Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Jembatan Sasak, Jembatan Tradisional yang Kini Jadi Andalan Warga Solo-Sukoharjo

Novita Rahmawati oleh Novita Rahmawati
1 Oktober 2022
A A
jembatan sasak mojok.co

Jembatan Sasak yang menghubungkan Solo dan Sukoharjo. (Novita Rahmawati/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jembatan Sasak merupakan jembatan penghubung antara Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Jembatan ini jadi jalur alternatif warga untuk menyeberang di saat Jembatan Mojo dan Jurug sedang dibangun.

Jembatan Sasak kini menjadi penghubung utama warga Solo dan Sukoharjo, khususnya warga Kampung Sewu yang berada di Solo dan warga Gadingan dan Mojolaban yang masuk wilayah Sukoharjo. Banyak aktivitas warga di dua wilayah tersebut yang mengandalkan jembatan ini.

Jembatan Sasak berada di Kampung Ngepung, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Jembatan ini terbentang sepanjang 80 meter. Pembuatannya dilakukan selama dua pekan. Saat ini jembatan sudah beroperasi sekitar 1 bulan. Tiap harinya orang yang hendak melintas dikenai biaya Rp2.000.

“Jembatan Mojo dan Jembatan Jurug kan sedang dibangun. Jadi saya buat jembatan ini, biar warga bisa lebih mudah dan dapat alternatif jalan lebih dekat,” ucap Sugiyono (78), pembuat Jembatan Sasak, Jumat (30/9/2022).

Jembatan ini dibuat oleh Sugiyono atau yang akrab disapa Bagong dengan merogoh kocek pribadinya sebesar Rp20 juta. Bagong membuat jembatan ini agar warga bisa melintasi sungai Bengawan Solo.

Sebenarnya jembatan ini sudah ada sejak tahun 1978. Keluarga Bagong secara turun temurun meneruskan jadi penyedia jasa penyeberangan di wilayah ini. Ia meneruskan pekerjaan kakeknya dulu. Hanya saja, kakeknya menyediakan jasa penyeberangan dengan menggunakan gethek.

“Saya hanya meneruskan saja. Dulu pakainya gethek, kalau sekarang saya buat jembatan,” katanya.

Jembatan ini dibuat oleh Bagong saat volume airnya kecil. Landasan jembatan terbuat dari anyaman bambu. Sementara untuk pengapungnya dilengkapi dari tong-tong yang yang menopang anyaman bambu ini. Perlu 100 bambu dan 34 tong untuk membuat Jembatan Sasak.

“Arus sungainya kan menyusut, sehingga kapal tidak bisa menyeberang. Sebenarnya kami ada kapal juga, tapi kalau kemarau seperti ini nggak bisa dipakai. Makanya saya inisiatif buat jembatan ini,” katanya.

jembatan sasak mojok.co
Beberapa pengendara melewati Jembatan Sasak. ANTARA/Aris Wasita

Jembatan Sasak ini terbentang sepanjang 80 meter. Pembuatannya dilakukan selama dua pekan. Dan saat ini jembatan sudah beroperasi sekitar 1 bulan. Tiap harinya orang yang hendak melintas dikenai biaya Rp2.000. Bagong bisa mendapatkan keuntungan hampir Rp1 juta per hari dari beroperasinya jembatan ini.

“Sehari paling tidak ada 500-700 kendaraan yang menyeberang. Kalau dibandingkan pakai gethek ya banyak sekarang. Kalau gethek sehari hanya sekitar 300 orang,” katanya.

Terkait hal ini Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo Joko Supriyanto mengatakan jembatan ini menyalahi aturan. Sebab selama ini untuk titik ini izinnya untuk  penyeberangan dengan perahu. Sehingga pemenang lelang mendapat hibah perahu dari Dinas Perhubungan Sukoharjo pada tahun 2020 lalu.

“Lokasi ini izinnya penyeberangan dengan perahu, bukan jembatan,” ungkap Joko.

Namun dengan dibangunnya Jembatan Sasak ini perlu ada antisipasi keamanan. Mengingat jembatan ini tidak ada kajian pra-pembangunannya. Sementara pemerintah sendiri, baik Solo dan Sukoharjo sudah membuat kajian untuk pembangunan jembatan gantung sekitar tiga tahun lalu. Sayangnya rencana ini mandeg di tengah jalan.

Iklan

“Sampai saat ini belum ada kelanjutannya,” ucapnya.

Gibran siagakan SAR

Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah, Gibran Rakabuming Raka mengatakan telah menyiagakan SAR untuk mengantisipasi kejadian kecelakaan di jalur alternatif Jembatan Sasak yang menghubungkan Solo dengan Kabupaten Sukoharjo.

“Semua sudah saya perintahkan, Dishub (Dinas Perhubungan), BPDP (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk menyiagakan SAR di situ,” katanya di Solo, Kamis (29/9/2022) dilansir dari Antara.

Ia mengatakan langkah antisipasi dilakukan agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan yang melibatkan masyarakat. Pasalnya Jembatan Sasak yang hanya terbuat dari bambu dengan drum tersebut banyak dilewati masyarakat yang sebelumnya melewati Jembatan Mojo. Saat ini Jembatan Mojo tengah diperbaiki sehingga dalam waktu dua bulan ke depan ditutup untuk sementara waktu.

“Intinya ini kan [Jembatan Sasak] inisiatif warga Sukoharjo dan yang memanfaatkannya semua orang, ya orang Solo dan Sukoharjo. Ini bentuk kreativitas warga,” katanya.

“Sebenarnya saya tidak merekomendasikan adanya Jembatan Sasak itu. Ini kan Jembatan Mojo mau tidak mau harus diperbaiki dua bulan komitmen saya. Yang penting kalau jembatannya sudah selesai segera dibongkar lagi ya,” katanya.

Reporter: Novita Rahmawati
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Menengok Kampung Sambeng, Jejak Rumah Persembunyian DN Aidit

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2022 oleh

Tags: jembatanjembatan sasaksolosukoharjo
Novita Rahmawati

Novita Rahmawati

Kontributor Solo

Artikel Terkait

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi jadi tempat jeda selepas lari MOJOK.CO
Kilas

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat

9 Februari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO
Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)
Pojokan

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.