Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Wayang yang Memuji Diri Sendiri

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
13 Juli 2015
A A
Wayang yang Memuji Diri Sendiri

Wayang yang Memuji Diri Sendiri

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Cak Dullah minta tolong Mat Piti agar diantar ke rumah Cak Dlahom. Dia mau berguru atau setidaknya ingin menimba ilmu. Mat Piti mengantarnya pada suatu sore, sebelum berbuka.

Cak Dlahom tahu, meski jadi korak, Cak Dullah sebetulnya orang baik. Di rumahnya, Cak Dlahom menerima Cak Dullah dengan baik, meski tentu saja dengan tetap cekikikan. Malam itu Cak Dullah yang membuka pembicaraan.

“Begini, Cak, saya punya masalah…”

“Dul, namanya manusia ya pasti punya masalah.”

“Betul, Cak. Saya hanya mau tahu rahasia sampeyan.”

“Rahasia apa, Dul? Aku tak pernah punya rahasia.”

“Anu, Cak… Sudah lima tahun ini saya meninggalkan masjid. Sudah tidak jadi imam.”

“Ya, aku tahu. Karena kamu kecewa, kan?”

“Betul, Cak. Saya ini kecewa. Umur saya sudah 40 tahu, tapi selama 20 tahun beribadah, salat setiap malam, puasa dan sebagainya, saya merasa belum mencapai ketenangan hati.”

“Dul, jangan pula 20 tahun, andai pun kamu beribadah selama 300 tahun, tak akan menempel satu butir debu mukasyafah pada hatimu.”

“Kok bisa? Tiga abad itu lama banget, Cak. Masak tak ada kemungkinan berubah?”

“Memang lama , tapi kamu terus tertutup oleh dirimu. Oleh nafsumu.”

“Sampeyan ini kalau ndak membingungkan, ya nakut-nakuti… Mbok saya dikasih tahu?”

“Bisa, tapi kamu tak akan melakukannya.”

Iklan

“Saya mau, Cak…”

“Kalau benar mau, sekarang copot pakaianmu. Ganti dengan baju robek dan jelek ini.”

Cak Dullah menuruti perintah Cak Dlahom. Dia mengambil baju robek yang diulurkan Cak Dlahom lalu pergi ke salah satu ruangan dan mengganti bajunya. Mat Piti kebingunan.

“Sudah, Cak… malah kayak gembel saya.”

“Mat, kamu bawa uang?” Cak Dlahom bertanya kepada Mat Piti.

“Punya, Cak. Berapa?”

“Semuanya kalau bisa.”

Mat Piti menyerahkan semua uang di dompetnya. Totalnya 1,5 juta dengan pecahan lima puluh ribu rupiah. Lalu Cak Dlahom berpesan ke Cak Dullah: “Nanti, sehabis tarawih di masjid, kamu kumpulkan anak-anak. Suruh mereka satu per satu menamparmu, lalu beri masing-masing selembar uang.”

“Hanya itu, Cak?”

“Setelah itu datangi orang-orang tua yang selalu memuji-mujimu, yang sedang berkumpul di masjid. Minta mereka juga menamparmu, dan berikan mereka dua lembar uang lebih banyak.”

“Subhanallah. Masya Allah. Laa ilaha ilallah…”

“Dul, jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah jadi beriman, tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin jadi kafir.”

“Sampeyan jangan nakut-nakutin gitu dong, Cak.”

“Kelihatannya kamu sedang memuji Allah padahal sebetulnya sedang memuji dirimu sendiri. Ketika kamu menyebut ‘Mahasuci Allah…,’ seakan-akan kamu mensucikan Allah padahal kamu menonjolkan kesucian dirimu.”

“Astagfirullah… Saya minta maaf, Cak. Saya mau berguru sama sampeyan.”

“Sudah, Dul. Tak usah berlebihan. Aku bukan guru. Aku sama saja denganmu dan yang lainnya.”

Cak Dullah, korak yang disegani di kampung itu, terlihat menunduk dan terisak. Mat Piti tambah bingung. Dia tahu, Cak Dullah adalah orang yang mengerti ilmu agama. Pernah mondok. Pernah jadi imam masjid. Pernah jadi penceramah dan guru madrasah. Orang yang semacam itu, sore ini tak berdaya di depan Cak Dlahom dan hanya bisa menunduk. Mat Piti mencoba mengatasi agar keadaan kembali cair.

“Kemarin sampeyan bilang, sampeyan itu anjing. Kalau saya ini apa, Cak?”

“Mat, kita ini—kamu, aku, dan Dullah, kita semua adalah wayang.”

“Setelah jadi anjing sekarang jadi wayang, Cak?”

“Kita memang wayang. Wayang yang tidak pernah tahu, apa yang akan dilakukan dalang kepada kita.”

“Berarti kita tak punya peran dong, Cak?”

“Peran kita terserah sang dalang Mat. Mungkin kita akan dikeluarkan dari kotak lalu dimainkan oleh dalang di kelir, memerankan karakter seperti yang sudah direncanakan dan ditetapkan olehnya.”

“Tapi pasti dapat peran toh, Cak?”

“Ya mungkin. Mungkin kita akan berperan jadi Bima. Mungkin jadi Sengkuni. Mungkin kita akan berperang. Mungkin kita harus menangis. Mungkin kita hanya terus ditumpuk, dan tidak pernah dikeluarkan dari kotak. Mungkin juga malah akan dilempar entah ke mana.”

“Apa wayang memang tak bisa berbuat apa-apa, Cak?”

“Namanya juga wayang, Mat. Hanya selembar kulit kering yang diukir lalu jadilah bentuk dan wajah Semar, Petruk, dan sebagainya. Kita tidak bisa, dan memang tidak punya kemampuan mengubah rencana dan kehendak dalang. Satu hal yang harus kamu ketahui, peran yang diberikan oleh dalang kepada wayang dan juga cerita yang dibangun, tidak akan menyalahi pakem. Kodrat yang juga sudah dibuat dan ditetapkan oleh dalang.”

“Apa peran kita tak mungkin tertukar, Cak?”

“Tidak mungkin, Mat. Tak mungkin Gatotkaca jadi Bagong. Mustahil Manikmaya jadi Togok. Tidak boleh terjadi Drupadi dinikahi Durna. Akan merusak pakem, merusak kodrat, kalau Arjuna memperkosa Petruk.”

“Kalau saya ini siapa, Cak?”

“Kamu akan tahu sendiri siapa dirimu. Nikmati saja peranmu, Mat. Itu anugerah. Bisa jadi peranmu harus menderita. Bisa jadi kamu ditetapkan sebagai raja. Bisa jadi karaktermu hanya menjadi pembenci dan pendusta.”

“Jadi peran saya tak mungkin tertukar, Cak?”

“Kalau kamu sendiri tak tahu peranmu, bagaimana kamu akan bisa tahu peranmu bisa tertukar atau tidak? “

“Ya, siapa tahu saja, Cak…”

“Tak usah pedulikan peranmu dan peran yang diberikan kepada wayang yang lain, Mat. Tak perlu juga kamu mengurusi seluruh jalan cerita dan peran-peran itu. Sama seperti dirimu, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Karena kita semua hanya wayang, kok. Cuma wayang.”

Mat Piti manggut-manggut. Cak Dullah yang terisak dan menunduk ikut manggut-manggut. Suara azan maghrib mulai terdengar dan Mat Piti pamit pulang.

“Kalau begitu saya pamit dulu, Cak. Sudah waktunya buka. Mari sampeyan buka di rumah saya…”

“Kalau ada Romlah, aku ikut ke rumahmu, Mat.”

“Ya Allah, Cak…”

“Romlah itu bukan wayang Mat. Dia manusia.”

 

(diinspirasi dari kisah-kisah Fariduddin Attar dan kitab Addurun Nafis)

 

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Tags: #MerconCak DlahomMat PitiRamadanWayang
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

wayang, plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
Seni

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

8 Maret 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.