Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lima Jenis Media yang Memberitakan Kasus Tolikara

Wisnu Prasetya Utomo oleh Wisnu Prasetya Utomo
23 Juli 2015
A A
Lima Jenis Media yang Memberitakan Kasus Tolikara

Lima Jenis Media yang Memberitakan Kasus Tolikara

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sangat sulit memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa Tolikara yang terjadi persis di hari raya Idul Fitri. Apalagi kita tinggal jauh dari lokasi dan hanya menyandarkan diri pada berita-berita media. Air bah informasi tiba-tiba membanjiri linimasa tanpa kita sempat bersiap-siap karena sedang menikmati ketupat, opor ayam, dan kurang waspada bahaya kolesterol.

Akhirnya, masing-masing kita bersandar pada berita dengan berbagai macam versi dan kronologi yang saling bertolak-belakang.

Iklan

Sebagai bagian dari kelas menengah berisik, tentu kurang afdol kalau kita tidak ikut bersuara. Hoax segera bertebaran, pekik jihad berkumandang dan menggelora di jagat media sosial.

Mumpung masih di awal Syawal, saya mau berhusnudzon saja melihat fenomena ini. Konon, segala sesuatu bersumber pada niat. Selama niat kita baik, menyebarkan hoax dan berita dan fitnah pun tidak masalah. Kalau terbukti hoax kan nanti tinggal dihapus. Dengan catatan belum ada yang sempat bikin screenshoot-nya, lho. Eh, gimana?

Nah, bagi yang kebingungan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Papua, kebingungan mencari media mana yang layak dibaca dan disebarkan dengan komentar-komentar caci-maki yang kelihatan cerdas, berikut saya berikan tips beberapa tipe media yang memberitakan insiden Tolikara.

1. Media kompor

Seperti namanya, media ini paling senang mengompori para pembacanya. Peristiwa yang terjadi di hari raya Idul Fitri kemarin ibarat api yang mudah disulut, dan media-media jenis ini tinggal mengipasi agar api semakin membesar dan masakan lebih cepat matang.

Untuk melihat mana media-media yang masuk kategori ini, tinggal lihat apakah tulisan-tulisannya menyerukan perang agama untuk kejadian di Tolikara atau tidak. Saya kasih bocoran, beberapa media yang saya masukkan dalam kategori ini adalah media-media yang tempo hari mau diblokir pemerintah.

2. Media memancing di air keruh

Bagi para pemancing, konon memancing di air keruh itu enak sekali dan lebih mudah. Ikan-ikan tidak akan bisa melihat dengan baik karena airnya keruh. Jadi kalau ada yang mengumpankan makanan, ikan-ikan ini biasanya akan asal sambar.

Nah, ada jenis media yang biasanya ingin berada di tengah-tengah. Pada satu sisi ingin memberitakan dengan baik dan hati-hati. Informasinya ketat dengan verifikasi. Namun di saat yang bersamaan juga perlu untuk memberitakan dengan nada yang provokatif. Kenapa? Tentu biar menarik ikan, eh, pembaca yang lebih banyak. Sehingga, yang ingin mencari informasi beneran akan ikut membaca dan membagikan berita. Begitu juga dengan pembaca yang ghirah jihad-nya tinggi. Yang diuntungkan tentu pemancing, eh, media yang bersangkutan.

3. Media panas-dingin

Ini jenis media yang labil. Di menit-menit awal peristiwa Tolikara begitu cepat memberitakan, dan penuh semangat menyebarkan informasi bahwa umat muslim yang sedang melakukan ibadah salat Id diserang. Ditambah kalimat dramatis, serangan terjadi tepat ketika takbir pertama.

Sering dengan perkembangan kasus, banyak berita di media tipe ini diubah tanpa pemberitahuan kepada para pembacanya. Tidak hanya judul yang diubah, isi berita pun diubah.

Berita-berita yang awalnya bikin darah panas, tiba-tiba berubah jadi sedingin es. Selabil perubahan iklim yang salah satunya membuat bencana hujan es di Papua dan menyebabkan banyak warga meninggal.

4. Media Dadakan

Ini adalah tipe media yang menampilkan tulisan-tulisan berisi kritik terhadap pemberitaan media-media tipe panas-dingin. Media-media ini membeberkan dosa dan kesalahan media panas-dingin, menyebut itu sebagai konspirasi kaum kafir musuh Allah, sembari tak lupa menyisipkan informasi bahwa mereka tahu fakta sebenarnya yang terjadi di Papua.

Kenapa saya masukkan mereka dalam jenis media dadakan? Tidak lain dan tidak bukan karena tiba-tiba saja media-media ini malihrupa menampilkan citra sebagai media yang baik dan benar. Padahal biasanya hanya menebarkan fitnah tidak karuan.

Iklan

5. Media sosial

Kalau ini tentu yang kita pakai sehari-hari. Dalam peristiwa Tolikara, media sosial adalah sarana utama yang membuat surat edaran dari Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI) bisa segera tersebar menembus batas-batas geografis Tolikara dan segera menjadi santapan kelas menengah berisik.

Di media sosial, kita bisa melihat mana orang yang mau susah payah memverifikasi informasi, mencari tahu mana yang hoax mana yang bukan, dan mana yang menunggangi kasus ini agar terkenal. Di era media sosial, jihad terasa begitu mudah.

Nah, sekarang terserah anda mau membaca berita-berita yang mana. Tinggal pilih, mau mencari informasi apa adanya, mau bikin perang agama, memberi perhatian kepada Papua, atau mendinginkan suasana. Tentu anda bebas memilih bahan bacaan.

Karena kita adalah apa yang kita baca.

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2017 oleh

Tags: Idul FitriMediaTolikara
Wisnu Prasetya Utomo

Wisnu Prasetya Utomo

Peneliti media, Dosen FISIPOL UGM, tinggal di Sleman. Plus masih jomblo, katanya.

Artikel Terkait

AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Tak Bisa Bikin Ketupat di Desa Manggar Rembang Dibayangi ‘Hukuman Mengerikan’

10 April 2024
Idul Fitri Bukan Hari Kemenangan MOJOK.CO

Jangan Pernah Menduga Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan

10 April 2024
Nyeseknya Cewek Jombang Bapak Meninggal saat Lebaran MOJOK.CO

Nyeseknya Cewek Jombang saat Bapak Meninggal di Malam Lebaran, Padahal Baru 5 Hari Bertemu Setelah Sekian Lama Terpisah

6 April 2024
Waduh! 3 Konglomerat Media Ini Ikut Pemilu 2024, Yuk Intip Harta Kekayaannya MOJOK.CO

3 Konglomerat Media Ini Ikut Pemilu 2024, Yuk Intip Harta Kekayaannya

5 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.