Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Vigit Waluyo, Opera Sabun Gusti Randa, sampai Persebaya Surabaya

Fajar Junaedi oleh Fajar Junaedi
2 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tidak seperti Gusti Randa, Persebaya Surabaya tak mungkin bisa melupakan Vigit Waluyo. Sebab dia yang bikin hati Bonek pecah jadi dua.

Jelang berakhirnya Liga 1 dan Liga 2 di penghujung tahun 2018, sepak bola Indonesia kembali diramaikan dengan isu pengaturan skor (match fixing). Ini sebenarnya musim-musim tahunan saja, seperti musim duren, musim pengharaman ucapan selamat natal, musim fitnah, sampai kemudian musim match fixing. Udah jadi siklus.

Nama Vigit Waluyo dan M. Hidayat merupakan dua nama yang mengemuka dalam wacana publik, setelah di program talkshow Mata Najwa keduanya disebut Bambang Suryo dan Januar Herwanto sebagai aktor yang mempermaikan skor pertandingan sepak bola di Indonesia.

Bambang Suryo sebagai mantan runner pengaturan skor dan Januar Herwanto, Manajer Madura FC.

Bagi mereka yang ngikuti sepak bola tanah air sejak lama, nama Vigit Waluyo bukan orang asing dalam sepak bola Indonesia. Maka, sungguh bikin terkejut bin aneh bin absurd jika Exco PSSI yang hadir di Mata Najwa, Gusti Randa mengaku tidak mengenal Vigit Waluyo.

Gusti Randa berkelit jika PSSI itu tugasnya ngurus federasi, bukan mafia. Oke deh. Mungkin Gusti Randa sedang rindu bersandiwara di sinetron Siti Nurbaya, Kasih tak Sampai (1991) yang melambungkan namanya sebelum terpelanting jadi pengurus PSSI. Pemain sinetron lalu banting setir ngurus sepak bola. Luwar biyasa multitalenta.

Sinetron sendiri merupakan akronim dari sinema elektronik, sebuah program drama bersambung produksi lokal Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi dalam negeri.

Di ranah manajemen penyiaran televisi, sinetron dalam bahasa Inggris searti dengan opera sabun (soap opera), sedangkan dalam bahasa Spanyol semaksud dengan telenovela.

Sering dijumpai, kisah sinetron tidak logis. Tapi itu bisa dimaklumi, sebagai sinetron, kisah di dalamnya kadang punya universe-nya sendiri. Seperti Sinetron PSSI misalnya, yang punya universe sendiri, macam “wartawan baik dulu, baru timnas bisa baik.”

Hal yang sama juga terjadi saat Gusti Randa, sebagai Exco PSSI, mengaku tidak kenal Vigit Waluyo. Pada titik ini ada pertemuan antara pernyataan Gusti Randa dan kisah sinetron, yaitu sama-sama tidak logis, sama-sama tidak bisa diterima akal sehat. Tapi hal ini bisa dimaklumi, namanya juga sinetron PSSI.

Sebab, jika mengikuti silogisme kategorial, premis mayornya adalah Exco PSSI mengenal semua pemilik/manajer klub sepak bola di seluruh Indonesia. Premis minornya Vigit Waluyo adalah pemilik salah satu klub, yakni PSMP Mojokerto.

Konklusinya: Exco PSSI mengenal Vigit Waluyo.

Sekarang begini. Gusti Randa merupakan Exco PSSI. Mengikuti silogisme ini, berarti Gusti Randa sewajarnya kenal (atau minimal tahu) sosok Vigit Waluyo. Apalagi Vigit Waluyo juga pernah menjadi Manajer Persewangi Banyuwangi, PSIR Rembang, Persikubar Kutai Barat, dan Deltras Sidoarjo.

Nama Persikubar tentu tidak asing bagi pecinta sepak bola Indonesia—terutama bagi para Bonek pendukung Persebaya Surabaya. Sebab klub dari Kutai Barat, Kalimantan itu diboyong oleh Vigit Waluyo ke Jawa Timur untuk “merebut” hak berkompetisi Persebaya yang di saat bersamaan sedang konflik dengan PSSI.

Iklan

Sebagaimana kisah sinetron yang tidak perlu logis karena punya universe-nya sendiri, Persikubar tiba-tiba berubah nama jadi “Persebaya”. Klub transmigran dari Kutai Barat ke Surabaya ini kemudian dikelola oleh PT. Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) dengan dukungan La Nyala Mattaliti, Ketua Umum PSSI 2012.

Keberadaan “Persebaya” yang disulap dari Persikubar menjadi episentrum gejolak sepak bola Indonesia selama bertahun-tahun. Klub abal-abal ini merampas sebuah klub bersejarah yang ikut mendirikan PSSI.

Sejarah membuktikan klub bodong ini tidak berhasil mengambil hati Bonek, yang secara militan mendukung Persebaya (1927) yang asli.

Mario Karlovic, pemain Persebaya asal Australia yang mengalami masa-masa sulit saat Persebaya dianiaya federasi pernah berkata, “You can’t buy history, history can only be made.” Jika saja Vigit Waluyo tidak campur tangan ke dalam konflik Persebaya mungkin ceritanya akan beda.

Sebenarnya sejak dulu persoalan suap telah menggerogoti sepak bola kita.  Majalah Tempo, 2 April 1988, menurunkan sebuah berita berjudul “Acub Zainal: Rusaknya Sudah Terlalu Parah”.

Majalah berita mingguan ini menuliskan mengenai rusaknya tata kelola sepak bola Indonesia akibat suap, meski sudah dibentuk Tim Penanggulangan dan Pemberantasan Masalah Suap (TPPMS).

Dalam laporan tersebut disebutkan ada 14 permainan sabun dalam babak 6 besar Perserikatan pada 1988.

“Kalau pemain dan pengurusnya kurang ajar, tidak punya moral, tidak punya sportivitas, ya sama saja. Permainan sepak bola sabun akan terus ada,” ujar Acub Zainal saat itu.

Tahun 2019 sebaiknya istilah sepak bola gajah yang merujuk pada pertandingan yang diwarnai match fixing dikembalikan ke istilah awal yang disebut oleh Acub Zainal, yaitu sepak bola sabun.

Hal ini disebabkan karena istilah “sepak bola gajah” muncul saat Persebaya Surabaya mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12 pada musim kompetisi Perserikatan 1987/1988.

Dalam buku Sepakbola Gajah Paling Spektakuler (2016), disebutkan kalau Persebaya ngalah dengan skor telak, karena dilatarbelakangi untuk upaya penyelamatan satu-satunya wakil sepak bola Irian Jaya (Papua) yang tersisa kala itu.

Meski begitu banyak orang lebih suka mempercayai alasan kalau Persebaya ngalah dari Persipura, untuk menyingkirkan PSIS Semarang yang di tahun 1986/1987 mengalahkan Persebaya di babak final Divisi Utama Perserikatan.

Alasan pertama tentu sungguh mulia, sehingga istilah “sepak bola gajah” terlalu suci kalau disebut pertandingan yang diwarnai match fixing. Nah, kalau alasan kedua, hal itu barangkali bisa disebut sebagai istilah yang digunakan Acub Zainal sebagai; “sepak bola sabun”.

Bagi generasi pra milenial tentu paham siapa Acub Zainal. Acub Zainal pernah menjadi ketua umum Niac Mitra, klub Galatama asal Surabaya pada pertengahan 1980-an.

Selain dengan sepak bola, Acub Zainal juga bersinggungan dengan film. Acub Zainal pernah menjabat sebagai Ketua Festival Film Indonesia (FFI) yang berlangsung di Surabaya tahun 1981.

Dalam hal ini Exco PSSI sekelas Gusti Randa seharusnya belajar dari Acub Zainal tentang bagaimana hidup di ranah film/sinetron dan sepak bola. Lha gimana? Acub Zainal tidak pernah berakting saat sedang mengurus sepak bola.

Sangat jauh jika dibandingkan dengan Gusti Randa, terutama kalau di depan kamera Mata Najwa.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2018 oleh

Tags: bonekGusti Randamatch fixingopera sabunpengaturan skorpersebayaPSSIsepak bola gajahVigit Waluyo
Fajar Junaedi

Fajar Junaedi

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Artikel Terkait

Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO
Ragam

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025
Histori

Ingatan Memalukan di Stadion Bahrain 12 Tahun Silam, Catatan dari Era Bobrok PSSI

10 Oktober 2024
Cerita Bonek Sidoarjo Memberi Nama Green Force untuk 4 Anaknya karena Kegilaan Cinta pada Persebaya Surabaya MOJOK.CO
Sosok

Punya Orang Tua Bonek Militan: Mewarisi “Kegilaan Cinta” pada Persebaya Sejak Dini, Umur 2 Bulan Sudah Dibiasakan Nribun

31 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.