Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) tidak hanya mengasah sisi akademik mahasiswa saja. Tapi juga memberi pelajaran kehidupan. Sebab, kuliah di kampus/PTN Islam tersebut membuat mahasiswa harus tahan-tahan dengan penderitaan.
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) karena murah
Setidaknya hingga sebelum Covid-19, UIN menjadi PTN kerakyatan. Karena masih sangat mudah mendapatkan UKT murah (di bawah Rp1 jutaan).
Masuk kuliah pada 2017, saya mendapat UKT Rp900 ribu. Beberapa teman saya bahkan bisa mendapat keringanan hingga hanya membayar Rp400 ribu persemester.
Memang, salah satu motif saya kuliah di UIN tidak lain adalah karena pertimbangan UKT tersebut. Saya sebenarnya diterima di sebuah PTN ternama di Solo. Namun, karena UKT ada di angka Rp2 jutaan, sementara di saat bersamaan saya keterima di UIN dengan UKT ratusan ribu saja, jelas saya memilih kuliah di kampus Islam saja.
Pasalnya, saya juga harus mempertimbangkan: selain biaya UKT persemester, juga ada biaya hidup sehari-hari.
Berteman dengan lapar, untuk sekadar makan harus mikir sekian kali
Menjadi mahasiswa UIN pada akhirnya memang semakin menempa ketahanan saya. Meski saya terbiasa hidup pas-pasan di kampung halaman, tapi tidak pernah terbayang kalau di perantauan saya harus tidur di sebuah kos super kumuh, pengap, penuh kecoa, dan wc-nya sering mampet hingga tahi-tahi di dalamnya menyembul ke permukaan. Tapi ya bagaimana lagi, itu yang paling murah: Rp200 ribu.
Di rumah, saya memang terbiasa makan ala kadarnya. Umumnya makanan khas desa pesisir (Rembang, Jawa Tengah). Namun, selama menjadi mahasiswa UIN, memang harus benar-benar berteman dengan lapar. Untuk sekadar makan saja harus mikir sekian kali.
Pertemanan dengan lapar itu terjadi makin intens setelah saya tahu fakta: ternyata kebanyakan teman saya—yang alumni pesantren—ternyata juga menjalani “laku prihatin” selama kuliah di UIN.
Bukan untuk tirakat tertentu. Tapi mau tidak mau. Sebab, teman-teman dengan latar belakang pesantren itu juga kuliah dengan modal pas-pasan. Uang saku tidak seberapa, jadi harus eman-eman betul kalau mau mengeluarkannya.
Saya sedikit beruntung karena kemudian saya selalu membawa beras dari rumah: masak sendiri di kosan. Itu memungkinkan saya lebih hemat untuk makan dua kali di kosan. Sementara beberapa teman saya, ada yang makan sehari sekali. Dua hari sekali. Itupun harus benar-benar menemukan warung makan yang menyediakan harga Rp8 ribuan.
Kalau toh bisa makan dua kali sehari, seringnya jelas Indomie campur nasi. Di kalangan mahasiswa UIN tempat kami kuliah (UIN Sunan Ampel Surabaya), ada Warung Pak Ali yang menjual menu Indomie+nasi dengan harga Rp5 ribuan. Begitu juga di kampus-kampus UIN lain, ternyata ada juga warung-warung makan langganan untuk bertahan hidup dengan uang pas-pasan.
Masjid dan seminar: tempat mengganjal perut hingga perbaikan gizi
Saya dan beberapa teman sesama mahasiswa UIN dulu pernah menjadi “snack dan nasi kotak hunter”. Kalau ada selebaran acara yang memungkinkan kami dapat snack gratis, maka kami akan berangkat. Lumayan untuk mengganjal perut.
Kami juga rutin berbagi info: masjid mana yang terkenal selalu bagi-bagi nasi kotak setelah salat Jumat atau bagi-bagi menu berbuka selama bulan Ramadan. Kami tidak segan berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain.
Di area belakang UINSA (daerah perumahaan semi-elite di Wonocolo) kami memiliki masjid langganan. Kalau buka puasa menunya selalu ugal-ugalan: ada takjil gorengan, kurma, buah, teh hangat, kadang es buah. Setelah salat Magrib lalu dibagikan nasi kotak berisi menu yang masuk kategori “perbaikan gizi” bagi mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Kebanyakan yang datang dan antre bukan bocil-bocil setempat. Tapi justru para mahasiswa UIN.
Saya bahkan masih berbuka di sana bahkan setelah lulus kuliah. Terakhir adalah saat Ramadan 2023. Lumayan, buka puasa di masjid tersebut membuat saya sama sekali tidak keluar uang buat makan selama Ramadan.
