Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Celengan

Pedoman Mengatur Pengeluaran bagi Mahasiswa yang Nggak Pengin Keuangannya Defisit Kayak Negara

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
14 September 2018
A A
mengatur pengeluaran
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bukan rahasia lagi jika sebagian besar mahasiswa masih mengandalkan kiriman dari orang tua sebagai satu-satunya sumber pendapatan. Kali ini Om Haryo akan membagikan pedoman cara mengatur pengeluaran supaya dengan uang kiriman yang segitu-gitu aja kalian bisa tetap sejahtera.

 

Selamat pagi Celengers,

Gimana gimana, Om sudah kaya motivator yang kekinian belum? Mau gelap mau terang, entah pagi betulan atau sudah larut, salamnya tetap, “selamat pagi!”. Iya, itu satu jenis salam yang diharapkan merevolusi diri kita untuk mempunyai semangat yang biasanya menyala di pagi hari.

Tapi coba bayangkan kalau malam-malam kalian disapa oleh teman dengan ucapan tersebut. Sementara kondisi keuanganmu tengah redup-redupnya: kiriman datang masih 2 minggu lagi, uang proyek dari dosen masih jauh di ufuk, dana talangan dari teman (baca: utang) semakin seret, dan diperparah situasi percintaan sedang di persimpangan. Akankah kalian semangat?

“Selamat pagi, Gaesss!”

“Pagi ndasmu, Gaesss. Lu tuh literally which is banget, yes? Belajar fisika sederhana ngga sih? Ngerti nggak kalau rotasi bumi mengakibatkan terjadinya siang dan malam? Ngerti nggak kalau bahasa itu harus nyambung dan sejalan dengan fakta ilmiah. ”

Itu yang menurut Om akan terjadi kalau kalian salah menyapa anak Jakarta Selatan yang kuliah di universitas ndeso (poros Jatim-Jateng-DIY). Sudah suasana hatinya lagi kurang ok, rekeningnya tengah tiris dan setipis atm-nya. Kita yang bermaksud baik dengan cara memompa semangatnya, malah jadi duduk terpekur diendhas-endhasin.

Celengers yang merasa sudah ngirit tapi babak belur keuangannya, hikmah apa yang sebenarnya dapat kita petik dari kejadian di atas?

Eh, kalian kalau ditanya hikmah jangan buru-buru tersinggung seperti saat menjawab selamat pagi padahal malam. Pengeluaran yang melebihi penerimaan kita (uang saku) memang acap kali membuat panik.  Wajar sih, namanya juga mahasiswa. Makhluk penuh rencana dan wacana, tetapi lebih sering mentok karena terbentur dana.

Ada satu petuah bijak dari Rusia di dunia finansial yang dapat dipergunakan untuk menyadarkan kita tentang pentingnya mengelola pengeluaran, “membelanjakan uang itu cepat, tidak selambat saat mendapatkannya”. Pas sekali petuah tersebut untuk menjawab permasalahan khas mahasiswa yang memang sering kesulitan mengerem konsumsi.

Untuk tahap awal, percaya dulu bahwa petuah untuk mengelola pengeluaran tersebut memang berasal dari Rusia, bukan Trenggalek. Tahap selanjutnya, mengelompokkan 5 pos pengeluaran mahasiswa dalam 2 kelompok menurut pengelolaannya: mudah dikelola dan sulit dikelola.

Kelompok pengeluaran mudah dikelola

Setidaknya ada 3 pos pengeluaran yang mudah dikelola pengeluarannya: uang kuliah, uang kos, uang buku, dan uang perlengkapan penunjang. Kelompok pengeluaran tersebut mudah dikelola dalam arti besarannya dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diverifikasi dengan relatif mudah. Orang tua dapat mengawasi secara langsung. Pembayaran uang kuliah dan kos dapat dengan mudah dilakukan melalui transfer antar rekening atau antar bank. Tinggal klik, beres!

Iklan

Mudah juga berarti kalau uang tersebut tidak mampir dulu melalui rekening kalian. Dari pengalaman yang sudah-sudah, semula sekedar towel-towel rekening untuk menalangi atau menambal berbagai pengeluaran pribadi, akhirnya bablas dan amblas tak bersisa.

Dengan kata lain, kesulitan baru muncul saat orang tua mencoba mendidik anaknya untuk belajar mandiri dalam mengelola keuangannya. Untuk kalian yang diberi keleluasaan menambah anggaran, tentu tidak akan sepusing mahasiswa yang beranggaran mepet.

