Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Selamat Bulan Ramadhan, eh Ramadan, dan Jangan Lupa Taraweh, eh Tarawih!

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
6 Mei 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menyoal problem transliterasi dan penyerapan bahasa Arab yang sering kali muncul menjelang bulan Ramadhan. Ups, maksud saya: bulan Ramadan!

Selain perdebatan mengenai hari pertama puasa dimulai, perdebatan yang tak kalah seru saat memasuki bulan Ramadhan, atau sering disebut bula sebagai bulan Ramadan, adalah soal bagaimana ia semestinya ditulis: “bulan Ramadhan” (dengan “h”) atau “bulan Ramadan” (tanpa “h”).

Meski ucapan “Selamat berpuasa, selamat Ramadan” biasanya tersebar dalam bentuk broadcast dan kita hanya perlu menekan tombol Forward untuk membagikannya ke seluruh orang dalam daftar kontak, tak jarang hal ini menjadi ganjalan besar. Maksud saya, kalau memang di KBBI menyebut kata ini sebagai “Ramadan”, kenapa variasi “Ramadhan” muncul—bahkan mungkin lebih populer digunakan oleh sebagian besar masyarakat?

Seperti yang pernah dibahas dalam versus edisi Agustus tahun lalu soal transliterasi bahasa Arab, pedomannya sendiri sebenarnya telah dibuat. Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah mengeluarkan Keputusan Bersama (SKB) Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987.

Pada SKB tersebut, penulisan kata serapan yang diambil dari bahasa Arab ditentukan aturannya. Berkat aturan ini pula, penyederhanaan alih aksara terjadi, misalnya dari aksara sh/ṣ dan ts/ṡ menjadi s, aksara dz/ż menjadi z, aksara zh/ẓ menjadi z, atau aksara dh/d menjadi d.

Berdasarkan aturan di atas, tentu dengan mudah kita bisa mengangguk-angguk memahami bahwa bentuk yang benar adalah “bulan Ramadan”, bukan “bulan Ramadhan”—tapi…

…tapi, kenapa??? Kenapa kata “bulan Ramadhan” harus muncul dan menimbulkan kegalauan penyerapan bagi kami, orang-orang awam yang kadang suka udah pusing duluan mikirin kerjaan dan percintaan, alih-alih soal penyerapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia???

Penerimaan kata “Ramadan” dalam KBBI tidaklah serta merta terjadi dalam masyarakat. Tak sedikit yang menyebut KBBI telah melakukan kecerobohan besar untuk menyebut “bulan Ramadhan” sebagai “bulan Ramadan” (tanpa huruf “h”) karena justru merusak maknanya sendiri. Pihak ini percaya bahwa “Ramadan” berarti “orang yang sakit mata”.

Ya, kata “Ramadan” ini mereka sebut “merubah arti”, padahal mereka juga sepertinya lupa bahwa bentuk kata “merubah” tidak ditemukan dalam KBBI—seharusnya “mengubah”, please, deh.

Seolah tak berhenti di problem soal kata “Ramadhan” dan “Ramadan”, perkara salat (ingat, bukan sholat) Taraweh—eh, Tarawih—juga menjadi sorotan. Jadi, yang mana yang benar: “Taraweh” atau “Tarawih”???

Secara pribadi, saya lebih sering melafalkan salat Tarawih sebagai “sholat Teraweh”. Selain karena saat saya berbicara tidak ada ahli KBBI yang mengintai, saya melakukannya karena bentuk kebiasaan. Namun, sebagai orang yang bertahan hidup dari menulis dan harus, setidaknya, memahami bentuk baku sebuah kata, saya jadi bertanya-tanya: kok bisa, ya, kata “sholat” ini menjadi “salat” dan “Taraweh/Teraweh” menjadi “Tarawih”?

Menurut panutan berbahasa di jagat internet, Ivan Lanin, hal ini disebabkan oleh adanya tiga jenis vokal dalam bahasa Arab, yaitu “a”, “i”, dan “u”, yang kemudian sering dilafalkan sebagai “o” dan “e”.

Vokal dalam bahasa Arab ada tiga: fatah (fathah; "a"), kasrah ("i"), dan damah (dammah; "u"). Lidah orang Indonesia kadang melafalkan "a" sebagai "o" dan "i" sebagai "e". Itu sebabnya muncul variasi ejaan, misalnya, "s(h)olat" dan "taraweh".

— Ivan Lanin (@ivanlanin) May 4, 2019

Nyatanya, dalam bahasa Arab memang tidak dikenal huruf vokal “o” dan “e”, berbeda dengan bahasa Indonesia, atau—misalnya—aksara Jawa yang bisa menggunakan taling tarung serta taling atau pepet.

Iklan

Namun begitu, rupanya ada beberapa kondisi sebuah huruf terbaca “o”, atau setidaknya mendekati “o”. Bahkan disebutkan, saat bertemu beberapa huruf tertentu, fathah bakal menghasilkan vokal berupa alofon [ɑ] yang berbunyi seperti “a” dalam kata “bath” atau “o” dalam kata “hot” (keduanya adalah kata berbahasa Inggris), yang—dalam telinga kita—terdengar seperti huruf “o”.

Hal inilah yang kemudian mendorong kata “sholat” diserap sebagai “salat”. Dengan prinsip yang sama (pada aturan penggunaan fathah dan kasrah, terutama), kata “Taraweh/Teraweh” pun diserap sebagai “Tarawih”.

Tapi, yaaah, harap diingat: transliterasi dan penyerapan adalah dua hal yang berbeda. Kalau kamu masih ingin menggunakan kata “bulan Ramadhan” atau “sholat”, ya silakan saja—apalagi, kalau penggunaannya dalam ranah agama. Namun, tentu saja, akan jadi lain soal kalau kamu memerlukan ketaatan berbahasa berdasarkan KBBI yang sudah secara resmi menyerap kata-kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

Yah, maksud saya, untuk apa, sih, membanding-bandingkan kata yang sudah diserap dengan kata dari bahasa asalnya? Memangnya situ mau dibanding-bandingin sama mantannya pacar? Hmm???

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: bulan ramadhanivan laninKBBIRamadansholat TerawehTarawehTarawih
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.