Ketika mendengar kata “ruqyah”, bayangan yang muncul di benak banyak orang sering kali berangkat dari adegan di televisi: mulai orang kesurupan, teriak-teriak, lalu ada ritual pengusiran jin. Padahal ruqyah tidak melulu begitu, sebagaimana yang dikenalkan oleh Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA).
Jamiyyah Ruqyah Aswaja justru lahir sebagai koreksi atas citra semacam itu. Organisasi ini menegaskan bahwa ruqyah ala Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tidak melulu identik dengan tontonan mistis, melainkan pengobatan berbasis Al-Qur’an yang berjalan beriringan dengan tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.
Lahir dari Pesantren Kecil di Jombang
Jamiyyah Ruqyah Aswaja, yang biasa disingkat JRA, pertama kali muncul pada 15 Januari 2013 di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pendirinya adalah kader muda Nahdlatul Ulama bernama Allamah Alauddin Shiddiqy, yang akrab disapa Gus Amak. Saat itu, Gus Amak juga menjabat Ketua PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) PCNU Jombang angkatan pertama.
Nama organisasi ini berganti beberapa kali sebelum menetap menjadi “JRA”, antara lain:
- Awalnya bernama Ruqyah Syar’iyyah An-Nahdliyyah
- Berganti jadi Jam’iyyah Ruqyah Sunan Kalijaga (JRS), karena lahir sebagai unit sosial Thibbun Nabawi di pesantren tersebut
- Ketika pelatihan mulai digelar di luar Jombang, pertama kali di Madiun pada 31 Juli 2016, namanya berubah jadi Ruqyah Aswaja Jatim (RAJ)
- Barulah pada 2017, seiring makin banyaknya peminat di luar Jawa Timur, nama Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) resmi dipakai dan organisasi ini berbadan hukum lewat SK Kementerian Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0013492.AH.01.04. Tahun 2017.
Karena nama JRA baru resmi sejak 2017, hari lahir (harlah) organisasi ini pun dihitung mulai tahun itu, meski cikal bakalnya sudah ada sejak 2013. Setiap 15 Januari, JRA memperingati harlahnya kembali di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, lokasi yang sama dengan tempat organisasi ini dirintis. Misalnya saja, peringatan harlah ke-6 pada 2023 mengusung tema “Ruqyah Semangat Indonesia Sehat”, sebagai respons atas dampak pandemi Covid-19 terhadap kondisi mental dan ekonomi masyarakat.
JRA bernaung di bawah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Menurut Wakil Ketua Umum PP JRA saat itu, Gus Nur Al-Hajr, salah satu alasan JRA dibentuk adalah untuk mengimbangi narasi kelompok tertentu yang kerap menuduh amaliyah-amaliyah NU berhubungan dengan jin.
Kenapa Harus Ada “Aswaja”? Ini Bedanya dengan Ruqyah Syar’iyyah ala Salafi
Penyisipan kata “Aswaja” dalam nama organisasi ini bukan tempelan. Sebuah kajian akademik tentang praktik ruqyah di Tulungagung mencatat bahwa ruqyah syar’iyyah yang lebih dulu populer, termasuk lewat tayangan televisi, cenderung berafiliasi pada ideologi salafi.
Kemunculan JRA, yang menyatakan afiliasi dengan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, jadi semacam langkah untuk menghadirkan pilihan lain yang lebih sesuai dengan corak keislaman mayoritas warga NU. Riset yang sama mencatat adanya persaingan antarkomunitas ruqyah di beberapa daerah, termasuk soal motif dakwah, ekonomi, dan basis massa.
Salah satu keresahan yang mendorong lahirnya ruqyah aswaja adalah citra ruqyah yang identik dengan kesurupan di layar kaca. Dalam sebuah acara ruqyah massal di Surabaya, Ketua JRA Surabaya, Gus Mafrohul Walidain (Gus Ong), sampai harus meluruskan langsung ke jemaah bahwa tayangan ruqyah yang bikin orang kejang-kejang dan “kerasukan jin” di televisi itu sudah masuk ranah hiburan, bukan pengobatan sesungguhnya.
