Alasan Gen Z Nggak Mau Punya Rumah: Milih Ngekos karena Nggak Perlu Merawat

Ilustrasi Alasan Gen Z Nggak Mau Punya Rumah. (Mojok.co)

Bukan hanya karena harga rumah tak masuk akal, ada alasan lain mengapa Generasi Z (Gen Z) cenderung tidak mau memiliki rumah pribadi. Bisa saja, orang-orang yang ingin punya rumah pribadi itu kena penyakit kultural.

***

Berkat tragedi jebolnya atap kamar mandi rumah, saya menjadi merenungi banyak hal. Sebab saat mencari tahu perkiraan biaya renovasi kamar mandi, jantung saya langsung mencelos. Pasalnya, membedah dan membangun ulang kamar mandi saja membutuhkan biaya sampai dua digit. Bak tsunami fakta, renovasi kamar mandi saja bikin megap-megap, apalagi membangun rumah?

Di sisi lain, Mojok menemukan ternyata banyak dari Gen Z yang tidak tertarik memiliki rumah tetap. Keduanya adalah Endah (22) dan Dhias (24). Sebagai Gen Z, mereka memiliki pandangan yang cukup berbeda mengenai rumah.

Tidak butuh rumah yang penting ada hunian

Sebagai mahasiswa yang baru saja lulus, Endah merasa tidak terlalu membutuhkan rumah. Apabila masyarakat melekatkan rumah dengan tempat tinggal seumur hidup, maka tidak dengan Endah. 

Baginya, rumah tidak melulu soal tempat tinggal permanen dan diisi oleh beberapa anggota keluarga. Endah memandang bahwa rumah adalah tempat di mana ia dapat mengakses segala kebutuhan dan mudah mengakses ruang publik.

“Kos-kosanku saat ini bisa dikatakan sebagai rumah karena memenuhi unsur-unsur tersebut. Aku bisa melakukan banyak hal dengan efektif,” terangnya. Pertimbangan utama Endah adalah terkait kemudahan ia menjangkau tempat kerjanya. Selain itu, tempat yang ia tinggali harus berada di area urban atau perkotaan yang dekat dengan fasilitas publik.

Senada dengan Endah, Dhias berpikir hal yang sama. Baginya, yang paling penting adalah hunian, entah itu sewa atau bangunan tetap. Kemudian menurut Dhias, rumah bukan hanya persoalan tempat atau bangunan, melainkan di tempat tersebut ia bersama siapa. “Aku pulang ke kontrakan ada kawan-kawanku,” imbuhnya.

Sebagai alumni Jurusan Arkeologi, Dhias melihat bahwa ketertarikan orang-orang Indonesia terhadap rumah tapak bisa jadi disebabkan fenomena historis. Sebab saat masa penjajahan, bangsa kolonial memiliki rumah tapak yang asri, halamannya luas, dan ada kebun. 

“Ada penyakit kultural juga. Kalau rumah tapak biasanya banyak seremoni-seremoni informal dan acara-acara kekeluargaan,” kata Dhias.

Gen Z pilih sewa dan investasi daripada punya rumah

Meski Endah merasa mantap dengan pilihan hunian sewa, tapi tidak dengan orang tuanya. Untuk menyikapinya, ia berniat menjelaskan dengan perlahan dan menunjukkan secara rasional soal apa saja benefit dari pilihan tersebut. “Ada kompensasi yang aku berikan kepada keluarga, terutama soal investasi,” jelas Endah.

Endah sangat sadar betapa tingginya harga tanah dan rumah dewasa ini. Mau sehebat apapun ia bekerja, Endah tetap merasa sulit untuk membeli rumah di tengah kota yang mudah mengakses apapun. Oleh karenanya, ia tak merasa keberatan untuk membayar uang sewa setiap bulannya. “Aku bisa melakukan investasi di bidang lain,” pungkasnya.

“Menurutku sebagai orang yang pilih sewa, rumah tidak sepenting itu,” tegas Endah. Selama ia masih bisa bekerja dan beraktivitas dengan normal, rasanya sudah cukup. 

Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jumlahnya sangat besar dan membuat kita sulit untuk menabung dan investasi. Itulah mengapa Endah merasa lebih menguntungkan investsi daripada ia harus mencicil rumah lewat KPR.

Punya rumah, biaya perawatan besar

Banyak orang lupa bahwa bukan hanya membangun rumah saja yang membutuhkan biaya, tetapi juga merawatnya. Endah sempat tinggal sebentar di Jepang, ia melihat bahwa orang Jepang sangat memerhatikan biaya perawatan rumah.

Daripada memiliki rumah pribadi, gen z memilih untuk sewa atau kos.
Daripada memiliki rumah pribadi, gen z memilih untuk sewa atau kos. (Ilustrasi Mojok.co)

Mereka menggelontorkan biaya besar untuk mitigasi bencana. “Setelah mengetahui risikonya, aku memilih untuk tidak dulu (untuk memiliki rumah),” tegas Endah.

Dikutip dari Rumah123, Kaukabus Syarqiah selaku Certified Financial Planner menekankan bahwa pemilik rumah harus menyiapkan dana renovasi sebesar 10 persen dari harga rumah. Kita perlu mempertimbangkan biaya perawatan rumah sebagaimana dikutip dari Lifepal. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan antara lain renovasi setiap 10—20 tahun, persiapan mitigasi bencana, mengecek kondisi atap, listrik, pajak, air, dan lain sebagainya.

Dhias mengamini hal tersebut. Sebagai Gen Z, ia mengungkapkan bahwa biaya membayar kos tiap bulan tak beda jauh dengan cicilan KPR.

“Bikin rumah juga kan ngeluarin uang tiap bulan mulai dari pemeliharaan sampai renovasi,” ujarnya. Itu jugalah yang membuat Dhias mengandalkan hunian sewa entah itu kos, kontrakan, atau barangkali apartemen.

Bergeser dari Dhias, Endah sendiri sudah mantap untuk menyewa apartemen. Sebab apartemen menawarkan sistem asuransi. Ketika ada bencana alam, terdapat jaminan dan kompensasi dari pemilik. Dengan menyewa, Endah merasa mampu memperkecil risiko-risiko tersebut karena ada induk semang yang akan bertanggung jawab. “Aku ada partner dalam mengatasi ketidakpastian yang ada dan itu membuatku merasa aman,” ungkapnya.

Reporter Mojok menanyakan kepada Endah, bukankah dengan hidup nomaden maka rasanya seperti hidup dalam ketidakpastian papan? Jawaban Endah, semua keputusan yang kita ambil pasti ada ketidakpastian dan risiko, termasuk punya rumah maupun tidak. Sama dengan Dhias, ia dengan lantang menjawab, “Kepastian hanya milik Allah.”

Mendorong kepastian hunian sewa untuk Gen Z

Sudah nyata dan jelas bahwa harga rumah saat ini terasa tak realistis bagi kaum mendang-mending. Menanggapi hal tersebut, Dhias menunjuk pengembang perumahan yang memiliki banyak andil. Mereka memainkan harga tanah dan dengan mudah mengambil alih fungsi lahan pertanian. “Para pengembang yang memiliki akses terhadap politik, mereka yang memenangkan pertarungan atas tanah,” tegas Dhias. 

Hunian sewa akhirnya menjadi andalan bagi kaum mendang-mending, salah satunya Dhias. Namun sayangnya, biaya hunian sewa pun juga bikin mikir dua kali. Melansir detik.com, rata-rata harga sewa kos yang strategis sekitar 600 ribu sampai di atas satu juta.

“Aku masih percaya dalam tahun-tahun ke depan kita bisa mendorong hunian sewa yang bukan hanya terjangkau, tetapi juga memiliki kepastian hukum,” ungkap Dhias. Sejauh yang ia tahu, belum ada kepastian hukum mengenai tenant housing atau penyewa hunian. Kendati pemangku kepentingsan tak bisa memastikan kepemilikan rumah pribadi bagi masyarakat, maka memberi kepastian hukum bagi para penyewa adalah selemah-lemah iman.

Reporter: Viola Nada Hafida
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Siasat Pekerja Punya Rumah Lewat KPR, Gaji UMR Jogja Bisa Punya Hunian?

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Exit mobile version