Kelompok pengeluaran sulit dikelola

2 pos pengeluaran masuk dalam kelompok ini: pengeluaran pribadi dan transportasi. Pengeluaran pribadi atau dapat disebut juga pengeluaran rutin ekstra sering menjadi bahaya laten yang mengancam ambruknya kesehatan keuangan mahasiswa. Eh sebentar, kalau dengar kata laten biasa saja ya. Kalem saja, jangan langsung berpikir keuangan kita disusupi komunis.

Pengeluaran yang tidak terencana dengan baik akan menggerogoti pengeluaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Satu contoh mengeluarkan dana anggaran kos dan kuliah yang untuk memenuhi gaya hidup (pakaian, asesoris, gadget, ngafe, nonton konser) yang sebenarnya dapat ditangguhkan. Nggak salah sih ngafe atau nonton, wajar. Tapi kalau dilakukan tiap hari tanpa memandang kemampuan yang dimiliki, di situlah letak kesalahan mendasarnya.

Ya kalau rencana mulus ada pemasukan tambahan seperti rencana, kalau tidak? Begitu waktunya membayar kos, terpaksa harus menggadaikan barang yang dimiliki. Iya kalau barang milik sendiri ada, kalau yang ada barang temen?

Walau boros, itu contoh pengeluaran yang masih ada sisi positifnya. Tidak melanggar hukum. Om sengaja tidak memasukkan contoh pengeluaran yang bersilangan dengan sistem hukum kita seperti narkoba, ngeri. Padahal itu sangat mungkin dilakukan mahasiswa di hari-hari ini. Celengers semoga bukan menjadi bagian dari penyakit masyarakat itu apa pun alasannya.

Bagaimana membuat kondisi keuangan mahasiswa sehat yang lebih sistematis?

Tujuan Keuangan

Hal pertama yang harus dilakukan membuat tujuan keuangan. Tujuan keuangan tersebut berguna untuk menetapkan hal-hal yang ingin dicapai setelah kalian melakukan pencatatan-pencatatan untuk mengatur keuangan. Ingin sekedar bebas utang, ingin mendapatkan barang-barang yang diincar tanpa mengganggu pengeluaran rutin atau bahkan ingin lulus dalam kondisi lumayan kaya?

Anggaran Keuangan

Tujuan keuangan yang telah ditetapkan hanya dapat dicapai kalau kita mendisiplinkan diri dengan mencatat mulai penerimaan hingga jenis pengeluaran. Anggaran yang sehat dapat dicapai kalau pengeluaran lebih kecil atau sama dengan pemasukannya. Kalau lebih besar pengeluaran? Itu yang disebut dengan defisit. Patuh pada anggaran yang telah kita buat akan membantu kita terhindar dari defisit.

Investasi & Menabung

Itu sebenarnya panduan saja, tidak perlu kaku pada catatan yang ada. Misal, hanya karena di anggaran tidak tercantum nraktir cewek, kalian jadi melewatkan kesempatan nraktir gebetan. Begini lho, kalau itu memang jadi bagian dari “investasi”, eksekusi saja pengeluaran tersebut. Konsekuensinya, besoknya kalian menggantinya dengan puasa. Lho, ini serius. Gebetan akan terpesona, pahala juga melimpah. Hahaha pokoknya bagaimana neraca yang kita susun tidak timpang. Soal terpesona atau tidak sebenarnya masalah chemistry, eh siapa tau dia juga mempunyai tujuan keuangan yang sama.

Pengeluaran rutin seperti makan, foto copy, beli pulsa, beli es kelapa dan seterusnya apakah perlu dicatat? Loh loh loh loh… kok masih pake tanya. Itu sudah pasti! Pertimbangannya sederhana saja, itu akan jadi bahan evaluasi seandainya kita masih menginginkan jenis pengeluaran yang akan kita pertahankan atau justru akan dibuat lebih hemat.

Kalau ada sumber penerimaan selain dari orang tua lebih enak lagi, tinggal dialokasikan sebagian untuk dana cadangan dan tambahan tabungan. Kalau itu dilakukan dengan penuh disiplin, ditambah mempunyai kesanggupan investasi dalam bentuk reksadana yang produknya dari hari ke hari semakin terjangkau. Om yakin, mahasiswa Indonesia akan jauh lebih kaya dari dosennya.

Ya, tentu saja dosen yang boros…

Terakhir diperbarui pada 14 September 2018 oleh

Tags: defisitkeuangankiriman orang tuaKonsultasi keuanganMahasiswaMenabungutang
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO
Mendalam

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026
Salah Paham Konsep Menabung Bikin Kamu Malah Sulit Cuan MOJOK.CO
Cuan

Menciptakan Rasa Aman Finansial dengan Langkah Sederhana Bernama Menabung: Tips Cuan dari Nabung Harian Ala Bapak2ID

22 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.