MOJOK.COMenurut saya, Nokia 5310 XpressMusic cuma punya satu kekurangan, yaitu keyboard yang keras kayak papan parutan kelapa.

Saya masuk kuliah tahun 1999 dan lulus 2005. Sepanjang enam tahun saya kuliah, salah satu benda yang selalu ada di dalam tas adalah walkman. Sebelum iPod merajai, walkman adalah alat mendengarkan musik paling oke. Bisa dibawa ke mana-mana, baterainya murah, dan masih pakai kaset pita. Ada rasa bangga karena beli produk asli, yaitu kaset pita.

Bahkan sampai saya sudah bekerja sebagai guru, walkman masih setia di dalam tas. Dua kaset yang selalu saya bawa adalah Pearl Jam yang album Yield dan Radiohead yang OK Computer. Iya, iya, saya tua.

Namun, semuanya berubah ketika Nokia merilis sebuah hape untuk menandingi terobosan Sony. Waktu itu, Sony mengeluarkan Sony Ericsson seri Walkman, hape urusan musik yang keren betul pada zamannya. Nokia menjawab kreasi Sony dengan Nokia 5310 XpressMusic, hape batangan khas Nokia yang terlihat sangat elegan.

Waktu pertama rilis, kalau saya tidak salah ingat, warnanya hitam dan merah. Di sisi kiri ada tombol khusus pengaturan musik. Ada fast forward, stop/play, dan back atau rewind. Fitur ini namanya dedicated music keys. Jadi kita nggak perlu buka hape kalau mau ganti lagu. Tinggal pencet tombol di sisi hape, mirip seperti memegang walkman tipis.

Nokia 5310 XpressMusic ini punya memori internal sebesar 30MB. Waktu itu, ukuran 30MB udah lumayan untuk menampung beberapa lagu bajakan. Enaknya lagi, Nokia menyertakan memori eksternal atau MicroSD sebesar 2GB. Ini udah mantep banget. Kamu bisa jadi semacam tengkulak lagu-lagu bajakan di warnet.

Yup, betul, karena Nokia 5310 XpressMusic ini, saya mulai jarang membeli kaset pita. Apalagi saat itu, toko-toko musik yang menjual kaset pita sudah mulai “menderita”.

Beberapa sudah gulung tikar karena orang sudah mulai bisa download banyak lagu. Bahkan, makin ke sini, orang nggak perlu download lagi, tapi tinggal pergi ke warnet. Tinggal minta tolong ke penjaganya untuk mengisi lagu ke perangkat yang kita bawa.

Sekitar 2005 sampai 2007 juga mulai marak piranti penyimpanan data bernama flashdisk. Saat itu, yang kapasitasnya 512MB, harganya sekitar Rp250 sampai Rp300 ribu.

Untuk kapasitas 1GB, harganya ada yang mencapai Rp900 ribu. Saking mahalnya, flashdisk jadi semacam benda berharga. Yes, dikalungkan di leher macam kalung emas. Orang-orang merasa sudah paling kaya kalau di lehernya melingkar flashdisk dengan merek SandDisk atau Kingston berkapasitas 512MB. Hahaha… goblok betul. Good old times….

Nah, karena nggak punya flashdisk serasa kalung emas, Nokia 5310 XpressMusic menjadi wadah penyimpanan lagu. Cocok banget sama tujuannya sebagai hape musik dan warnet adalah jujugan yang menyenangkan.

Lagu-lagu bajakan dari warnet mulai mengalir masuk ke Nokia 5310 XpressMusic. Kamu, angkatan lawas, tentu tahu lagu-lagu populer warnet periode 2005 sampai 2010.

Dimulai dari Dear God, lagu ballad dari Avenged Sevenfold. Kalau lagi main di warnet sendiri, lagu ini pasti ada di playlist Winamp warnet. Bahkan saya pernah “dipaksa” mendengarkan lagu ini tiga kali berurutan sama operator warnet di depan kampus Sanata Dharma Yogyakarta. Kayaknya operator warnet di sini cinta mati sama suaranya Matt Shadow.

Setelah Dear God, biasanya ada lagu-lagunya Jamrud. Banyak lagu Jamrud yang everlasting dan jadi playlist populer warnet kala itu. Mulai dari Ningrat, Putri, Pelangi di Matamu, Asal British, Surti Tejo, lagu wajib boomer ketika ulang tahun: Selamat Ulang Tahun, dan Waktuku Mandi.

Setelah Dear God dan lagu-lagu Jamrud, Nokia 5310 XpressMusic saya diisi lagu-lagu yang tidak terlalu saya sukai, tapi dipaksa sama OP warnet untuk “harus ada”. Mulai dari Hapus Aku dari Nidji, Ular Berbisa dari Hello (sumpah ini lagu aneh betul tapi sialan, nempel di otak), Bunga dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black, dan yang paling fenomenal: Tokyo Drift dari Teriyaki Boyz. Edan!

Untungnya, MicroSD Nokia 5310 XpressMusic lumayan besar untuk ukuran waktu itu. Jadi, saya bisa menambahkan beberapa lagu dari Pearl Jam, Radiohead, The Beatles, dan Queen. Dan jadilah, sebuah hape yang bikin walkman makin tidak lagu. Yah, sangat disayangkan, tetapi perkembangan zaman pasti memakan korban.

Sebetulnya, kalau sebatas untuk mendengarkan musik, Nokia 5310 XpressMusic sudah lumayan. Namun, kan tidak mungkin punya hape kalau tidak untuk berkomunikasi. Nah, salah satu masalah dari hape batangan ini ada pada keyboard-nya.

Saya tidak tahu apakah masalah ini cuma mampir ke saya atau terjadi ke banyak orang. Jadi, keyboard Nokia 5310 XpressMusic mulai sering hang di tahun kedua pemakaian. Karena hang, terkadang saya refleks menekan tombol lebih keras. Buat jaga-jaga saja siapa tahu saya kurang kuat menekan tombol di keyboard.

Alhasil, keyboard hapi ini jadi terasa keras betul, mirip papan parutan kelapa. Lama-kelamaan bikin sakit jempol juga. Apalagi waktu itu cuma SMS yang bisa diandalkan untuk berkomunikasi. Menelepon? Jangan bercanda. Irit pulsa, dong. Hehehe….

Yah, sebagai pengguna Nokia 5310 XpressMusic untuk waktu yang singkat, saya rasa kekurangan hape ini cuma ada di keyboard saja. Selebihnya, Nokia memang “menepati janji” ketika meluncurkan hape musik. Sudah kayak Gunung Merapi saja yang “tak pernah ingkar janji”.

BACA JUGA Nokia 5.3 dan Nokia 5310: Nokia Memang Paling Jago Bikin Hape Nostalgia dan nostalgia hape lawas lainnya di rubrik KONTER.

Baca juga:  Anti BlackBerry BlackBerry Club