Bagaimana tidak. Sehabis berbuka, sering kali takmir masjid mengeluarkan sisa nasi kotak dari dalam ruangannya yang ternyata masih banyak. Lalu dibagikan kepada jemaah yang masih berdiam diri di masjid. Lumayan kan buat makan sahur.
Tidak semua punya laptop dan kos, hidup penuh siasat untuk nugas dan tidur
Tidak hanya teman-teman saya di UINSA saja, ternyata di kampus UIN lain juga ada cerita serupa: mahasiswa kuliah tanpa modal laptop ataupun kos.
Untuk urusan tugas kuliah, harus pinjam dari satu teman ke teman lain. Sementara untuk urusan tidur, ini malah lebih sepele, di manapun bisa jadi tempat tidur: sekretariat organisasi, warung kopi, di masjid (kalau jadi marbot), atau menjadi benalu di kos teman. Benar-benar kuliah “modal iman”: percaya akan pertolongan Allah Swt.
Saya menjadi saksi hidup yang bersinggungan langsung dengan model mahasiswa kampus/PTN Islam itu dengan laku hidup memprihatinkan. Dulu saya kira saya sudah paling kere. Tapi saya harus lebih bersyukur, setidaknya saya sempat menabung hingga bisa membeli laptop.
Laptop saya tersebut pada akhirnya menjadi laptop sejuta umat. Sebab, ada beberapa teman yang tidak punya laptop. Sehingga untuk keperluan tugas kuliah harus mengantre laptop saya. Ya benjut lah laptop saya itu, seperti saya tulis di, “Laptop ASUS: Meski Busuk dan Bikin Malu sama Orang Berlaptop “Apel Kroak”, Tapi Saksi Banyak Orang Tuntaskan Skripsi hingga Cari Cuan“.
Tidak hanya laptop, tidak semua teman saya, mahasiswa UIN, punya kos. Beberapa ada yang nebeng di kos saya. Numpang naruh barang dan mandi. Sesekali numpang tidur kalau sedang sungkan tidur di warung kopi.
Obrolan dengan alumnus UIN di Jogja, Semarang, hingga Jakarta menunjukkan fakta: ternyata mahasiswa semacam itu banyak ditemui di UIN. Benar-benar mode mbambung untuk survive di perantauan.
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN): kuliah sambil kerja karena tidak ada pertolongan oang tua
Kuliah sambil kerja sebenarnya sudah umum di kalangan mahasiswa. Namun, untuk mahasiswa UIN, umumnya bekerja di sektor informal: jadi penjaga warung kopi, pelayan di warung makan, kuliah sambil jualan pentol, dan sejenisnya.
Hasilnya jelas tidak seberapa. Itulah kenapa, hasil kerja itu ditabung lebih banyak untuk jaga-jaga bayar UKT di semester berikutnya. Sementara untuk makan bisa sekadarnya.
Pasalnya, misalnya dalam kasus teman-teman saya, kalau tidak ubet mencari uang sendiri dan mengelolanya sebaik mungkin, kalau kehabisan uang opsinya hanya utang ke teman—yang itupun gambling juga apakah teman bisa mengutangi atau tidak. Tidak ada opsi aman: kehabisan uang langsung minta orang tua.
Terbiasa lapar dan capek, lebih tatag hadapi kehidupan
Beberapa teman alumni Universitas Islam Negeri pada akhirnya mengaku benar-benar mendapat banyak pelajaran kehidupan dari kuliah di kampus/PTN Islam tersebut.
Terbiasa lapar dan capek membuat mereka merasa lebih tatag dalam menjalani kehidupan. Menghadapi penderitaan sudah biasa. Alih-alih merintih dan meratap, mereka justru makin ubet untuk mencari solusi.
Penderitaan atau nasib buruk yang dialami, bukannya membuat mereka bersedih, tapi justru jadi bahan bercandaan. “Umume wong lanang, yo kudu mobat-mabit no sayangku (Umumnya laki-laki, ya harus pontang-panting dong sayangku).” Misalnya celetukan semacam itu.
Ah, ini memang bukan sekadar tempaan fisik dan mental, tapi juga spiritual. Mereka menaruh keyakinan pada kuasa Ilahi di atas ikhtiar dan kuasa manusia. Itu membuat mereka selalu yakin: baik atau buruk situasi yang mereka hadapi, itu hanya persepsi. Yang paling tahu kan Gusti Allah. Bagi mereka, baik atau buruk, manusia hanya bisa menjalani dan menikmati. Itulah iman. Dan itu bagian yang, saya sendiri sebagai alumnus UIN, masih gelagapan mengamalkannya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: 4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