Menurutnya, ruqyah aswaja menempatkan Al-Qur’an sebagai media atau obat utama, baik untuk keluhan medis maupun nonmedis, tanpa perlu drama kesurupan sebagai “bukti keberhasilan”. Poin pentingnya, kesembuhan diyakini murni datang dari Allah, sementara Al-Qur’an hanya perantara.
Perbedaan lain terletak pada rujukan fikih dan manhaj yang lebih luas, termasuk soal bermazhab. Halaman resmi JRA Wilayah Riau secara eksplisit menyebut misi mereka adalah “membumikan Al-Qur’an dan Sunnah serta bermazhab”. Sebuah penekanan yang jadi ciri khas Aswaja Nahdliyin, berbeda dari kelompok yang menolak bermazhab.
Metode Pengobatan Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Bukan Cuma Baca Ayat
Praktik JRA jauh lebih luas dari sekadar membaca ayat suci. Organisasi ini memadukan beberapa jenis terapi sekaligus, dengan Al-Qur’an tetap sebagai fondasi utama, sesuai slogan yang terus dipakai berbagai cabang JRA: “Al-Qur’an adalah obat pertama dan utama”. Prinsip ini merujuk pada keyakinan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan Asma Allah bisa jadi sarana penyembuhan, baik untuk penyakit medis (fisik) maupun nonmedis (psikis), asal diamalkan sesuai bimbingan ulama Ahlussunah wal Jamaah.
Riset resepsi Al-Qur’an di kalangan keluarga besar JRA Kota Palembang menemukan bahwa kepercayaan pasien (disebut marqi) terhadap kesembuhan lewat ruqyah berkaitan erat dengan tingkat keyakinan mereka sendiri, baik dari sisi peruqyah (raqi) maupun pasiennya.
Berbeda dari sebagian metode ruqyah yang berdiri sendiri, riset tentang pengaruh JRA Kota Malang mencatat bahwa terapi ruqyah di lingkup JRA biasa disinergikan dengan bekam dan herbal, semuanya tetap berlandaskan paham Ahlussunnah wal Jamaah Nahdliyin.
Semua metode ini sebetulnya berada di bawah payung yang lebih besar, yaitu Thibbun Nabawi, atau pengobatan ala Nabi Muhammad SAW, sesuai status awal unit ini sebagai “Unit Sosial Thibbun Nabawi” di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga.
Ketua Umum PP JRA, KH Abdul Wahab, pernah menjelaskan dalam sebuah program pengobatan ala NU, bahwa hakikatnya semua persoalan hidup bisa didekati lewat ruqyah, bahkan hal sesederhana memperbanyak istighfar untuk melancarkan rezeki pun dianggap termasuk pola ruqyah. Ia membagi persoalan manusia jadi dua, yang sifatnya klinis/medis dan yang sifatnya psikis. Penjelasan ini menegaskan bahwa ruqyah aswaja diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti, penanganan medis konvensional.
Di beberapa daerah, seperti Pringsewu, Lampung, kegiatan ruqyah massal JRA juga dibarengi terapi totok candu untuk membantu masyarakat yang ingin lepas minuman keras, game online, hingga gawai.
Cara Jadi Praktisi, Jalur “Ijazahan” Warisan Pesantren
Lonjakan jumlah praktisi JRA enggak lepas dari mekanisme pelatihan yang masyhur disebut “ijazahan”, istilah pesantren untuk proses pemberian izin mengamalkan suatu bacaan atau ilmu dari guru ke murid. Setelah peminat dari luar pesantren makin banyak, pelatihan pertama kali digelar di luar Kabupaten Jombang, tepatnya di Madiun pada 31 Juli 2016. Dari sinilah organisasi ini mulai punya cabang di berbagai daerah, diawali lima kabupaten; Jombang, Madiun, Pasuruan, Malang, dan Nganjuk.
Pola serupa lantas direplikasi di banyak daerah lain. Di Jakarta misalnya, JRA DKI Jakarta pernah menggelar Pelatihan Praktisi Ruqyah Aswaja langsung di Gedung PBNU, dengan menghadirkan pembina sekaligus mujiz JRA, Gus Alauddin Siddiqy, sebagai pengajar. Peserta dibekali buku pegangan berisi teori, lalu langsung mempraktikkan cara meruqyah.
Setelah resmi berbadan hukum pada 2017, JRA membentuk struktur kepengurusan berjenjang mulai dari Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW) di tingkat provinsi, hingga Pengurus Cabang (PC) di tingkat kabupaten/kota. Struktur ini memungkinkan pelatihan digelar merata di berbagai daerah tanpa harus semua calon praktisi datang langsung ke Jombang.
Yang menarik, motivasi menjadi praktisi JRA selalu dikaitkan dengan semangat dakwah, bukan semata keterampilan pengobatan. Ketua PW JRA Jakarta, Ade Komarudin, pernah menyebut bahwa pelatihan ini juga bagian dari mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke masyarakat lewat jalur pengobatan ruqyah. Gus Abdul Wahab bahkan pernah mengingatkan para praktisi agar tetap menjaga niat berdakwah, bukan sekadar mengejar keuntungan pribadi.
Jamiyyah Ruqyah Aswaja Makin Melenting, dari Puluhan jadi Puluhan Ribu Anggota
Berikut rangkuman jumlah anggota/praktisi JRA berdasarkan berbagai laporan resmi dari waktu ke waktu:
| Tahun | Jumlah anggota/praktisi |
| Agustus 2018 | ± 3.750 orang |
| Desember 2019 | ± 20.000 orang |
| Agustus 2020 | ± 25.000 orang |
| Desember 2022 | 50.000+ orang |
Data ini disampaikan dalam berbagai kesempatan resmi, termasuk oleh Wakil Ketua Umum PP JRA saat itu, Gus Nur Al-Hajr, yang pada 2019 menyebut JRA sebagai jamiyyah ruqyah terbesar di Indonesia dan optimistis jadi yang terbesar di dunia. Klaim jumlah anggota terbaru juga disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP JRA, Gus Abdul Wahab, dalam pelantikan Pengurus Pusat periode 2022-2027 di Kulonprogo, Yogyakarta.
Dari lima cabang awal, jaringan JRA kini tercatat hadir di berbagai wilayah, antara lain Surabaya, DKI Jakarta, Riau, Lampung (termasuk Pringsewu dan Lampung Tengah), Palembang, Tulungagung, Banjarnegara, dan Purworejo. Tiap cabang biasanya rutin menggelar kegiatan ruqyah massal dan pelatihan praktisi baru.
Dakwah Seluas-luasnya, JRA Ekspansi sampai Taiwan
Pada pelantikan Pengurus Pusat JRA periode 2022-2027 di Kulonprogo, Yogyakarta, akhir 2022, Gus Abdul Wahab mengumumkan rencana yang cukup ambisius: membuka pelatihan praktisi ruqyah aswaja di luar negeri, dimulai dari Taiwan pada Januari 2023. Langkah ini menyasar komunitas pekerja migran Indonesia yang selama ini jadi bagian penting jaringan dakwah NU di luar negeri.
Gus Wahab juga mengingatkan bahwa dengan makin besarnya JRA, tantangan ke depan juga makin banyak ia mengibaratkan organisasi ini “seperti gadis cantik” yang akan makin banyak digoda kepentingan lain, sehingga niat dakwah para praktisi harus terus dijaga agar tidak melenceng jadi sekadar mengejar profit.
Dari unit sosial kecil di sebuah pesantren Jombang pada 2013, Jamiyyah Ruqyah Aswaja tumbuh menjadi jaringan lintas provinsi bahkan lintas negara dengan puluhan ribu praktisi. Pertumbuhan ini menunjukkan bagaimana organisasi keagamaan berbasis NU bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman — memadukan tradisi pesantren (ijazahan, Thibbun Nabawi, bekam, herbal) dengan pendekatan organisasi modern (badan hukum resmi, struktur berjenjang, ekspansi ke luar negeri), tanpa kehilangan identitas Aswaja Nahdliyin yang jadi pembeda utamanya dari ruqyah syar’iyyah bercorak salafi.
Sumber: NU Online, tesis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan laman resmi berbagai cabang Jamiyyah Ruqyah Aswaja.
Penulis: Ibil S Widodo
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita Peruqyah di Jogja Sembuhkan Orang Katolik Kerasukan Pakai Doa Islam, Terbukti Ampuh tapi Ngeri Hadapi Iblis Terkuat atau konten Mojok lainnya di rubrik Mojok.co
