Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Januari 2026
A A
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ilustrasi Merantau untuk Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hanya satu pesan Bapak dan Ibu saya saat saya merantau: Jangan tinggalkan salat! Bisa dibilang, keluarga saya cukup agamis karena keduanya aktif di organisasi Muhammadiyah. Makanya, Bapak dan Ibu saya getol mengingatkan saya sedari SD. Tapi menginjak dewasa, intensitas peringatan itu semakin tinggi.

Alih-alih mengkhawatirkan anak perempuannya yang merantau dengan pertanyaan, “sudah makan belum? Bagaimana harimu?”, Ibu selalu menelepon saya saban subuh guna memastikan saya sudah bangun dan subuhan.

Iklan

Jika telepon itu tidak saya angkat, bombardir chat lewat WhatsApp akan segera masuk ke gawai saya.

“Dik, sudah bangun?”

“Sudah subuhan?”

“Halo?”, selanjutnya berisi pesan-pesan stiker bernuansa islami.

Kadang-kadang tak hanya chat, barangkali ibu saya sudah geram melihat pesannya diabaikan beberapa jam, sehingga mengirim voice note (VN) dengan kalimat serupa tapi dengan nada lembut.

Namun, puncaknya bukan di VN. Ada satu chat ibu yang bikin saya tertohok. Beda dengan hari-hari biasanya di mana ibu selalu menelpon dan mengirim pesan beruntun. Kali ini, ia hanya mengirim satu pesan singkat.

“Ibu sama Bapak butuh doanya adik, ambil wudu ya,” ucapnya pukul 04.30 WIB.

Tak lama kemudian Bapak ikut mengirim pesan, “Awali harimu dengan salat subuh ya Dik. Seberapapun sibuknya kamu, jangan lupa salat.”

Bagi saya, jika Bapak sudah ikut-ikutan mengirim pesan artinya itu sudah ultimatum keras karena selama ini hanya ibu yang menjadi pengawas. Walaupun saya tahu, diam-diam Bapak juga memantau saya dari ibu.

Salat adalah tiang agama

Pesan dari Bapak dan Ibu akhirnya membuat saya sadar, mereka tak pernah menuntut apa pun dari saya kecuali doa. Mereka mengizinkan saya merantau hanya dengan satu syarat, yakni menjaga salat. 

Yang akhirnya membuat saya teringat dengan sebuah Hadis Riwayat Baihaqi bahwa “Salat adalah tiang agama”. Sampai-sampai, Nabi menyuruh umatnya mengajarkan salat ke anak-anak mereka saat usia 7 tahun. Kalau ia belum salat sampai usia 10 tahun, pukullah.

Maka wajar jika Bapak dan Ibu saya selalu memperingatkan hal itu, bahkan ketika saya sudah dewasa–yang mestinya sudah punya kesadaran diri tapi seringkali menunda ibadah karena urusan duniawi.

Padahal, salat adalah ibadah agung. Melansir dari laman resmi Muhammadiyah, dengan memperbaiki salat maka Allah akan memperbaiki segala urusan kita. Sebaliknya, jika rusak, urusan dunia pun ikut kacau.

Hal itu disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra. Dalam pengajian Muhammadiyah di Masjid KH Sudja Yogyakarta, ia berujar salat layaknya obat yang Allah turunkan lima kali sehari untuk manusia.

Obat di tengah kesulitan

Salat, kata Budi Jaya Putra, bukanlah obat berupa pil atau terapi mahal berupa konseling. Namun, ia bisa membuat hati kita tenang di tengah hidup yang terasa berat. Orang yang menjaga ibadah tersebut, menurutnya tidak akan larut dalam keluhan, tidak mengumbar masalah ke media sosial, dan tidak tenggelam dalam kesedihan. 

“Mereka tetap tenang karena memiliki sandaran spiritual yang kuat,” ucapnya di pengajian Muhammadiyah, di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Senin (26/01/2026).

Iklan

Apalagi, akhir-akhir ini penyakit mental seperti panik hingga depresi makin marak terjadi. Penyebabnya pun bisa macam-macam, mulai dari masalah keluarga, PHK, stres mencari kerja, hingga bencana alam. 

Tak sedikit juga manusia yang lebih memprioritaskan gaya hidup modern seperti bekerja tak kenal waktu hingga mengorbankan ibadahnya. Banyak orang bekerja mati-matian, kata Budi, tetapi salat dilakukan asal-asalan.

Padahal Allah telah menegaskan dalam Surah Thaha ayat 132, La nasaluka rizqa, nahnu narzuquk—Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki. Menurut Budi, ayat ini menunjukkan bahwa tugas manusia adalah salat dan taat kepada Allah, sementara urusan rezeki adalah jaminan dari-Nya.

Saat manusia lalai beribadah

Budi merasa banyak orang mulai abai dengan meninggalkan salat karena merasa masalahnya tak akan selesai hanya dengan salat. Bahkan, ada yang masih salat tapi dilakukan dengan asal-asalan atau sekadar gugur kewajiban. Misalnya, salat tetapi tidak menggerakkan bibir ketika membaca surat, atau melaksanakannya secara tergesa-gesa tanpa kekhusyukan.

Menurutnya, memang betul, salat bukanlah satu-satunya solusi. Bahkan wajar jika orang mudah gelisah, banyak berkeluh kesah saat tertimpa kesulitan, dan kikir ketika memperoleh kelapangan karena itu merupakan sifat dasar yang dimiliki manusia. Namun, Allah memberi pengecualian dengan firman-Nya illal musallin—kecuali orang-orang yang mendirikan salat.

Artinya, salat tetap menjadi ‘cahaya’, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, ash-shalatu nur. Cahaya bagi hati, wajah, alam kubur, hingga padang mahsyar. Oleh karena itu, jika masalah belum selesai padahal sudah salat maka yang diperlu diperhatikan adalah caranya.

“Kalau hidup terasa penuh kerugian dan kesempitan, coba evaluasi salat kita. Sudah dijaga belum? Sudah sesuai tuntunan belum?” kata Budi.

Pelihara salat dengan memahami makna bacaan

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 238, Allah memerintahkan manusia untuk memelihara salat. Memelihara artinya bukan sekadar rutin mengerjakan, tetapi menjaga kualitas dengan memahami makna bacaan.

“Kalau kita paham makna ‘memelihara’, maka salat itu dijaga seperti kita merawat sesuatu yang berharga. Jangan sampai lewat waktu, jangan asal gerakan, jangan tanpa ilmu. Bahkan bacaan pun harus dilafalkan, bukan hanya di dalam hati,” tutur Budi.

Ia menegaskan salat adalah perjalanan rohani yang mendekatkan hamba kepada Allah. Ia memberikan ketenangan spiritual, menjadi terapi psikologis dari stres dan kecemasan, memperbaiki hubungan sosial, serta membuka pintu keberkahan rezeki. Seperti kata Imam Syafi’i, siapa yang memperbaiki salatnya, maka Allah akan memperbaiki urusannya. 

“Apa yang paling kita cari dalam hidup ini kalau bukan ketenangan? Dan ketenangan itu bermula dari salat.” 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Asal Papua Cerita Beratnya Jalani Puasa 16 Jam di Amerika Serikat sebagai Minoritas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: fungsi salatkeutamaan salatMuhammadiyahperbaiki salatsalatsalat adalah tiang agama
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.