Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

MUI Melarang Partai Mengklaim Sebagai Representasi Umat Islam

Redaksi oleh Redaksi
7 Agustus 2018
A A
partai islam
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada Pilpres 2019 mendatang, tak dapat dimungkiri bahwa isu agama (utamanya Islam) akan tetap menjadi isu yang seksi untuk dimainkan. Maklum saja, polaritas masyarakat terhadap isu ini memang masih sangat tinggi.

Menggunakan isu agama sebagai bagian dari kampanye, terlebih untuk menyerang kelompok yang lain tentu saja merupakan hal yang mencederai semangat pemilu. Selain itu, hal tersebut juga punya efek perpecahan yang sangat mengerikan. Masih terbayang bagaimana ngeheknya isu agama dimainkan dengan begitu brutal di Pilkada Jakarta beberapa waktu yang lalu, sampai-sampai muncul ajakan untuk tidak menyalatkan jenazah saudara seiman hanya gara-gara perbedaan pilihan politik.

Atas banyaknya fenomena penyalahgunaan isu agama dalam pemilu, Mejelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai salah lembaga yang bertanggung jawab terhadap urusan keagamaan, secara resmi melarang partai-partai politik mengklaim dirinya sebagai representasi umat Islam.

Larangan tersebut merupakan salah satu hasil rapat pleno Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-29 di Kantor MUI yang digelar pada Senin, 6 Agustus 2018 lalu.

“Tidak perlu ada klaim-klaim yang bersifat monopolistik,” kata Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin.

Din Syamsudin mengatakan bahwa mengklaim satu partai politik sebagai representasi umat Islam atau ulama akan mereduksi umat Islam itu sendiri. Umat Islam di Indonesia jumlahya 220 juta, dan tentu saja jumlah sebanyak itu tidak bisa sekadar direpresentasikan oleh satu atau dua partai politik.

“Umat Islam itu banyak 220 juta. Banyak yang bergabung dengan partai-partai Islam, seperti PPP, PKS, PBB dan partai berbasis Islam lainnya seperti PAN dan PKB, tapi, umat Islam juga tersebar di partai-partai lain yang tidak menggunakan nama Islam, di Golkar Hanura, Nasdem, Demokrat, PDIP dan juga partai-partai baru,” kata Din Syamsudin.

Din Syamsudin juga mengatakan bahwa partai apa pun, baik yang berbasis Islam atau nasionalis, asalkan memperjuangkan pencapaian negara yang adil, makmur, berdaulat, serta bermartabat, maka ia sudah termasuk memperjuangkan cita-cita Islam.

Nah, untuk para petinggi partai, monggo, itu sudah ada instruksi dari MUI, silakan mau menaati atau tidak. Itu yang ngomong orang MUI lho, jelas-jelas ulama, bukan penasihat partai politik.

Dan, untuk para calon pemilih, terutama yang beragama Islam, monggo, MUI sudah memberikan petunjuk bahwa keislaman tidak ditentukan oleh satu atau dua partai. Jangan takut untuk memilih sosok yang didukung oleh partai yang dianggap tidak merepresentasikan Islam selama Anda yakin sosok tersebut memang baik.

Pada akhirnya, Islam dan tidak itu soal hati, bukan soal partai. Wong nyatanya kader partai berbasis Islam yang korupsi toh jumlahnya juga buaaanyak. Ya tho? (A/M)

partai islam

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2018 oleh

Tags: MUIpartaipilpres
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Sound horeg di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. MOJOK.CO
Ragam

Sound Horeg bikin Kaca Jendela Rumah Pecah, Langsung Labrak Tetangga dengan Cara Elegan

23 Juli 2025
Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Jokowi Menyemai Dinasti Politik di Tingkat Daerah. MOJOK.CO
Ragam

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah

26 November 2024
Kerja di Lembaga Quick Count Pemilu Ternyata Sama Capeknya dengan Anggota KPPS.mojok.co
Aktual

Cerita Petugas Quick Count Pemilu: Hasil Sering Diremehkan Meski Saat Bekerja Sama Capeknya dengan Anggota KPPS

15 Februari 2024
Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden? MOJOK.CO
Esai

Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden Indonesia?

18 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.