Tak Ingin Dianggap Membohongi Rakyat, Prabowo-Sandiaga Enggan Berjanji Naikkan Gaji Guru Jadi Rp20 Juta

Pernyataan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Mardani Ali Sera tentang usul kenaikan gaji guru menjadi Rp 20 juta ternyata meluncur menjadi bola salju yang semakin besar dan menghantam siapa saja.

Maklum saja, posisinya sebagai bagian dari Tim Pemenangan membuat usulnya tersebut dianggap mewakili usul kubu Prabowo-Sandi.

“Perbaikan utama mau tidak mau gaji guru dinaikkan menjadi Rp20 juta, diseleksi dengan baik gurunya,” begitu kata Mardani.

Hal tersebut langsung menjadi bulan-bulanan bagi kubu Jokowi-Ma’ruf. Maklum saja, usul menaikkan gaji guru menjadi Rp20 juta merupakan usul yang, walaupun sangat mulia, namun tentu saja sembrono dan tidak masuk nalar. Anggaran negara tak mungkin sangup membiayai gaji guru jika angkanya sebesar itu.

Terkait usul tersebut, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pun kemudian ikut angkat bicara.

Keduanya mengatakan bahwa tak mungkin bagi mereka untuk menaikkan gaji guru menjadi Rp20 juta.

Itulah sebabnya dirinya tak berani untuk menjanjikan hal tersebut.

“Uang dari mana gitu lo,” ujar Prabowo pada para wartawan. “Kita utang terus. Tiap hari utang kita Rp 1 triliun. Jadi kalau saya omong janji ini, janji itu, kan saya bohong kepada rakyat.”

Sementara Sandiaga mengatakan bahwa fokus program yang ia rencanakan adalah mengatasi polemik persoalan guru honorer yang memang menurutnya lebih utama ketimbang menaikkan gaji guru.

“Kalau dipukul rata Rp20 Juta enggak akan sanggup, tapi pemikiran kita, kualitas itu yang kita tingkatkan,” ujar Sandiaga. “Kami ingin meningkatkan kesejahteraan guru-guru dan ingin meningkatkan status untuk yang honorer yang sudah belasan tahun bekerja.”

Sadar pernyataannya bergulir menjadi bahan serangan yang makin tak keruan, Mardani pun kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya tersebut merupakan pernyataan pribadi, bukan mewakili Tim Pemenangan Prabowo-Sandiaga.

Ah, agaknya memang benar adanya, bahwa dalam politik, hal yang paling mudah dan menyenangkan adalah melontarkan usul dan janji-janji spektakuler, sedangkan yang paling sulit adalah menepati dan malaksanakan janji-janji tersebut.

Nggak percaya? Tanya aja Jokowi.

prabowo-sandiaga

Exit mobile version