Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konter

PHK Massal di Dunia Startup: Badai Ini Belum Akan Berakhir

Brace for impact. Kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. PHK massal di dunia startup belum akan berakhir.

Isidorus Rio Turangga Budi Satria oleh Isidorus Rio Turangga Budi Satria
26 Mei 2022
A A
PHK Massal di Dunia Startup: Badai Ini Belum Akan Berakhir MOJOK.CO

Ilustrasi PHK Massal di Dunia Startup. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kabar buruk datang dari dunia kerja di Indonesia. Secara tiba-tiba, PHK massal terjadi di dunia startup atau akrab disebut perusahaan rintisan.

Zenius, startup berbasis tech-education dan LinkAja, yang notabene adalah anak usaha dari Telkomsel, melakukan PHK cukup masif di dalam perusahaannya.

Zenius jadi yang cukup terbuka tentang isu sensitif ini. Dalam keterangan resminya, mereka menyebut telah melakukan PHK kepada 25 persen total karyawannya atau sekitar 200an pegawai. Manajemen menyebut, kondisi makro ekonomi yang memburuk jadi alasan utama. Poin utama yang ditekankan Zenius, perusahaan kini mencoba berkonsolidasi dan melakukan sinergi untuk menjamin keberlanjutan atau sustainability.

Alasan tak jauh berbeda juga terjadi di LinkAja. Meski tak blak-blakan merinci berapa jumlah PHK yang dilakukan, mereka menyebut tindakan ini harus diambil karena kebutuhan dan fokus bisnis perusahaan yang mulai berubah.

Jadi sebenarnya, ada apa ini?

Makro ekonomi tengah bergejolak di dunia

Pertama-tama, saya bukan pakar ekonomi. Tapi kalau boleh sedikit berbagi opini dari hal dasar yang sedikit saya pahami, kondisi makro ekonomi yang genting seperti klaim Zenius memang nyata adanya. Kondisi makro ekonomi di global kini terancam dengan adanya inflasi tinggi yang berimbas kepada kenaikan suku bunga.

Startup, yang mayoritas didominasi tech-based company, tentu harus berhitung cermat dan sedikit mengerem cost yang harus dikeluarkan. Salah satu yang krusial, tentu saja memperlambat perekrutan karyawan dan memangkas proyeksi laba ke level paling rendah.

Yang jadi acuan adalah, per 5 Mei 2022, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau akrab disebut The Fed, resmi mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin. Ini kenaikan angka yang cukup agresif, yang dilakukan The Fed sejak terakhir tahun 2000. Dari berita Bloomberg, The Fed menyebut terpaksa menempuh kebijakan ini untuk menetralisir kondisi inflasi di Negeri Paman Sam.

Angka inflasi di AS sendiri memang mengkhawatirkan. Per Maret 2022, kenaikan year on year inflasi di negara yang dipimpin Joe Biden ini mencapai angka 8,4 persen. The Fed menyebut ini adalah angka inflasi tertinggi dalam 41 tahun terakhir, sejak Desember 1981!

Inflasi ini pun sebabnya beragam, tak hanya melulu kondisi dunia pasca-Corona. Yang paling utama, The Fed meyakini bahwa di dunia global saat ini masih banyak ketidakpastian yang mempengaruhi kondisi ekonomi di banyak negara. Salah satu yang paling banyak disorot tentu saja perang Rusia-Ukraina yang menimbulkan tekanan bagi perekonomian AS.

Namun tak hanya di Amerika Serikat saja, ancaman inflasi ini juga memberikan butterfly effect ke dunia usaha di Indonesia.

Efek inflasi berimbas secara langsung di Indonesia

Seperti sudah dijabarkan di atas, inflasi bikin banyak pihak was-was dan jadi penuh perhitungan. Kondisi yang bikin perusahaan rintisan atau startup di Indonesia, mulai bersiap dengan kemungkinan terburuk.

Salah satu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah aliran modal dari investor yang akan terganggu bahkan terhenti, karena ketidakpastian ekonomi di kancah global.

