Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Melacak Jejak Freemasonry di Jogja, Markas Besarnya di Gedung DPRD DIY

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
28 September 2023
A A
Melacak Jejak Freemasonry yang Tertinggal di Gedung DPRD DIY MOJOK.CO

Freemasonry (wikipedia.org)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pejabat-pejabat yang menjadi anggota freemasonry Indonesia

Pengikut Freemasonry Indonesia di Jogja berasal dari kalangan atas. Buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda 1764 – 1962 karangan Theo Stevens menyebutkan bahwa terdapat empat pria mason asli Hindia Belanda. Keempatnya berasal dari Kesultanan Pakualam.

Melansir laman Kebudayaan Kemendikbud, Pangeran Ario Soeryodilogo tercatat menjadi anggota Loji Mataram pada 1871. Tak lama kemudian ia naik takhta menjadi Paku Alam V. Langkah Paku Alam V bergabung dengan kemasonan diikuti para keturunannya. Mereka adalah Pangeran Adipati Ario Notokusuma (Paku Alam VI), Pangeran Ario Notodirejo (Paku Alam VII) serta Pangeran Ario Kusumo Yudo.

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi tokoh besar yang terindikasi menjadi bagian dari Freemasonry.

Riwayat gedung di masa penjajahan Jepang hingga pascakemerdekaan

Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini beralihguna menjadi kantor agraria. Setelah kemerdekaan, tepatnya pada 1948-1950, gedung ini digunakan oleh BPKNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat). Politik luar negeri Republik Indonesia yang “bebas aktif” tercetus di sini pada 2 September 1948 oleh Kabinet/Wapres Drs. Moh. Hatta.

Setelah ibu kota Republik kembali ke Jakarta pada 1949, pihak Kesultanan Yogyakarta menyerahkan gedung ini kepada Pemda DIY. Gedung ini kemudian beralihguna sebagai Gedung DPRD DIY, penyerahannya terjadi pada 1951.

Gedung ini bergaya arsitektur kolonial. Cirinya dapat terlihat pada kemegahan dan luasnya halaman dengan kolom-kolom besar pada bagian muka dan dalam bangunan. Di bagian depan terdapat dua pintu besar.

Kondisi interiornya telah mengalami perubahan, terutama di bagian balairung Ruang Sidang, menyesuaikan dengan fungsinya hari ini sebagai tempat rapat para anggota DPRD DIY.

Tarekat Freemasonry sudah tiada di gedung ini. Banyak pula yang menyebut gerakan kemasonan yang masuk ke Hindia Belanda sejak 1762 ini sudah angkat kaki dari Indonesia pada 1962.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Grand Inna Malioboro Hotel Termewah di Jogja Era Kolonial, Charlie Chaplin Pernah Singgah di Sini
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2023 oleh

Tags: anggota freemasonfreemason jogjafreemasonrygedung dprd diy
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.