Sebagai anak kos di Jogja yang ingin mengirit gaji dengan memasak, saya baru sadar kalau soft skill memasang gas LPG sangat dibutuhkan. Mulai dari kesabaran dalam memeriksa karet seal, ketenangan saat memasang regulator, hingga kehati-hatian untuk memastikan tidak ada kebocoran. Ketika rasa percaya diri itu hilang, semuanya akan berakhir seperti cerita dari ibu kos.
Cerita kosan tua di Jogja yang dapurnya pernah kebakaran
“Dapur ini pernah kebakaran dulu. Apinya melebar sampai atap. Makanya ibu selalu waswas. Entah itu waktu pasang gas atau nyalain lilin waktu mati lampu,” ucap ibu kos saya di Jogja mengingat kejadian lama sekitar tahun 2000-an, sekaligus tanda kalau bangunan kosnya sudah tua.
Bahkan teman-teman yang sering berkunjung ke kos saya mengaku, suasananya tampak seram dari depan sampai belakang. Apalagi, dari belasan ruang kamar yang berukuran 3×4 meter, penghuni kosan selama satu tahun terakhir ini mentok hanya 3 orang, khusus perempuan.
Belum selesai memberikan respons manggut-manggut, tanda kalau saya turut prihatin dengan kejadian itu, ibu kos langsung mengajukan pertanyaan.
“Mbak bisa pasang gas?” tanyanya, Kamis (26/3/2026).
Mendengar pertanyaan dadakan tersebut, saya langsung kikuk. Tak tahu harus menjawab bagaimana. Sebab jujur saja, saya tak pernah punya pengalaman memasang gas LPG. Bahkan saat di rumah. Ibu saya seringkali mengandalkan ayah untuk memasang regulator.
Misi pertama anak kos membeli gas melon
Mengingat cerita ibu kos tadi, saya kembali sadar kalau ia punya harapan lebih kepada saya. Siapa tahu saya bisa membantunya memasang gas LPG yang habis. Sebagai perantau Jogja yang sadar telah menghabiskan gas LPG karena sering masak di kosan, saya jadi nggak enak untuk menolak tapi juga tidak bisa mengiyakan karena takut salah.
“Eh, nggak tahu, Bu, tapi saya ingin coba,” ucap saya tiba-tiba saking gusarnya.
“Oke, ibu titip buat beli gas di depan ya Mbak nanti siang, karena ibu mau keluar sampai besok,” ujarnya.
“Baik Bu,” kata saya akhirnya.
Siangnya, saya melaksanakan perintah tersebut dalam keadaan gusar. Saya membawa gas melon 3 kilogram dengan motor Mio saya untuk ditukar di toko kelontong. Setelah membayar dan buru-buru menaiki motor, si penjual toko perempuan lanjut usia mengingatkan saya.
“Karetnya jangan lupa, Kak,” kata dia.
Bego! Batin saya pada diri sendiri. Hampir saja saya melupakan benda sepenting itu. Bayangkan, bagaimana jadinya jika saya memasang regulator tanpa karet seal. Saya bukannya tidak riset, saya berencana melihat tutorial memasang gas di Youtube setelah membelinya.
Untung saja, saya tak perlu kembali ke toko untuk mengambil karet seal. Ibu di toko itu tadi akhirnya memberikan sejumlah karet, karena biasanya tak semua karet seal akan pas di mulut tabung LPG.
Pelajaran hidup dari gas melon untuk anak kos
Setelah melewati krisis pertama, saya akhirnya menonton tutorial memasang gas LPG di Youtube untuk pemula anti bocor. Sengaja saya tekankan kalimat di akhir saking takutnya. Melihat tutorial di Youtube saja sudah bikin deg-degan.
Padahal menurut video, waktu yang dibutuhkan tak sampai satu menit. Namun, kesalahan sedikit saja bisa menimbulkan dampak besar. Tak sedikit pula berita yang menyiarkan fenomena kebakaran akibat ledakan gas LPG. Tak pelak, berita itu pun bikin saya panik.
Bunyi “ssshhh!” terus terdengar saat saya memasang gas LPG pada percobaan pertama. Saya pun mengatur nafas selama beberapa menit agar lebih tenang dan mengganti karet seal lain untuk melakukan percobaan kedua. Sampai percobaan keempat, suara gas masih keluar walaupun tak sekeras tadi.
Masalahnya, saya tidak cukup yakin asal bunyi itu benar-benar menghilang. Akhirnya, saya gagal melakukan langkah terakhir yakni menyalakan kompor. Bayangan tentang dapur yang kebakaran dari cerita ibu kos tadi pagi langsung “play” di otak saya hingga kekhawatiran saya tidak berhenti.
Karena sudah takut duluan, saya akhirnya mengirim pesan berisi permintaan maaf kepada ibu kos dengan nada sedikit pilu, agar ia memaklumi kondisi saya. Setidaknya, saya sudah melakukan perintah pertamanya membeli gas.
“Ibu maaf, saya belum bisa pasang gas karena waktu saya coba bunyi terus,” ucap saya menambahkan emoticon tangan memohon di WhatsApp.
“Oh iya Mbak, nggak apa. Besok pagi ibu panggilkan kakak ibu (laki-laki) buat pasangin gas di kos,” jawabnya yang bikin beban di hati saya jadi lebih ringan.
Pada akhirnya saya sadar, memasang gas LPG sebenarnya tidak perlu teknik muluk-muluk. Hanya diperlukan keyakinan dan tingkat kepercayaan diri lebih tinggi untuk mengetahui hasilnya. Sama seperti hidup, butuh persiapan matang, kebijakan, dan keberanian untuk mengambil setiap keputusan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kenikmatan Ngekos Dekat Kampus UII, Cocok untuk Slow Living di Jogja dan Lebih Hemat Biaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
