“Begini nasib mengais sampah. Ke mana mana asalkan suka. Tiada orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang. Hati senang walaupun tak punya uang~”
Lirik lagu Koes Plus berjudul Bujangan mengalun sumbang saat saya datang di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon, Kecamatan Pedan, Klaten pada Rabu (8/7/2026) siang. Rupanya, lagu itu dinyanyikan oleh salah satu pemuda yang mengubah sedikit liriknya sesuai dengan aktivitas yang sedang dia jalani: mengais sampah.

Pemuda berkulit cokelat legam itu hanyalah satu dari puluhan pemulung di TPA Troketon, Klaten. Tak hanya pemulung laki-laki, Jumirah (54) menjadi salah satu perempuan di antara 3 rekannya yang turut berpacu dengan alat berat dan truk yang berdatangan.
Ketika lengan bego sibuk mengosongkan isi truk sampah, tangan Jumirah pun tak kalah cepat untuk memilah botol plastik, kardus, dan barang-barang yang masih layak pakai. Meski baru 4 tahun mengais sampah di TPA Troketon, Klaten, Jumirah berujar tak ingin kalah dengan rekan-rekannya yang rata-rata sudah 8 tahun menjadi pemulung.
“Pemulung di sini ada yang pernah dapat emas,” kata Jumirah saat ditemui Mojok di sesi istirahatnya.
Berdasarkan informasi dari petugas yang memperbolehkannya mengais sampah langsung di TPA Troketon, Klaten, Jumirah tahu bahwa tempat itu menampung 150 ton sampah residu per hari dari seluruh kecamatan di Kabupaten Klaten. Angka itu lebih banyak dibandingkan tahun 2022 yang berjumlah 95 ton sampah residu per hari. Sedangkan, TPA Troketon sendiri sudah berdiri sejak tahun 2016.
Tak pelak, peluang yang didapat Jumirah untuk menukarkan sampah ke pengepul pun jadi lebih besar. Dalam sehari, setidaknya Jumirah bisa mengumpulkan 30 kilogram sampah daur ulang. Sampah-sampah itu kemudian diberikan kepada pengepul dengan harga Rp100 ribu.
“Setiap jenis sampah harganya berbeda. Untuk botol plastik tanggung harganya Rp1.200 per kilogram, yang lebih besar lagi harganya Rp3.500 per kilogram,” kata Jumirah.
Tentu, Jumirah tak bisa membawa puluhan sampah tersebut dengan tangan kosong. Maka dari itu, biasanya dia menumpang di salah satu truk sampah yang kosong dan searah dari TPA Troketon, Klaten. Hal itu pun sudah wajar di kalangan sopir untuk membantu para pemulung menuju pengepul.
“Kalau nggak gitu, kami sewa di salah satu lahan untuk menginap beberapa hari,” kata Jumirah.
Untuk mencapai target harian yang dia tentukan sendiri, Jumirah rela mengais sampah dari pukul 06.00 hingga 18.00 dengan pola istirahat yang teratur. Hal itu dia lakukan rutin dari Senin-Minggu. Tak memungkiri juga rekan-rekannya di TPA Troketon, Klaten.
“Kalau nggak begini, saya dan keluarga nggak makan. Selagi fisik masih kuat, akan terus saya kerjakan untuk bertahan hidup,” kata ibu dua orang anak tersebut.
Fotografer: Aisyah Amira Wakang
Kurator: Muchammad Aly Reza
LIHAT JUGA: Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan