Fase paling menakutkan setelah lulus SMA adalah memastikan mendapat satu kursi di bangku perkuliahan. Jika bisa, perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, mengamankan kuota ini tidak akan mudah, khususnya ketika mengingat harus bersaing melawan seluruh Indonesia melalui UTBK SNBT, sehingga sebagian berpikir untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) agar “aman”. Padahal, bimbel tidak menjamin apa-apa.
***
Circa 2019, saya menjadi salah satu pelajar SMA yang merasakan ketakutan itu. Ingin masuk PTN, tapi tahu sulit. Coba legowo dengan berkuliah di swasta saja, sadar biaya kuliahnya yang mahal.
Namun di sisi lain, kalau mengikuti bimbel untuk menjaminnya, saya juga tahu biaya yang dikeluarkan untuk bimbel tidak murah. Jadilah saat itu, seakan-akan saya ditempatkan di persimpangan keputusan yang membuat dilema. Apa pun keputusannya seolah-olah berujung pada diterima atau tidaknya saya di PTN.
Meski sebenarnya, tidak juga. Saya tetap berhasil lolos PTN tanpa bimbel.
Bimbingan belajar, solusi “praktis” masuk PTN
Merasa getir seakan tidak diterima di PTN adalah akhir segalanya merupakan ketakutan yang sering terjadi pada sebagian pelajar begitu mereka akan lulus dari SMA. Membayangkan, tidak seperti teman-teman yang memakai almamater PTN. Juga, harus berusaha mengejar ketertinggalan, padahal sudah merasa tertinggal, pastilah mengerikan.
Makanya, bimbel di Indonesia menjamur.
Sedikitnya pada 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah usaha/perusahaan pendidikan di Indonesia mencapai 619.947 usaha. Jumlah ini setara dengan 2,32 persen dari jumlah usaha/perusahaan di Indonesia.
Meskipun tidak seluruhnya adalah bimbel persiapan untuk masuk kuliah, mengetahui bahwa pendidikan “ekstra” dijadikan sebagai sesuatu yang menguntungkan, serta ditingkatkan sudah menggambarkan adanya kebutuhan akan kelas tambahan di luar jam sekolah.
Sebuah publikasi dari Bank Indonesia pada 2010 juga menyebutkan sekitar 950 ribu anak tercatat sebagai peserta bimbel di Indonesia.
Semakin tahun, bimbel untuk seleksi UTBK semakin diminati
Animo siswa SMA terhadap bimbel yang dapat membantu dalam mempersiapkan seleksi PTN ini seakan tidak ada habisnya.
Salah satu bimbel di Surabaya kini dapat menembus lebih dari 300 siswa di berbagai cabangnya. Alasannya, para siswa dinilai butuh pendampingan intensif dalam mempersiapkan seleksi.
Namun pendampingan “intensif” tersebut tentu tidak gratis, tidak juga murah. Biaya paket persiapan masuk PTN tersebut dihargai sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta untuk durasi 10 bulan. Artinya, biaya bimbel merogoh Rp400 ribu per bulan.
Biaya yang tidak sedikit, tetapi masih rela dibayarkan untuk mendapat jaminan akan lolos ke bangku perkuliahan dalam seleksi UTBK SNBT.
Hal yang menguntungkan bagi pengusaha bimbel di satu sisi, seperti yang diakui Direktur Utama Genza Education Surabaya. “Respons orang tua sangat tinggi. Di beberapa center, target peserta selama setahun sudah tercapai hanya dalam beberapa bulan,” kata Syamsul Maarif, seperti dilansir dari Antara
Sementara itu, saya lebih memilih membayar kurang dari Rp400 ribu untuk belajar mandiri
Dari semua penawaran mengenai jaminan yang dijanjikan bimbel, saya memilih menjadi salah satu dari sebagian yang tidak tergiur.
Rasa-rasanya, ketimbang membayarkan berjuta-juta (yang uangnya bisa digunakan untuk berjaga-jaga barangkali harus mendaftar Ujian Mandiri) saya lebih memilih untuk belajar mandiri selama proses persiapan UTBK untuk SBMPTN—sebutan sebelumnya untuk UTBK SNBT.
Saat itu, saya ingat Tes Potensi Skolastik (TPS) menjadi momok tersendiri, khususnya untuk ujian pengetahuan kuantitatif. Maklum, saya bodoh sekali soal hitung-hitungan.
Karena itu juga, saya menghubungi salah satu teman yang pernah melaju ke Olimpiade Sains Nasional untuk mata pelajaran Matematika. Kurang lebih begini permohonan yang saya ajukan.
“Tolong ajarin Matematika dong.”
Lalu, setiap hari, saya akan mengusiknya dengan mengirimkan foto soal latihan yang tidak bisa saya jawab, atau foto soal dan kunci jawaban yang tidak bisa dipahami. Tapi, tidak apa-apa, saya yakin dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh, pertemanan itu transaksional dan harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
***
Begitulah yang terjadi selama tiga bulan sebelum UTBK SNBT. Saya mempersiapkan semuanya sendiri, mulai dari latihan soal sampai menemukan jawaban. Kadang-kadang menghubungi teman, kadang-kadang mencoba menemukan jawaban melalui penelusuran Google, dipersingkat melalui Brainly. Sebab, saat itu belum ada akal-akalan imitasi (AI).
Satu-satunya yang membantu saya secara konsisten adalah salah satu platform bimbel yang sayangnya telah tutup sejak 2024. Seingat saya, platform ini adalah bimbel paling murah dari sejenisnya, hampir-hampir hanya bersedekah.
Zenius namanya. Video belajarnya hanya hitam putih papan tulis. Tidak terlalu ada animasi, pemaparannya singkat tanpa basa-basi, durasi paling lama tiga menit, tapi itulah yang membantu saya melalui persiapan seleksi SNBT.
Penawaran menarik yang dibungkus dengan harga kurang lebih Rp400 per tahun, malah kurang dari itu seingat saya.
Namun bagaimanapun, saya rasa bukan cuma Zenius yang punya andil. Namun, konsistensi belajar hari itu selama tiga bulan dengan pantangan berupa, “Saya nggak boleh keluar, main, jalan-jalan, kalau belum lolos UTBK.”
Pantangan itu berlangsung selama tiga bulan dengan rutinitas yang isinya: bangun, mandi, makan, belajar, makan, belajar, dan ulangi.
Bimbel memberikan rasa “aman”, tapi belajar mandiri untuk lolos UTBK SNBT tidak mustahil
Bukan hanya saya yang belajar mandiri dan berhasil lolos ke PTN, salah satu yang terbaik di Indonesia pula. Ning (23) juga berhasil diterima Universitas Gadjah Mada berkat usahanya belajar sendiri.
“Pas zaman SMA dulu, pulang sekolah teman-teman sekelas langsung mencelat ke bimbelnya masing-masing. Aku langsung pulang karena bimbelku ya langganan Zenius yang waktu itu setahun Rp400 ribu,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Ning mengaku, ia lebih memilih untuk belajar mandiri dan tidak mengikuti bimbel yang merogoh kocek lebih mahal saat itu. Cara belajarnya sama, berjuang sendirian mati-matian.
Akan tetapi, perjuangan sendiri yang membuat Ning bertanya-tanya, “Kadang kepo, gimana rasanya belajar di bimbel? Apa yang ‘dijamin’ dari sana sampai pada rela bayar mahal?” tanyanya menggambarkan.
Meskipun usahanya telah membuahkan hasil, Ning membayangkan bahwa “jaminan” bimbel itu serupa rangkulan untuk berjuang sama-sama.
“Bimbel memberi sensasi jaminan bahwa mereka nggak sendiri di dunia yang makin kompetitif sendiri-sendiri ini,” katanya.
Ibaratnya, Ning melihat fenomena bimbel ini sebagai dorongan bahwa memang siswa SMA itu akan masuk ke ruang ujiannya sendiri. Lalu, mengikuti tesnya seorang diri. Namun setidaknya, segala persiapannya didampingi. Itulah harga yang harus dibayar mahal.
Bagi Ning, saya, dan mereka yang memilih untuk tidak bimbel, nyatanya masih ada kesempatan untuk menjadi “aman” tanpa harus ketakutan. Pada akhirnya, semua dijalani sendirian dan ditentukan oleh usaha masing-masing peserta.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: DeLiputanrita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik














