Panci penyok yang menghitam di bagian bawahnya itu jadi saksi bisu perjuangan Kalis Mardiasih bersama kelompok Suara Ibu Indonesia untuk menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga 1 tahun lamanya belum juga didengar oleh otoritas negara.
Suara panci dan klakson berpadu di Bundaran UGM
Selasa (8/9/2026) sore, Suara Ibu Indonesia menggelar Aksi Damai bertajuk “Jalan Sore Pukul Panci” sebagai peringatan satu tahun protes mereka menolak MBG. Aksi dimulai dari titik kumpul Tugu Golong Gilig menuju titik akhir Bundaran UGM dengan berjalan kaki bersama diiringi dengan suara panci yang nyaring.
Kalis berujar panci tersebut bukan hanya alat yang dipakai seorang ibu untuk memasak makanan sehat, tapi juga simbol protes mereka terhadap kasus keracunan massal dalam program MBG yang seiring berjalannya waktu terus memakan korban dalam jumlah besar.
“Aksi dengan memukul panci menjadi simbol yang sangat darurat, ketika para ibu telah keluar dari rumah mereka, membawa alat domestik yang biasanya di dalam rumah tetapi hari ini sudah keluar dari rumah meminta keadilan, meminta pengelola negara membuka kuping,” ucap Kalis.
“Kalau sudah dipukul seperti ini dan masih tidak mendengar, fix nggak punya malu,” lanjutnya.
Protes itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sebanyak 3 ribu orang telah menjadi korban program MBG pada tahun pertama. Kini, jumlahnya terus naik menjadi 43.838 orang.
“Ironinya, belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kalis.
Protes MBG: Alihkan dananya untuk penanganan bencana
Tak berhenti sampai di situ, alokasi MBG tak hanya merugikan orang tua dan anak. Kalis berujar dampaknya semakin meluas hingga memotong pos-pos anggaran lain, termasuk anggaran untuk penanganan bencana yang mestinya menjadi prioritas keselamatan warga.
Hal itu, kata Kalis, bisa tampak dari Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang terus digenjot, tapi fasilitas pendidikan dan kesehatan di berbagai daerah dibiarkan terbengkalai tanpa perbaikan yang berarti.
“Ironisnya, ketimpangan alokasi anggaran ini terjadi justru ketika Indonesia sedang dilanda rentetan bencana yang datang bertubi-tubi,” ucapnya.
Namun, pemerintah seolah bebal untuk mendengarkan suara hati rakyat. Alih-alih membuka ruang dialog, Kalis melihat bahwa pemerintah justru kerap merespons kritik dan protes rakyat dengan represi.
Oleh karena itu, Kalis selaku perwakilan dari kelompok Suara Ibu Indonesia berharap suara bising dari pukulan panci penyok miliknya mampu memekakan telinga para pemangku kebijakan, agar segera menghentikan kebijakan MBG.
“Kami mendesak pemerintah menghentikan program MBG dan mengevaluasi total tata kelolanya, serta mengalihkan anggarannya untuk memperkuat mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan pemulihan korban bencana secara tuntas bukan sekadar tanggap darurat sesaat,” tutur Kalis.
Lewat aksi kolektif yang dilakukan Suara Ibu Indonesia, mereka berharap saran dari dapur-dapur rakyat dapat melahirkan kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada keselamatan rakyat.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
LIHAT JUGA: Nyaring Panci Ibu-ibu di Jogja Memprotes MBG: Menu Tak Enak, Racuni Anak, dan Bikin Repot Guru atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan
