Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Target Semifinal Asian Games 2018, Tapi Performa Timnas Indonesia Asuhan Luis Milla Biasa Saja

Sirajudin Hasbi oleh Sirajudin Hasbi
3 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Untuk Asian Games 2018, target timnas Indonesia adalah masuk ke semifinal. Namun, melihat performa yang biasa-biasa saja, target tersebut tetap saja berat.

Asian Games 2018 segera hadir. Persiapan penyelenggaraan dikebut. Semua dicek satu per satu untuk memastikan bisa selesai tepat waktu. Rekayasa lalu lintas mulai diujicoba di Jakarta. Di Palembang, Alex Noerdin mengatakan mereka sudah siap seratus persen.

Tapi, bagi Luis Milla, pelatih timnas Indonesia, dia belum yakin seratus persen. Dia masih ragu akan mendaftarkan nama siapa saja ke skuat final Asian Games 2018. Maklum, dia harus menyingkirkan sepuluh nama untuk mendaftarkan 20 nama pemain. Jumlah yang boleh dimainkan saat putaran final.

Milla pantas ragu. Penulis yakin dia belum yakin dengan skuat yang ada sekarang, meski Bima Sakti menegaskan bahwa Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan sudah padu serta dalam kondisi bugar setelah menjalani pelatnas di Gianyar, Bali.

Persoalan memilih pemain begitu kompleks. Sejak gagal memenuhi target meraih medali emas di SEA Games 2017 dan hanya memperoleh perunggu, performa timnas tak baik-baik amat dalam laga persahabatan maupun turnamen yang diikuti.

Tujuh pertandingan dijalani dengan hanya menang sekali, dua kali bermain seri, dan empat kali kalah. Lini depan tumpul dengan hanya mencetak tujuh gol, itu pun tiga di antaranya ke gawang Singapura saat menang 3-0. Artinya, timnas tak selalu bisa mencetak gol. Lini belakang juga mengkhawatirkan, kebobolan delapan gol.

Persoalan penyerang memang menjadi permasalahan tidak hanya di timnas Indonesia U-23, tapi juga senior. Banyak yang sepakat ini imbas dari kebijakan klub yang lebih memilih penyerang asing sebagai pemain depan andalan. Menit bermain yang minim jadi kambing hitam mengapa kita sulit mendapatkan striker tajam untuk timnas Indonesia.

Bahkan setelah menaturalisasi Ilija Spasojevic, masalah penyerang belum jua selesai. Sang penyerang juga sedang dalam performa buruk di Bali United. Luis Milla kemudian lebih memilih penyerang senior lain, Beto Goncalves, naturalisasi dari Brasil untuk dicoba. Hasilnya tetap belum memuaskan.

Ezra Wallian, yang bermain di liga kasta kedua Belanda tidak bisa memenuhi tugas negara karena klub barunya, RKC Waalwijk, tak memberinya izin. Asian Games 2018 memang bukan turnamen yang ada di kalender FIFA, sehingga klub diperbolehkan untuk tidak melepas pemainnya.

Son Heung Min pun bisa bermain untuk Korea Selatan setelah KFA, federasi sepak bola Korea Selatan, melakukan negosiasi dengan Tottenham Hotspur. Itu pun Son tak akan bermain di laga perdana saat melawan Bahrain.

Hanya ada dua penyerang di TC Bali, selain Beto, adalah pemain belia Rafli Mursalim. Penyerang timnas Indonesia U-19 tersebut bisa bermain eksplosif saat Piala AFF U-19 lalu, tapi itu di level U-19. Asian Games 2018 punya level dua tingkat lebih tinggi. Kelompok umur di atasnya dan diikuti oleh tim kuat Asia.

Beto sepertinya akan tetap dipilih Milla. Tidak punya pilihan lain. Dua penyerang yang ada akan dia maksimalkan. Tapi, itu berarti dia akan memilih membuang pemain di antara Stefano Lilipaly, Andritany Ardhyasa, dan Ridho Djazulie. Maksimal hanya boleh tiga pemain yang kelahirannya di atas 1 Januari 1995.

Hal ini yang kemudian jadi persoalan. Tidak mungkin mencoret Andritany dan Ridho sekaligus karena kiper yang harus didaftarkan harus dua orang. Tidak mungkin juga seorang penjaga gawang tanpa cadangan. Apakah berarti Milla harus mencoret Stefano Lilipaly demi memfasilitasi pemain di bawah usia 23 tahun lainnya? Pilihan yang agak tidak mungkin, bukan?

Untuk posisi penjaga gawang, Ridho besar kemungkinan akan dicoret. Milla tampak lebih mempercayai Andritany untuk mengisi slot dua kiper bersama Awan Setho.

