Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Kesehatan

Bahaya Overcapacity dan Kerumunan Massa yang Tak Terkendali

Pasthiko Pramudhito oleh Pasthiko Pramudhito
31 Oktober 2022
A A
overcapacity dan kerumunan massa mojok.co

Ilustarasi kerumunan massa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Overcapacity sering kali jadi penyebab jatuhnya korban di sebuah acara. Kerumunan massa yang tak terkendali bisa jadi pemicu malapetaka.

Pesta Halloween di distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, yang seharusnya menyenangkan berubah jadi tragedi. Sampai saat ini tercatat ada 154 orang meninggal dunia akibat kerumunan massa yang tak terkendali. Para korban terjepit dan sesak nafas hingga menyebabkan henti jantung.

Peristiwa tersebut imbas overcapacity di lokasi kejadian. Jalanan Itaewon tak mampu lagi menampung pengunjung yang hadir. Mereka berdesakan dan terjebak di antara lautan manusia.

Sementara di tanah air, musibah karena kerumunan massa hampir saja terjadi di Festival Bergoyang Berdendang pada Minggu (30/10/2022). Sedianya festival ini akan berlangsung tiga hari, tapi polisi mencabut izinnya. Istora Senaya terlalu penuh, panitia diduga menjual tiket melebihi kapasitas tempat. Alhasil hari ketiga festival pun ditiadakan.

Kok bisa kerumunan dapat membahayakan bahkan dapat memicu kematian? Situasi ini dikenal sebagai crowd surge atau crowd crush. Ini terjadi karena terlalu banyak orang berkumpul di suatu tempat.

Keith Still, profesor yang mempelajari kerumunan dari University of Suffolk, Inggris dalam wawancara dengan NPR mengatakan kerumunan dapat menyebabkan orang berhimpit-himpitan sehingga menyebabkan kurangnya oksigen yang memicu pasokan darah ke otak berkurang.

Lebih lanjut ia menjabarkan fase-fase yang akan dialami sesorang saat pasokan darah ke otak berkurang yang dapat berujung pada kematian. “Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilanngan kesadaran, dan sekitar enam menit, sebelum mengalami asfiksia kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan, tubuh tidak hancur tapi mati lemas,” ungakpnya.

Orang-orang yang sedang berada di kerumunan akan mendapatkan tekanan pada diri mereka dari segala sisi, hal itulah yang dapat menyebabkan sesak nafas karena terhambatnya sirkulasi oksigen. Bahkan lebih buruk lagi menurut Dokter spesialis jantung dan darah, dr. Vito A. Damay, SpJP kondisi tersebut dapat menyebabkan henti jantung (cardiac arrest).

“Jumlah karbondioksida meningkat karena begitu ramainya orang dan adrenalin meningkat menyebabkan kuncupnya pembuluh darah. Sirkulasi oksigen terhambat menyebabkan pingsan dan bahkan henti hantung,” ujarnya dilansir Detik Health.

Hal yang paling berbahaya akibat berdesak-desakan karena kerumunan adalah kepanikan. Situasi panik bisa membuat orang dorong-dorongan. Jika seseorang jatuh ke tanah, dipastikan akan sulit untuk bangun lagi. Tumpukan manusia bisa terjadi. Orang yang berada di bawah dapat mengalami cedera yang parah.

Penulis: Pasthiko Pramudhito
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Kekacauan di Festival Berdendang Bergoyang

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2022 oleh

Tags: festival musikItaewonkerumunan massaovercapacity
Pasthiko Pramudhito

Pasthiko Pramudhito

Magang Mojok

Artikel Terkait

saemen fest 2025 mojok.co
Kilas

Menanti Kolaborasi Jenny dan Majelis Lidah Berduri di Saemen Fest 2025

29 Oktober 2025
rock in solo, ris 2025, mayhem.MOJOK.CO
Aktual

Dari Oslo ke Solo, Imam Besar Jamaah Blekmetaliyah Siap “Ritual” di Panggung RIS 2025

20 Agustus 2025
Merayakan Karya dan Kembalinya Legenda di CherryPop 2024.MOJOK.CO
Panggung

Merayakan Karya dan Kembalinya Legenda di CherryPop 2024

3 Agustus 2024
Kelakar Jono Terbakar di Panggung CherryPop 2023: dari Crowdfunding, Pijat, hingga Industri Musik Hari ini mojok.co
Kilas

Kelakar Jono Terbakar di CherryPop 2023: dari Crowdfunding, Pijat, hingga Industri Musik Hari ini

22 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.