Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Zen RS: Keple van Karangmalang

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
25 Oktober 2016
A A
Zen RS: Keple van Karangmalang

Zen RS: Keple van Karangmalang

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di antara puluhan ribu kader HMI MPO di seluruh Indonesia yang berusia di antara 20 hingga 40 tahun, barangkali Zen RS adalah penulis esai terbaik. Tanpa tanding!

Anda tak salah, Zen RS memang kader organ hi-hi (hijau-hitam) dalam pengertiannya yang sesungguh-sungguhnya. Ia adalah kader milenial. Memasuki gerbang perjuangan umat di awal tahun 2000 di Kampus Karangmalang a.k.a IKIP atawa Universitas Negeri Yogyakarta.

Betapa sulitnya membayangkan pemain sepakbola sejak SMP di Cirebon ini datang ke Yogyakarta lewat penelusuran bibit unggul di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Yogya pada akhirnya masuk sebuah organisasi bergaris anti-Pancasila yang dibikin Kanda Eggy Sudjana.

Aneh? Tidak! Sebagaimana Anda bisa memahfumi sehabis membela Godean Putera di Kabupaten Sleman sebagai pemain amatir sewaan ia segera berlari-lari kecil ke keran air terdekat; wudhu!

Zen tipe kader yang setia dengan satu organisasi ekstra kampus. Setahu saya, HMI MPO adalah satu-satunya organ ekstra yang dipeluknya secara monogamis hingga ia DO. Padahal, godaan masuk KAMMI, PMII, GMNI, terbuka lebar untuknya. Tapi, playboy sejak lahir ini bukan kader yang suka menjadi pengurus organisasi.

Ia lanang-jagat; ia si Cebolang yang ingin mencoba banyak hal.

Termasuk pindah fakultas dari Fakultas Pendidikan Olahraga ke Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Jurusan Sejarah. Hijrah ini juga menandai berpindahnya cara dia memperlakukan tubuhnya.

Di fakultas lama tubuh dipelihara dengan disiplin untuk tetap bugar; sementara di fakultas baru tubuh digunakan secara maksimal untuk merasakan kenikmatan duniawi, sebagaimana remaja Cebolang minggat dari rumah untuk mencari Tuhan. Termasuk dalam pencarian Tuhan itu ia memasuki dunia menulis. Kecerdasannya di atas rata-rata dan bacaan sastra serta sejarah yang sudah dimamahnya saat SMA membuatnya cepat sekali mendapatkan nama di antara teman-temannya.

Dalam menjajal kenikmatan menulis itu, ia menjajal beragama tema; mulai lingkungan, film, buku, tokoh, hukum, dunia mahasiswa, hingga kondom. Di majalah kampus LPM Ekspresi IKIP/UNY tulisan-tulisannya dominan dalam hal kuantitas dan kualitas. Maklum, ia tipe lanang-jagat dan bukan organisatoris.

Nah, di luar tema yang digarapnya saat ini dengan intens, yakni sepakbola dan sejarah, Zen RS—sebagaimana Cebolang—juga gandrung dengan tema-tema perkelaminan.

Dalam arsip Indonesia Buku yang saya jaga—kelola—selain mengamankan cawat cokelatnya yang entahlah Yuk Otim sudah cemplungkan ke mana—beberapa esai seks digarap Zen RS. Kurang intens, memang. Mungkin, karena ia masih canggung sebagai kader umat. Lewat email [email protected] dan [email protected], esai-esai itu dikirimkannya ke Kompas. Dan, tentu saja ditolak, Saudara!

Mengirimkan tema seperti itu ke koran yang diberkati rama-rama? Nauzubillah.

Esai berjudul “Dwifungsi Kondom” ini, misalnya. Astaga, Dwifungsi Kondom! Ditulis pada 4 Januari 2005, sesuai tanggal forensik digital, Zen RS ingin menceritakan: sudahlah, soal gitu-gituan, Jogja sudah setara dengan Bandung dan Jakarta. Secara terbuka, ia bilang dengan telengas: Hah, hari gini (saat SBY baru dua bulan jadi Presiden RI) di dompet masih gak ada kondom?

“Wah, kayak Agnes Monica di sinetron Cewekku Jutek sewaktu disetrap gurunya. Hii… hii…,” tulis Zen RS di esai “Agnes Monica dan Para Sosial” yang juga ditolak Kompas, 5 Agustus 2006.

Iklan

Saat debat dalam organisasi kemahasiswaan, entah dia mewakili fraksi apa (UKM atau Jurusan), kader HMI MPO ini menceramahi pengurus Dewan Mahasiswa yang banyak dihuni aktivis KAMMI yang secara reguler menjadi ustaz-ustaz di liqo-liqo di pojokan kampus.

Zen marah betul. Karena dengan dalih kesopanan, mahasiswa-mahasiswa alumni liqo ini membekukan salah satu UKM seni tradisi karena mementaskan adegan yang dianggap jorok dan melanggar susila. Zen tak terima.

Sebagai “Cebolang Pencari Tuhan von Karangmalang”, ia tahu persis bahwa seks bagian dari warisan budaya timur, warisan agung leluhur. Dengan ilmu laduni sejarah yang ditimbanya secara agresif dari Prof. Haikal ia menolak anggapan bahwa seks itu budaya Barat.

Untuk memperkuat tesisnya, Zen menampilkan potongan sejarah soal Pangeran Puger yang ngemut konthol Amangkurat II yang sudah menjadi mayat. Tujuan Puger menyucupi sperma abangnya yang sudah mati itu demi mendapatkan wahyu yang enggak turun-turun. Gendheng.

Tapi, “Itu ada di Babad Tanah Djawi—kitab agung Islam Jawa,” kata Zen RS berapi-api dalam dakwahnya. Astaghfirullah!

Yang perlu digarisbawahi dari peristiwa itu adalah jiwa pengorbanan dari Zen. Dan, salah satu kata sifat dari seorang yang kelak menjadi manusia besar—dan/atau tak mungkin bakal meramaikan link berita nabi-nabi baru yang tumbuh subur di Tanah Priangan—adalah pengorbanan.

Cocote Zen RS tak pernah diam bila melihat penindasan dan fasisme berlangsung di depan matanya. Sudah dibuktikannya berkali-kali soal itu.

Jauh sebelum pembelaannya atas lakon jorok dari UKM Seni Tradisi oleh kekuatan fasis kemahasiswaan, ia bersama lima temannya solider dan memutuskan mogok makan seperti para biksu di Myanmar melawan fasisme Rektorat IKIP Karangmalang.

Bila ada sahabatnya yang dikatain ini dan itu dalam tulisan di blog oleh bahkan seorang pesohor sekali pun, tak segan-segan Zen RS maju di gelanggang dan membuka front polemik yang keras.

Sebagai temannya, saya menangkap aura enigmatik dalam dirinya. Apalagi dihubungkan dirinya adalah lanang-jagat yang mewarisi beberapa karakter penting dari Cebolang, ia bisa menjadi guru spiritual yang ditunggu-tunggu oleh para fansnya yang hanya menunggu waktu yang tepat saja bertransformasi menjadi muridnya dengan memanggil dirinya: “Aa”.

Nah, untuk mempercepat datangnya “Hari Itu”-lah saya sebagai teman lama mengeluarkan “Buku Saku” Aa Zen RS yang saya susun dan belum pernah terbit—atau saya lupa menerbitkannya. Isi buku ini keringat asin dari gemblengan pencariannya sebagai Cebolang yang telah melahap saripati duniawi Tanah Djawi.

Baca bagian pembuka buku saku ajaran Aa Zen RS ini:

——-

Kau Bertanya, Aa Menjawab

Tanya, Aa?

Dear, paparanmu yang ringkas dan padat tentang ‘Ciuman Para Filsuf’ betul-betul membuatku tak habis pikir.

Bagaimana bisa para filsuf-filsuf asing itu begitu dahsyat bicara tentang ciuman.

Apakah karena peradaban barat memang sekuler?

Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah para pemikir dan pemimpin Indonesia jago juga berciuman?

Jangan-jangan mereka hanya tahu ciuman tangan?

Plis, saya ingin kamu menguraikan bagaimana pandangan hidup para pemimpin dan pemikir kita mengenai ciuman.

Sincerely

 ——-

Aa Menjawab!

Dear, ciuman itu bukan persoalan sekuler atau tidak. Pernahkah kau melihat lumba-lumba berciuman? Bukanlah lumba-lumba tak mengenal sekularisma?

Ini cuma soal sederhana: di Indonesia, teknologi odol dan pasta gigi baru masuk di abad-20 saja, makanya tidak banyak yang berciuman.

Kalau kau lihat uraianku di bawah, kau akan tahu bahwa sejarah ciuman di Indonesia hampir mirip dengan nasionalisme di Indonesia.

Keduanya merupakan temuan baru abad-20. Kecuali si Yamin itu saja yang ngotot.

Jakarta, 16 Mei 2009

——

Nah, penasaran, kan, butiran-butiran dahsyat apa yang ada dalam buku saku Aa Zen RS tersebut. Menggelinjang, kau! Sebagai editor dan penyusun butiran itu, saya bocorkan tujuh kutipan pokok ajaran ciuman ala Aa Zen RS. Untuk menyesuaikan posisi dan hobi, saya pilihkan ajaran untuk para fans Aa dari sayap kiri. Yang akhi dan ukhti, bersabar, ya.

Dengan kutipan tujuh ajaran pokok ini makin meluas sebutan untuknya yang barangkali awalnya hanya akrab di antara teman-teman dekatnya, yakni keple. Ya, dialah Cebolang itu, ya dialah Keple von Karangmalang!

——

(1) SOEKARNO KISS

Beri aku 10 pemudi, akan kuubah dunia dengan simfoni ciuman yang menjebol dan membangun. Mana bibirmu? Ini bibirku! Ingat, JASMERAH: Jangan Melupakan Gairah!

——

(2) TAN MALAKA KISS

Tak pernah menikah saya. Berkeluarga tak ada dalam opsi jika Indonesia belum revolusi. Tapi, tidak berarti saya tak doyan bibir dan lidah perempuan. Bacalah memoar saya yang dahsyat itu: “Dari Lambe ke Lambe”. Jangan lupa beli, ya!

——

(3) TIRTOADISOERJO KISS

Ciuman itu bisa menyatukan antara bangsa jang terprentah dengan bangsa jang memrentah, antara bangsawan asal dengan bangsawan pikiran.

——

(4) SOERJOPRANOTO KISS

Boycott adalah senjata rakyat tertindas. Wahai para Njai, mogok dan boycot lah, jangan beri meneer-meneer itu ciuman barang se-sosor-pun.

——

(5) SEMAOEN KISS

Ciuman itu harus dilakukan dengan kompak, tidak bisa satu hisap dan satunya diam, kudu kompak, pokoknya harus “berbareng-bergerak”.

——

(6) DN AIDIT KISS

Ibu pertiwi sedang hamil tua, situasi sudah sangat genting. Pilihannya cuma dua: DICIUM atau MENCIUM?

——

(7) NJOTO KISS

Ciuman seorang seniman haruslah berdasarkan pengalaman rakyat. Jangan berlama-lama, segeralah TURBA: Turun ke Bawah!

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2017 oleh

Tags: #PekanTemanIkip KarangmalangunyZen RS
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Penulis dan kerani partikelir IBOEKOE dan Radio Buku.

Artikel Terkait

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
UAD: Kampus Terbaik untuk “Mahasiswa Buangan” Seperti Saya MOJOK.CO
Esai

UNY Mengajarkan Kebebasan yang Gagal Saya Terjemahkan, sementara UAD Menyeret Saya Kembali ke Akal Sehat Menuju Kelulusan

16 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.