Iklan

Meski kiper Persija Jakarta tersebut baru pulih dari cedera dan belum seratus persen pulih, sebagai pemain yang berlaga di Asian Games Incheon dan pemain yang reguler berlaga di level internasional, pengalamannya amat dibutuhkan. Dia juga piawai untuk mengatur lini belakang.

Lilipaly mencetak satu gol saat uji tanding terakhir melawan Bali United. Dia tampil sejak awal sebagai gelandang serang. Sampai di sini, keputusan tetap sulit dibuat. Jika diperbolehkan, tentu Milla bakal membawa semua pemain yang ia rasa cocok dan berkualitas.

Namun, jika mesti memilih salah satu, maka Lilipaly yang kemungkinan besar akan didaftarkan ke dalam skuat final Asian Games 2018. Dia adalah gelandang serang yang memiliki visi bermain mumpuni. Bisa bermain di belakang penyerang dan salah satu yang terbaik di liga.

Dengan begitu, Irfan Jaya bisa dibawa sebagai pelengkap Febri, Ilham Udin Armayn, dan Saddil Ramdhani. Saddil tampil konsisten bersama Persela dan timnas Indonesia U-19. Dia bisa jadi opsi tajam di sisi kanan serangan dengan kekuatan kaki kiri yang membuatnya bisa melakukan cut inside dengan amat baik.

Itu jika keputusan dibuat oleh penulis. Keputusan akhir tetap akan ada di tangan Milla. Dia yang tahu apa yang dia butuhkan. Pemain yang didaftarkan adalah yang sesuai dengan model permainan yang dia kembangkan.

Toh, tak ada pemain yang tak tergantikan. Septian David Maulana dan Evan Dimas bisa bermain di posisi Lilipaly. Atau Milla bisa saja membuat keputusan mengejutkan dengan tak pula membawa Beto dan percaya pada pemuda jebolan Liga Santri saja, Rafli Mursalim.

Keputusan yang diambil pelatih yang pernah menukangi Spanyol U-21 itu akan ikut menentukan dia bertahan sebagai pelatih timnas atau tidak. Jika gagal memenuhi target empat besar, Milla kemungkinan besar dipecat.

Edy Rahmayadi sudah menyatakan hasil Asian Games 2018 akan jadi materi utama evaluasi. Sang gubernur terpilih itu sudah menyiapkan langkah untuk merespons kalau-kalau Milla gagal.

Hanya saja, Milla tetap punya asa meski skuatnya masih dipenuhi keraguan. Hasil undian grup menguntungkan timnas Indonesia. Timnas Garuda tergabung di grup A yang disebut sebagai grup ringan bersama Hong Kong, Laos, China Taipei, dan Palestina.

Format kompetisi Asian Games 2018 pun memudahkan langkah timnas Indonesia. Asian Games 2018 diikuti 26 tim, lebih sedikit dibanding Asian Games Incheon yang diikuti 29 tim, Inasgoc membaginya ke dalam enam grup.

Babak sistem gugur tidak langsung perempat final melainkan melalui perdelapan final. Itu berarti akan ada 12 juara dan runner up grup yang lolos dengan ditemani empat peringkat tiga terbaik. Cukup dengan meraih satu kemenangan dan dua hasil imbang, Indonesia bisa lolos.

Tapi, hitung-hitungannya tetap harus hati-hati. Melihat  format kompetisi Asian Games 2018, Grup F yang dihuni tim besar bisa memunculkan Arab Saudi, Iran, dan Korea Utara untuk lolos bersamaan.

Di Incheon, Indonesia kalah dari Korea Utara dengan skor 1-4 di babak 16 besar. Mereka adalah peraih medali perak setelah kalah dari tuan rumah Korea Selatan 0-1. Ingat, kalaupun gagal, mengganti Milla pun tak akan menggaransi kita menjuarai Piala AFF Desember mendatang.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2018 oleh

Tags: asian games 2018edy rahmayadiezra walianirfan jayajakartaluis millapalembangtimnas indonesia
Sirajudin Hasbi

Sirajudin Hasbi

Artikel Terkait

Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co
Pojokan

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Kerja di Jakarta gaji 5 juta sebenarnya cukup saja bagi perantau. Tapi yang dirampas dari mereka jauh lebih banyak MOJOK.CO
Urban

Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

24 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co
Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Album baru ARIRANG BTS. MOJOK.CO

Sekecewanya ARMY dengan Album “ARIRANG”, Patut Diakui kalau Lagu-lagu BTS Selamatkan Hidup Banyak Orang

29 Maret 2026
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

27 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.