di sana. Saya pun harus merangkak karena tidak ada tali yang tersedia.

Beruntung, jalanan yang kami lewati setelah itu terbilang landai. Namun tetap saja, saya masih tidak bisa menikmati pendakian ini. Sebab, alih-alih melihat pemandangan hijau nan asri atau air terjun Banyu Nibo, hati saya justru miris melihat gundulnya pohon dan sungai yang mengering akibat cuaca ekstrem.

Tak jarang, kami melewati sejumlah warga yang sedang memboyong ember berisi air atau mengarit jerami kering untuk pakan sapi. Meski kesulitan mencari air bersih, mereka tetap menyapa kami untuk memberi semangat menuju puncak.

Setelah 1 jam perjalanan dikelilingi debu dan angin panas, saya dan keempat rekan akhirnya tiba di puncak Bukit Pengilon. Di situlah kami melihat panorama laut lepas dari Samudra Hindia terhampar. Sejumlah perahu tampak bergerak bebas menantang terik, serta ketangguhan karang yang tegar dihantam ombak silih berganti.

Setidaknya, pemandangan itu cukup mengisi amunisi semangat kami untuk menuruni medan terjal yang sama.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.