Orang tua akan bilang, mereka merasa sedih ketika semakin tua karena tidak bisa lagi dekat dengan anaknya. Sementara bagi anak-anaknya, merasa sedih ketika menyadari orang tua, ayah dan ibu mereka, menua.
Ada kesedihan yang berbeda antara orang tua dan anak. Orang tua sedih karena jarak yang menjauh, sedang anak merasa sedih karena waktu yang menyempit, dan ini semakin menyedihkan ketika disadari saat dewasa. Belakangan ini, mungkin kita melewatkan tanda-tanda orang tua yang tidak lagi muda dan bugar seperti saat kita masih bersekolah.
***
Desember 2025 lalu, saya kembali pulang dari Jogja ke rumah di Kalimantan. Tahun itu, saya sepertinya punya tiga kali kesempatan untuk pulang.
Sebagaimana anak-anak yang pulang ke rumahnya setelah merantau ke luar kota, orang tua tidak luput menyambut kedatangan. Khususnya, ibu yang akan paling bersemangat soal memastikan saya sampai dengan selamat.
“Kakak sudah sampai di mana?” begitu kira-kira isi pesan yang dikirimnya hampir setiap sepuluh menit sekali.
Namun, dalam tiga kali kepulangan itu, tidak satu pun saya menyadari bahwa antusiasme ibu yang tetap sama bukan berarti tidak ada sesuatu yang berubah darinya.
Menyadari ibu menua di kedai es krim pada suatu malam
Tepat kali ketiga, saya berdiam di rumah untuk cukup lama. Kurang lebih dua bulan. Sehari-hari, saya melihat ibu melakukan rutinitasnya: bangun pagi, memasak untuk anak-anaknya, berangkat kerja, pulang, istirahat, dan mengulanginya.
Hampir-hampir tidak ada yang berubah kalau saja dia tidak mengajak saya untuk singgah ke kedai es krim usai kami makan.
Di bawah pencahayaan lampu yang terang, berlatar putih di seluruh interior bangunan, wajah ibu menjadi lebih jelas untuk saya lihat. Penglihatan yang sama sekali tidak menyenangkan seperti es krim yang sedang saya genggam.
Saat itu juga, es krim saya terasa hambar. Sebelum ia berubah pahit karena kesadaran ini, saya bilang, “Ma, keriputnya.”
Saya baru menyadari bahwa keriputnya telah lebih banyak dari yang saya ingat. Saya ingat selalu membelikan ibu, serum anti aging yang mengandung retinol. Tapi, itu rasanya beberapa tahun lalu—saat itu, belum ada banyak kerutan yang saya temui bersama keriput itu.
“Muka mama sekarang banyak keriputnya,” kata saya.
Bersama adik saya yang tidak lama bertanya, “Berapa umur mama?”
“49.”
Hari ini, ibu menjadi lebih diam dan tenang
Mulya (23) mengatakan, dirinya juga mengalami hal yang sama. Ia baru menyadari kalau ibunya tidak lagi muda secara tiba-tiba, meski sudah memperhatikannya sehari-hari.
Namun Mulya tersadar ketika berulah saat tinggal di rumah pada dua tahun yang lalu, tapi ibunya tidak lagi marah. Mulya sudah berada dalam posisi bekerja saat itu. Ia menyempatkan pulang dan tidak sekalipun menemukan pengalaman-pengalaman yang mungkin menakutkan bagi anak-anak, yaitu dimarahi orang tuanya.
“Ketika dia udah nggak pernah marahin gue lagi,” kata Mulya kepada saya, Jumat (13/2/2026).
Ibu sebagai sosok yang pemarah bukanlah rahasia. Maka, Mulya menjadi keheranan ketika ibunya tidak lagi memilih untuk menghabiskan seluruh tenaganya untuk marah-marah.
Justru, ekspresi ibu terlihat tenang ketika sudah dihadapkan pada situasi yang sama yang sebelumnya selalu berhasil memantik emosinya. Mungkin, menurut Mulya, ibunya sudah belajar untuk lebih mempercayai semua keputusan anaknya yang dianggap dewasa.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada kemarahan. Hanya kepercayaan penuh, dengan keyakinan anaknya bisa bertanggung jawab.
