Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Menelusuri Jejak Opium di Yogyakarta, Dulu Pusat Penjualannya Ada di Malioboro

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 November 2023
A A
Menelusuri Jejak Opium di Yogyakarta, Dulunya Pusat Penjualannya Ada di Malioboro MOJOK.CO

Pecandu opium di Hindia Belanda. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures.jpg)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pekan lalu, warga Yogyakarta heboh dengan operasi dari Bareskrim Polri dan Polda DIY yang menggerebek sindikat narkoba keripik pisang dan happy water di Banguntapan, Bantul. Soal narkoba, di masa lalu, Jogja pernah terkenal sebagai pusat jual beli opium terbesar di Hindia Belanda.

Keripik pisang rasa narkoba, terendus setelah beberapa pihak curiga karena harga keripik pisang yang begitu mahal, yakni Rp6 juta per bungkus. Polisi pun berhasil mengamankan delapan orang dari operasi ini.

Sejarah panjang narkoba di Yogyakarta sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Dahulu, kota ini merupakan salah pusat jual-beli opium terbesar di Hindia-Belanda. Opium sendiri merupakan getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang.

Pada masa lalu, peredaran opium paling besar terjadi di Jalan Malioboro. Lokasi yang kini jadi Teras Malioboro I, dahulu adalah salah satu pusat jualan opium yang paling besar.

Hindia Belanda negerinya candu

Sejarah mengenai peredaran opium di Nusantara sudah banyak tercatat dalam buku maupun naskah kuno. Misalnya dalam Opium To Java oleh James R. Rush dan Serat Erang-Erang yang ditulis pujangga Wirapustaka.

Pada era kolonial Hindia Belanda, opium memang merupakan salah satu komoditas perdagangan yang penting untuk dimonopoli dan menjadi objek pajak. Saking pentingnya, pemerintah Hindia Belanda bahkan memperebutkan hak monopoli opium dengan Inggris dan Denmark. 

Maka, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff (1745), ia memberlakukan sistem perdagangan bebas bagi candu. Sejak kebijakan ini berlaku, tiap tahun diperkirakan ada rata-rata 56 ton opium yang mendarat di Jawa. 

Alhasil, tidak mengherankan jika pada 1880 pajak perdagangan opium menjadi penghasilan paling besar bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Bahkan, pada 1894 pemerintah mendirikan pabrik opium sendiri di wilayah Salemba. Kini kawasannya berada di area Universitas Indonesia. Peredaran opium pun makin meluas, hingga memasuki wilayah-wilayah pedesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah vorstenlanden Surakarta dan Yogyakarta.

Di Malioboro, opium beredar bebas

Menurut berbagai catatan, terdapat 372 tempat penjualan opium yang tersebar di Yogyakarta sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Mulai dari toko kecil-kecilan, hingga yang besar.

Berdasarkan penelusuran saya pada Peta Yogyakarta tahun 1946, lokasi kantor pusat dagangnya ada di Jalan AM Sangaji, Jetis, tepat berada di sebelah utara Tugu Jogja.

Kantornya bernama Opiumregie (dalam bahasa Inggris: Opium Monopoly). Kantor ini bertugas mengendalikan laporan distribusi opium yang keluar-masuk Yogyakarta, hingga mendata para penjualnya (disebut “mantri candu”). 

Saat itu, para mantri candu wajib mencantumkan papan nama “kantor penjualan” atau “toko penjualan candu”. Dalam bahasa Belanda umumnya menggunakan dengan papan nama “opiumverkoopplaats”.

Kalau boleh menduga, bangunan kantor Opiumregie kini harusnya berada di lahan yang kini menjadi SPBU Pertamina Tugu.

Iklan

Nah, dari data Opiumregie tadi, sebagian besar rumah penjual candu opiumverkoopplaats ada di kawasan pecinan yang kala itu melingkupi sepanjang Jalan Patjinan (sekarang sekitaran Jalan Margo Mulyo hingga Jalan Jend. Ahmad Yani) dari Teras Malioboro I di sisi barat dan Kampung Ketandan di sisi timur.

Berdasarkan catatan peta Yogyakarta yang disusun tahun 1935, toko candu terbesar berada di dua tempat. Pertama, lokasinya ada di bangunan yang saat ini menjadi Teras Malioboro I (bangunannya pernah berfungsi sebagai gedung Bioskop Al Hambra). Kedua, ia terletak tepat di sudut perempatan Jalan Malioboro dan Jalan Suryatmajan.

Untuk lokasi kedua, saya menduga lokasi sekarang tepat berada di bangunan yang sekarang menjadi Mirota Gallery dan Toko Obat Sumber Husodo Tek An Tong. 

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mengingat Cikini, Saksi Bisu Geliat Lalu Lintas Opium hingga Klinik Aborsi Buang 2.365 Janin ke Toilet

Terakhir diperbarui pada 6 November 2023 oleh

Tags: narkobaopiumYogyakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO
Jagat

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO
Aktual

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
Starcross Membuktikan bahwa Nilai Kreativitas dan Komunitas Lebih Kuat dari Tren yang Datang dan Pergi
Video

Starcross Membuktikan bahwa Nilai Kreativitas dan Komunitas Lebih Kuat dari Tren yang Datang dan Pergi

8 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.