MOJOK.CO –  Mas Nadiem Makarim, soal begituan mah semua mahasiswa juga udah tahu. Tapi pas mau masuk kerja kan, syaratnya selalu bawa-bawa gelar. Ada gitu tes masuk Indomaret disuruh simulasi jadi kasir dan ngitung stok barang?

Kalau dalam 100 hari Kabinet Indonesia Maju ada pemilihan menteri yang paling mahir berkata-kata, rasanya bakal muncul calon tunggal Nadiem Makarim. Belum genap dua bulan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pendiri Gojek, perusahaan teknologi yang “menyiksa” para “mitra”-nya karena sejumlah aturan kurang manusiawi sukses membuat banyak orang tak lagi pengangguran itu sudah membuat banyak orang terpana karena kata-katanya.

Mirip Anies Baswedan ketika menjadi menteri pendidikan. Nadiem memukau pemirsa mulai dari pidato aduhainya ketika Hari Guru Nasional, wacananya menghapus Ujian Nasional, hingga yang terbaru, kata-katanya yang menyiratkan bahwa gelar pendidikan bukan segalanya.

Rasanya seperti melihat secercah harapan ketika Nadiem bilang, “Saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi.” Bahwa gelar bukan segalanya. Bahwa kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Bahwa akreditasi tidak menjamin mutu. Bahwa masuk kelas tidak menjamin belajar.

Tapi alih-alih gembira dan bersujud syukur, saya lebih memilih bertanya-tanya, “Yakin, nih, Mas Menteri?”

Pelajar mahasiswa udah khatam kok kalau gelar bukan segalanya. Ada kalanya temen yang paling pinter di kelas, justru cupu saat disuruh berkarya. Mereka juga ngerti, kemampuan survival di masyarakat tidak ditentukan oleh angka IPK.

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Nadiem Makarim, Bos Go-Jek yang Jadi Mendikbud

Masalahnya, kenyataan dunia kerja tidak seperti itu.

Nadiem Makarim boleh mengatakan “gelar tidak menjamin kompetensi” atau “kelulusan bukan jaminan kesiapan berkarya”, tapi rata-rata lowongan kerja masih mencantumkan gelar dan pendidikan minimal sebagai syarat. Orang tua juga masih menuntut anak-anak mereka meraih gelar setinggi-tingginya, membuat mahasiswa-mahasiswa drop out dihantui perasaan bersalah seumur hidup. Belum lagi calon mertua yang bakal menolak mentah-mentah calon menantu yang cuma “lulusan SMA” atau lebih rendah dari itu.

Mungkin ada sib bos yang bisa takluk dengan omongan, “Saya memang enggak punya ijazah formal, Pak. Tapi saya punya skill. Kompetensi. Asal Bapak Bos tahu, yang penting itu kompetensi, bukan gelar. Itu kata Pak Nadiem, Mendikbud kita.” Tapi seberapa banyak bos seperti itu, mungkin masih lebih banyak pemilik Lamborghini di Surabaya.

Nah, karena itu, ada baiknya Mas Menteri tidak menjadikan cara pandang gelar bukan segalanya ini jargon belaka. Bukan hanya jadi ocehan yang dicatat wartawan, terus terlupakan. Kami sudah lelah dengan omong kosong, Mas Menteri.

Nadiem, misalnya, bisa minta ke Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah untuk membantu agar kata-kata itu jadi lebih bermakna. Nadiem bisa berdiskusi dengan Ida untuk merancang peraturan baru soal syarat penerimaan kerja. Serukan tuh ke pengusaha-pengusaha di seluruh Indonesia untuk mengubah syarat lowongan kerja. Ganti syarat “lulusan S1 minimal IPK 3.00” dan semacamnya dengan hal yang lebih riil. Bisa install ulang Windows, misalnya. Atau pernah bikin postingan dengan like di atas 1K. Konkret.

Baca juga:  Kehidupan Setelah Lulus Kuliah yang Super Duper Mega Menyebalkan

Selain itu, Mas Menteri juga bisa bikin pidato khusus yang disiarkan serempak di semua stasiun televisi. Pidato yang boleh Mas Menteri juduli “Seruan untuk Para Orang Tua di Seluruh Indonesia demi Kemajuan Pendidikan Kita”.

Dalam pidato itu, Nadiem Makarim bisa menyampaikan propaganda agar para orang tua tak lagi menekankan prinsip kuno bahwa gelar pendidikan di atas segala-galanya. Boleh deh Mas Menteri ulangin secara terus-menerus kredo “gelar bukan segalanya, tapi kompetensilah yang terpenting” dalam pidato tersebut. Mas Menteri harus bisa meyakinkan para orang tua untuk mengubah mindset mereka mengenai hakikat pendidikan.

Nah, kalau Mas Menteri sudah bisa bekerja sama dengan Menaker dan meyakinkan para orang tua se-Indonesia, barulah kita bisa berharap lebih banyak. Tentu, kalau hal-hal itu terwujud, kami tak akan segan-segan membangun monumen khusus buat Mas Menteri. Kami juga tidak akan ragu untuk meletakkan nama Nadiem Makarim sebagai salah satu menteri terhebat yang pernah NKRI “price die” miliki.

Soalnya, FYI aja nih, mayoritas orang Indonesia bukan anak orang kaya atau lulusan sekolah mentereng seperti Mas Menteri. Jadi, bagaimanapun, ide “gelar bukan segalanya” tetap belum bisa kami yakini sepenuhnya. Sebab sejauh ini, gelar, nilai ijazah, dan “orang dalam” memang masih segalanya.

BACA JUGA Sekolah Tinggi-tinggi demi Masa Depan yang Haha Hihi atau esai ERWIN SETIA lainnya.