Bukan rahasia umum, startup di Indonesia umumnya bergantung pada pendanaan investor luar negeri. Yang jadi soal, beberapa investor kini mulai masuk ke mode wait and see. Modal atau pendanaan mungkin tak sepenuhnya kosong, tapi belum bisa dicairkan untuk pendanaan startup terkait, sementara perusahaan rintisan itu harus tetap jalan dan melanjutkan bisnis demi pertumbuhan.

Iklan

Kondisi-kondisi ini yang bikin startup lokal, mungkin termasuk Zenius dan sejenisnya, mulai memutar otak. Perusahaan rintisan tak hanya bisa diam dan pasif menanti dana investor. Imbas dari memutar otak itulah, keputusan paling pahit yakni PHK, tak pelak jadi solusi akhir yang diambil.

Penyesuaian bisnis, salah satunya, memang berimbas pada efisiensi. Ini adalah keniscayaan. Apalagi, kondisi pandemi di Indonesia sudah menuju fase relaksasi dan Presiden Joko Widodo beberapa kali menyebut, bersiap menuju endemi.

Perubahan pasca-pandemi inilah yang membuat model bisnis di era pandemi, beberapa di antaranya menjadi tak relevan lagi bagi beberapa startup. Hal seperti ini sejatinya hal biasa di dunia bisnis, karena bisnis selalu coba beradaptasi dengan zaman. Namun, suasana berbeda terjadi di startup karena pergerakan mereka memang cenderung fast-paced dibanding perusahaan lain, sehingga PHK kerap jadi jalan terakhir yang dipilih.

Logika sederhananya begini. Startup acap melakukan rekrutmen dengan masif, terutama di fase awal berdiri. Sayangnya, beberapa startup kadang memang tidak cukup luwes untuk langsung menjadi perusahaan yang berkelanjutan alias sustain. Di era digital, ide kecil bisa jadi cikal bakal berdirinya sebuah startup. Namun, satu yang acap dilupakan, perusahaan rintisan adalah mereka tak hanya harus hidup selama satu sampai tiga tahun, namun juga untuk 10 bahkan 50 tahun. Sustainability memang masih jadi pekerjaan rumah besar untuk dunia startup.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai pekerja di situasi seperti ini?

Prinsip standar saya adalah lakukan yang terbaik dan selalu bersiap untuk hal terburuk. Kebetulan, saya juga karyawan swasta… hahaha!

Satu yang utama, perhatikan tabungan, dana darurat, dan arus keuangan pribadi. Di dunia yang tak menentu seperti ini, kurangi sikap konsumtif. Kalau bisa juga, nih, hindari punya tagihan atau utang.

Kedua, tata suasana hati dan tetap bekerja dengan baik. Berita PHK massal ini memang mengerikan. Saya yang nggak terdampak saja, ikut merasakan pedihnya menjadi karyawan yang terkena efisiensi. Namun, bukan berarti kita harus murung dan tidak mood kerja. Meski kondisi penuh ketidakpastian dan ancaman inflasi, namun, beberapa pakar masih melihat aliran modal untuk startup di Indonesia relatif masih aman, meski tak bisa dibilang bakal 100 persen aman sejahtera.

Solusi ketiga dan yang terakhir, bersiap ikut tes CPNS. Tidak ada pekerjaan paling aman dari ancaman PHK selain jadi Pegawai Negeri Sipil. Kalau kamu termasuk yang gentar dengan kondisi tak menentu ini, jadi PNS adalah jalan yang wajib kamu pertimbangkan. Setidaknya, itulah jaring pengaman terbaik di kondisi tak menentu seperti sekarang. Tapi ya balik lagi, masuk jadi PNS itu sama susahnya dengan masuk ke startup yang bonafit dan bergaji tinggi. Rumit!

BACA JUGA Alasan Kebanyakan Orang Tua Pakai Telkomsel dan analisis menarik lainnya di rubrik KONTER.

Penulis: Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2022 oleh

Tags: CpnslinkajaPHKPNSstartupZenius
Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Dulu nulis bola. Sekarang nulis tekno.

Artikel Terkait

Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
nelangsa korban PHK Michelin dan Blibli. MOJOK.CO
Ragam

Ekonomi Masyarakat Belum Pulih Sejak Pandemi Covid, Kini Makin Menderita karena PHK di “Negeri Konoha”

5 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.