Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Anas Urbaningrum Bebas: Masih Dielu-elukan, Ancaman Demokrat, dan Bisa Ubah Peta Pencapresan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 April 2023
A A
anas urbaningrum mojok.co

Ilustrasi Anas Urbaningrum mantan Ketum Demokrat (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, akhirnya bisa menghirup udara bebas. Ia dinyatakan bebas dari Lapas Sukamiskin setelah menjalani hukuman delapan tahun penjara atas kasus korupsi.

Anas merupakan narapidana korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang pada 2010-2012. Ia telah bebas dari penjara sejak Selasa (11/4/2023) kemarin.

Mantan Ketum Partai Demokrat ini sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Februari 2013 setelah diduga menerima sejumlah uang dari proyek yang kini terbengkalai tersebut.

Kendati terbukti bersalah, Anas selalu mengklaim bahwa dirinya merupakan “tahanan politik” dan menyebut ia hanya korban kriminalisasi lawan politiknya. Perlu diketahui, Anas memang lawan politik keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bahkan, eks Ketua Umum PB HMI Ma’mun Murod sampai pernah bikin buku berjudul Anas Urbaningrum Tumbal Politik Cikeas. Dalam buku ini, Anas dinilai sebagai ancaman potensial bagi keluarga Cikeas. Sebab baru 2,5 tahun di Demokrat, ia mampu bikin partai melejit—sehingga harus disingkirkan.

Kini, Anas masih dielu-elukan para loyalisnya. Saat pembebasannya pun, ia disambut oleh para simpatisannya. Mulai dari Ketua Umum DPP KNPI Haris Pratama, Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum Muhammad Rahmad, serta sejumlah anggota DPR, mantan menteri, hingga korps alumni HMI.

Pertanyaannya, mengapa Anas masih dielu-elukan, dan kira-kira manuver apa yang bakal ia lancarkan selanjutnya?

Kenapa masih punya banyak loyalis?

Harus diakui, bebasnya Anas disambut dengan sangat gembira, jauh berbeda dengan penyambutan eks narapidana koruptor lainnya. Menurut pandangan pakar politik Universitas Padjadjaran, Firman Manan, ini terjadi lantaran Anas punya jejaring luas.

Sebagaimana diketahui, dalam karier politiknya, ia pernah Ketua HMI, komisioner KPU, hingga yang terakhir jadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Selain itu, lanjut Manan, terakit kasus yang menjerat Anas, sifatnya pun begitu menarik. Sebab, ada narasi yang menyebut bahwa Anas hanyalah korban kriminalisasi penguasa.

“Ini kelihatannya diyakini para loyalis dan pendukung bahwa Anas ini tak bersalah,” ungkap Manan, seperti dikutip dari Detik,  Rabu (12/4/2023).

Dengan demikian, menurut Manan faktor itulah yang membuat Anas hingga hari ini masih dielu-elukan. Bahkan, tokoh-tokoh nasional dan pejabat publik pun banyak yang secara terbuka mengatakan masih loyal kepadanya.

“Kalau enggak ada isu itu [kriminalisasi] bakal beda respon yang muncul dari pendukung,” jelasnya.

Tabuh genderang perang?

Dalam pidato pembebasannya, Anas menyebut kalimat “nabok nyilih tangan” atau yang berarti “menggunakan orang lain untuk menggebuk”.

Iklan

Menurut Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Ernesto Maraden Sitorus, kalimat itu jelas berupa sindiran kepada lawan politiknya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kata Fernando, jelas pula bahwa kalimat itu menyiratkan Anas telah menabuhkan genderang perang kepada Partai Demokrat.

“Sangat jelas pernyataan tersebut ditujukan pada SBY yang dianggap sebagai pihak yang meminjam tangan KPK untuk menyingkirkannya dari posisi Ketum Partai Demokrat,” jelas Fernando kepada Republika, Selasa (11/4/2023).

“Genderang perlawanan yang ditabuh oleh Anas semata hanya untuk SBY yang tentunya akan berdampak pada kekuatan politik SBY dan juga Partai Demokrat,” sambungnya.

Selain itu, bola panas lain juga menyeruak setelah Ketua Bapilu Demokrat Andi Arief menyarankan Anas untuk meminta maaf ke SBY—karena Demokrat dianggap hampir “karam” di tangan Anas.

Namun, kepada Detik, perwakilan keluarga Anas, Anna Lutfi, menilai bahwa saran Andi Arief begitu arogan. Menurutnya, Anas adalah korban kriminaliasi.

Sehingga, kata Anna, SBY-lah yang harusnya meminta maaf pada Anas.

“Kami sarankan Andi Arief agar menyampaikan ke SBY, agar minta maaf kepada Mas Anas,” tegas Anna.

Bisa ubah peta pencapresan

Terkait bebasnya Anas Urbaringrum, dosen Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Gugun El Guyanie menilai bahwa Anas bisa saja mengubah peta politik besar pencapresan 2024 mendatang.

Kata dosen yang juga pengamat politik ini, syaratnya hanya satu.

“Yakni jika Anas bisa dan berani membawa bukti-bukti ke KPK terkait kasus di era SBY itu tidak independen, yang menjadi alat rezim SBY untuk mengkriminalisasi Ketua Umum Partai Demokrat waktu itu,” ujar Gugun, dikutip Rabu (12/4/2023).

“Jika bisa, itu bisa saja mengubah peta politik di 2024,” sambungnya.

Menurut Gugun, jika fakta-fakta itu bisa dibuktikan secara hukum, selain ada perubahan peta politik besar di 2024, penegakan hukum juga berpotensi mengalami guncangan.

“Yang terdampak suaranya yang tentu Partai Demokrat. Capres yang diusung oleh koalisi yang di dalamnya ada Partai Demokrat mungkin saja berubah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Mengenal Efek Ekor Jas, Formula Parpol Naikan Elektabilitas via Figur Capres

Terakhir diperbarui pada 12 April 2023 oleh

Tags: anas urbaningrumPartai Demokratpartai pknPKN
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

partai demokrat mojok.co
Kotak Suara

Peneliti BRIN: Ketimbang PDIP, Demokrat Lebih Mungkin Gabung Koalisi Prabowo

12 September 2023
ahy calon cawapres mojok.co
Kotak Suara

Pakar Politik UGM: Peluang AHY Jadi Cawapres Masih Ada

7 September 2023
AHY saat berpidato mojok.co
Kotak Suara

5 Poin Pidato AHY, Ajak Kadernya untuk Move On

4 September 2023
anies cak imin mojok.co
Kotak Suara

Anies-Cak Imin: Demokrat Terkhianati hingga Dugaan Intervensi Jokowi

1 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.