Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Belakangan ini, di linimasa media sosial saya, pemandangannya hampir serupa. Banyak orang pamer saldo emas digital, unggah foto logam mulia yang mereka beli, hingga unggahan berita harga emas yang lagi-lagi menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. 

Di tongkrongan pun setali tiga uang. Teman-teman yang biasanya sibuk bicara skor bola atau ngoceh soal pemerintah, kini mulai bertanya, “Beli emas sekarang telat enggak, ya?” atau “Mending beli emas batangan atau perak sekalian?”

Lho, lho, lho!

Usut punya usut, fenomena ini bukan tanpa alasan. Emas mendadak jadi primadona karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia, bikin banyak orang merasa cemas akan masa depan nilai uang mereka.

Alhasil, harga emas dunia melejit dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Per tulisan ini ditayangkan, Kamis (29/1/2026), harga emas spot melonjak di atas 5.000 dolar AS per ons. Melansir laman resmi situs PT Antam, harga emas satuan 1 gram menyentuh Rp2.968.000 per batang.

Ini adalah level tertinggi dalam catatan pasar global.

Namun, di tengah hiruk-pikuk “demam emas” ini, ada baiknya kita menepi sejenak dari keriuhan media sosial dan melihatnya dengan kepala dingin. Mengapa emas begitu sakti saat terjadi konflik global? Dan benarkah emas adalah satu-satunya pilihan, atau mungkinkah perak justru menyimpan peluang yang lebih besar?

“Pengaman” di tengah dunia yang awut-awutan

Secara historis, emas dianggap sebagai safe haven atau “pelabuhan yang aman”. Dalam bukunya yang bertajuk Principles for Dealing with the Changing World Order (2021)–kebetulan baru saja saya baca, investor kawakan Ray Dalio menjelaskan bahwa dunia bergerak dalam siklus besar. 

Salah satu cirinya, adalah ketika sebuah negara atau kekuatan besar mulai mencetak uang secara masif untuk menutupi utang dan membiayai konflik, nilai mata uang kertas (fiat) perlahan akan tergerus oleh inflasi.

Dalam kondisi seperti ini, emas menjadi “uang yang sebenarnya” karena jumlahnya terbatas dan tidak bisa dicetak sembarangan oleh bank sentral mana pun. 

Dalio mencatat bahwa selama ribuan tahun, emas adalah satu-satunya aset yang tidak memiliki counterparty risk atau risiko di mana nilai aset kita bergantung pada janji atau kestabilan pihak lain. Jika sebuah bank bangkrut atau negara terkena sanksi ekonomi berat, emas fisik di tangan kamu tetaplah emas.

Data dari World Gold Council (WGC) memperkuat hal ini. Dalam laporan-laporan terbarunya, WGC mencatat adanya tren “borong emas” yang dilakukan oleh bank-sentral di seluruh dunia. 

Mereka bukan sekadar ikut-ikutan tren, tetapi sedang melakukan diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada Dollar AS. Jika institusi keuangan paling berkuasa di dunia saja merasa perlu memegang emas fisik untuk menjaga kedaulatan ekonominya, maka sangat logis jika kita, sebagai individu, juga merasa perlu memilikinya sebagai “asuransi” finansial.

Emas vs perak, mana lebih baik?

Meski emas mendominasi pembicaraan, perak sebenarnya adalah saudara kandung yang sering kali terlupakan. Padahal, jika kita merujuk pada ulasan dari laman Sahabat Pegadaian, perak memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki emas.

Pertama, adalah soal aksesibilitas. Mari bicara jujur, harga emas yang melonjak gila-gilaan membuatnya makin sulit dijangkau bagi mereka yang baru ingin mulai menyisihkan uang kecil. Di sinilah perak masuk sebagai alternatif. 

Dengan harga yang jauh lebih terjangkau, perak memungkinkan siapa saja untuk mulai memiliki aset logam mulia tanpa harus menunggu tabungan terkumpul jutaan rupiah.

Namun, lebih dari sekadar harga murah, perak punya peran ganda. Jika emas murni merupakan aset moneter, perak adalah aset industri yang krusial. Dalam konteks ekonomi global saat ini, perak sangat dibutuhkan dalam teknologi masa depan, seperti panel surya untuk energi terbarukan dan komponen kendaraan listrik. 

Artinya, harga perak tidak hanya dipicu oleh rasa takut akan perang (seperti emas), tapi juga oleh laju inovasi teknologi dunia.

Lalu, mana yang lebih baik? Di sinilah kita perlu memahami konsep Gold-Silver Ratio (GSR). GSR adalah angka yang menunjukkan berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas. 

Secara historis, jika angka GSR sudah terlalu tinggi (perak dianggap sangat murah dibanding emas), perak cenderung akan mengalami lonjakan harga yang lebih tinggi secara persentase untuk mengejar ketertinggalannya.

Jika kamu adalah tipe orang yang mencari stabilitas dan ingin “tidur nyenyak” di tengah ketidakpastian global, emas adalah pilihannya. Ia tidak terlalu fluktuatif dan lebih ringkas disimpan. 

Namun, jika kamu memiliki profil risiko yang sedikit lebih berani dan mencari potensi keuntungan yang lebih agresif, perak bisa menjadi senjata rahasia.

Emas harus dilihat sebagai asuransi

Penting untuk diingat bahwa membeli logam mulia di tengah situasi geopolitik yang panas bukanlah strategi untuk menjadi kaya dalam semalam. 

James Rickards dalam bukunya The New Case for Gold berargumen bahwa emas sebaiknya dilihat sebagai bentuk asuransi terhadap kegagalan sistem. Analogi yang dia sodorkan, “kita membeli asuransi kebakaran bukan karena kita ingin rumah kita terbakar, melainkan agar kita tidak hancur secara finansial jika hal buruk itu benar-benar terjadi.”

Logika yang sama berlaku untuk emas dan perak saat ini. Kita membelinya karena sistem finansial global sedang berada di titik yang sangat rapuh. Inflasi yang persisten dan potensi perang yang bisa meluas adalah ancaman nyata bagi daya beli kita.

Nassim Nicholas Taleb, dalam teorinya tentang Antifragile, menyebutkan bahwa ada aset-aset yang justru mendapatkan keuntungan dari kekacauan. Logam mulia masuk dalam kategori ini. 

Ketika pasar saham merah membara dan mata uang bergejolak, emas dan perak cenderung berdiri kokoh atau bahkan bersinar lebih terang.

Paling aman: 80 persen emas, 20 persen perak

Jadi, kalau teman tongkronganmu, sebagaimana kawan tongkrongan saya tanya lagi, “Bagusan emas atau perak?”, jawabannya kembali ke tujuan masing-masing.

Emas adalah benteng pertahanan. Ia menjaga apa yang sudah kamu miliki agar tidak hilang dimakan zaman dan gejolak politik. Sedangkan perak, adalah “pasukan penyerang” yang punya potensi memberikan keuntungan lebih besar, meski jalannya mungkin lebih terjal dan berliku.

Secara taktis, banyak pakar menyarankan kombinasi keduanya. Misalnya, 80 persen emas untuk keamanan dan 20 persen perak untuk spekulasi pertumbuhan. Strategi ini memungkinkan kamu memiliki kaki di dua tempat: keamanan maksimal dari emas dan peluang cuan dari perak.

Yang jelas, dari yang saya pelajari, jangan membeli hanya karena melihat orang lain melakukannya di media sosial. Belilah karena kamu paham bahwa di dunia yang sedang bergeser ini, memiliki aset yang nyata, bisa dipegang, dan diakui secara global adalah langkah paling rasional untuk menjaga masa depan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Waktu yang Tepat untuk Investasi meski Harga Saham Anjlok, Jika Uang Disimpan buat Konsumsi Nanti Tergerus Inflasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version