Ekonom UMM Berikan Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

ilustrasi - pelaku UMKM menjerit atas kenaikan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kenaikan harga plastik yang melonjak tajam mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), akibat konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah. Menghadapi krisis tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan saran khususnya untuk pelaku UMKM agar bisa bertahan.

Dampak perang mulai dirasakan wong cilik

Anna, pelaku usaha laundry mengungkap harga plastik akhir-akhir ini melonjak tajam. Dari yang tadinya Rp30 ribu naik menjadi Rp54 ribu setelah Lebaran 2026 kemarin. Kenaikan sebesar Rp24 ribu itu bikin ia megap-megap, mengingat ia baru saja menjalankan bisnisnya. 

“Sebagai pemilik laundry pemula, kenaikan harga ini lumayan bikin pusing apalagi plastik termasuk bahan baku wajib buat kemasan baju pelanggan,” kata Anna dihubungi Mojok, Kamis (30/4/2026). 

Alhasil, Anna harus mengubah plastik yang tadinya berfungsi untuk packing menjadi plastik jinjing seharga Rp45 ribu di toko setrika uap. Kantong kresek pun ia tiadakan, sehingga ia kerap mengimbau pelanggannya untuk membawa kantong sendiri baik kresek maupun tas kain. 

“Aku memang belum ada niat menaikkan harga laundry, karena riskan banget. Kalau gegabah malah akunya yang susah jadi aku akalin dulu saja selagi bahan baku lainnya aman kayaknya masih bisa,” ujar Anna.

Pelaku UMKM menjerit harga plastik naik

Kenaikan harga tak hanya terjadi pada plastik laundry, tapi juga kemasan makanan. Orang tua Sabrina Oktavia misalnya yang berjualan bubur ayam. Sabrina berujar, styrofoam yang biasanya dipatok harga Rp25 ribu sekarang jadi Rp35 ribu. Belum lagi plastik kresek yang tadinya Rp9 ribu naik menjadi Rp16 ribu.

“Sebagai pedagang bubur ayam, kami juga harus beli plastik alas, plastik kuah, plastik sate, sampai sendok plastik. Dan semuanya ikut naik. Sementara harga bubur kami masih Rp12 ribu per porsi. Gimana pelaku UMKM nggak menjerit?” keluh Sabrina. 

Kekesalan atas naiknya harga plastik juga dirasakan Lex Simanjuntak. Penjual roti asal Bekasi ini berujar harga plastik kini benar-benar tidak masuk akal. Kantong kresek kecil yang tadinya seharga Rp12 ribu sekarang melonjak jadi Rp21 ribu.

“Bahkan aku yang biasa beli bubble wrap 1 gulung Rp110 ribu sekarang naik jadi Rp190 ribu,” ujar Lex.

Meski begitu, Lex berusaha untuk tetap bersyukur. Walaupun harga bahan baku dan plastik naik, kata dia, tapi ia yakin ada satu hal yang tidak berubah di situasi sulit seperti sekarang.

“Yaitu rasa terima kasihku buat pelanggan yang tetap mau jajan dan dukung usaha kecilku tanpa banyak nawar dan protes,” kata Lex.

Alasan UMKM terkena imbas konflik global

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Wahyudi Suliswanto menjelaskan lonjakan harga plastik tak terlepas dari imbas konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah.

Kenaikan harga plastik ini juga bersamaan dengan harga minyak mentah dunia. Wajar jika pelaku UMKM kini merasa tercekik. Menurut pengamatannya, tren kenaikan harga plastik yang cukup ekstrem telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut juga menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek.

Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain, mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. 

Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini memperlihatkan dengan jelas rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. 

“Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi dilansir dari laman resmi UMM, Kamis (30/4/2026).

Ubah musibah harga naik jadi kesadaran kolektif

Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelaku UMKM sadar bahwa mereka sedang menghadapi situasi darurat, tapi ini juga bisa menjadi kesempatan mereka untuk ikut mengurangi dampak lingkungan dengan menyetop plastik sekali pakai. 

“Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi atas kenaikan harga plastik.

Pelaku UMKM juga bisa menerapkan strategi diferensiasi harga. Khusus pelanggan, Wahyudi menyarankan agar pelaku UMKM bisa memberikan diskon khusus bagi mereka yang membawa wadah sendiri. 

“Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah,” tegasnya. 

Pemerintah tak boleh tutup mata atas penderitaan UMKM

Wahyudi meyakini langkah taktis di atas tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban kenaikan harga ini tidak bisa dipikul sendirian.

Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Oleh karena itu, pemerintah harus mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik secara paralel. 

“Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” tegas Wahyudi.

Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

Sumber: Laman resmi UMM

BACA JUGA: Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan 

Exit mobile version