“Dia nggak pasrah, tapi dia belajar percaya sama semua keputusan gue. Ketika dia nggak marah, karena dia tahu gue udah nggak anak-anak lagi yang perlu dimarahin,” katanya.
“Makin ke sini, gue nggak pernah merasa dimarah. Malah, mereka makin bertambah tua makin penyayang,” tambahnya
Obrolan bersama ibu lebih nyaman, tapi terasa ada yang kurang
Sama seperti Mulya, Shabrina (22) juga tidak pernah lagi menemukan ibunya dalam kondisi marah. Seingatnya, ibu mempunyai hobi sama seperti ibu-ibu lainnya. Ibu suka memarahi Shabrina untuk berbagai alasan hanya untuk meluapkan emosinya.
Tapi pada usia ke-20, Shabrina merasa ada sesuatu yang kurang dari interaksinya dan ibu. Jawabannya, tidak ada lagi tensi yang terlibat dalam obrolan mereka.
Dulu, omelan ibu terasa seperti polusi udara di telinga remaja kita. Namun sekarang, keheningannya bukan malah menenangkan, justru terasa seperti alarm tanda bahaya.
“Gue kangen dimarahin,” akunya.
“Secara fisik mama gue masih 40-an, tapi di dalamnya, gue tahu mama gue udah merasa tua,” kata dia menambahkan.
Memperhatikan sehari-hari dikuasai ketakutan melihat bertambahnya uban
Amanda (24) tidak jauh berbeda dengan keduanya. Amanda telah kembali tinggal bersama keluarga setelah merantau selama empat tahun.
Sehari-hari, Amanda tidak menemukan sesuatu yang salah. Ia sudah tahu, ibunya sudah menua. Namun, semakin sering bersama, semakin sering Amanda melewatkan tanda-tanda yang menunjukkan bertambahnya penuaan itu.
Ia baru menyadari bahwa “tua”-nya ibu tidak sama seperti yang diingatnya satu atau dua tahun lalu ketika momen yang berulang-ulang disajikan ke hadapannya, yaitu rambut ibunya yang didominasi warna putih.
“Ubannya makin banyak,” kata dia.
Saking banyaknya, Amanda bilang hampir tidak memungkinkan untuk dicabut. “Jadi sekarang, rambutnya dicat hitam. Itu aku sadar,” kata Amanda.
Nyatanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama tidak menjamin Amanda tidak luput. Lalu, pada waktu yang tidak terduga, ia dihantam kesadaran yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Orang tua yang menua adalah ketakutan bagi anak-anaknya
Cerita Mulya, Shabrina, maupun Amanda bukan hanya curhatan lepas. Mereka adalah potongan puzzle dari ketakutan kolektif yang menghantui generasi kita saat menyadari “pilar” yang menjadi tempatnya bertumpu tidak lagi muda, tidak akan abadi.
Mengutip dari VICE, psikolog di Drexel University, Stephanie Krauthammer-Ewing, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran drastis. Sebab, di usia 20-an dan 30-an, kacamata kita berubah.
Dari menempatkan sosok orang tua sebagai yang patut “dihormati” menjadi sosok yang mulai terlihat rapuh. Dibicarakan kesehatannya di sela-sela kegiatan harian yang sebelumnya biasa-biasa saja.
Bayangkan saja, karena ibu adalah sosok yang mengajari dirimu hampir segala hal, menemukan ibu menjadi tidak tahu-menahu atau memilih diam pasti menimbulkan perasaan mengganjal. Karena itu, kesadaran terlambat dari tanda-tanda yang ada di depan mata bukan tidak disengaja.
Menurut Psychology Today, banyak dari kita yang memang memilih untuk tidak membayangkan bahwa orang tua kita akan semakin tua pada suatu hari. Namun, pada saat kita mulai menyadari perlahan bahwa mereka tidak lagi sama. Momen inilah yang akan memunculkan ketakutan yang tidak pernah dipahami sebelum mengenalnya—campur aduk perasaan sedih, cemas, dan pasrah. Bagaimana bisa melewatkan tanda-tanda ini, atau memang telah menolak untuk menyadarinya sejak lama?
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Cerita-cerita Kecil nan Hangat di Tengah Gemuruh Istora, Orang Tua dan Anak Saling Memperjuangkan Masa Depan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan











