Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
6 Juli 2026
A A
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Ilustrasi Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Glokalisasi yang menggeser lagu MBG

Dirilis di bawah naungan label global 88rising, lagu Rollerblade membombardir telinga publik tanpa intro bertele-tele. Kontras dengan lagu MBG buatan AI, Rollerblade adalah produk hibriditas yang dikurasi secara sadar oleh manusia sungguhan (termasuk Stephanie Poetri). Daya tariknya terletak pada kemampuan membingkai tren pop global dengan kearifan lokal. 

Fenomena ini disebut glokalisasi, atau penggabungan elemen lokal ke dalam produk global. Jeremy Wallach mencatat bahwa musisi lokal secara strategis mendomestikasi tanda-tanda modernitas global sembari secara selektif meminjam tanda-tanda lokal subnasional untuk menciptakan identitas kontemporer yang relevan.

Nah, Estetika yang ditawarkan Rollerblade adalah ejawantah dari konsep glokalisasi ini. Penggabungan instrumen pentatonik Jawa (gamelan) dengan beat pop global dan lirik dwibahasa menciptakan sebuah produk yang tidak bisa direplikasi oleh AI manapun pada tahap komputasi saat ini.

Pergantian tren ini bukan terjadi karena anak-anak memahami makna Rollerblade lebih baik daripada lagu MBG. Faktanya, mereka kemungkinan sama-sama tidak mengerti siapa Bahlil, apa itu MBG, atau bahkan arti sebagian besar lirik Rollerblade. Yang bekerja justru hal lain: bentuk bahasanya. 

Frasa “Udah siap belum?” bukan sekadar lirik, melainkan ajakan. Ia dapat dipakai dalam hampir semua situasi, mudah ditirukan, dan mengundang respons. Sebaliknya, “My Little Bolu Ketan” berhenti sebagai slogan yang lucu, tetapi tidak membuka ruang interaksi. 

Di era media sosial, lirik yang bisa dipakai ulang dalam berbagai konteks memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada lirik yang hanya mengandalkan kelucuan sesaat.

Ketika lagu MBG kehilangan aura, apakah Rollerblade milik No Na adalah karya seni yang murni?

Secara teoretis, meredupnya tren lagu MBG dan naiknya Rollerblade yang dibawakan oleh No Na membuktikan tesis klasik para pemikir Sekolah Frankfurt. Filsuf Walter Benjamin pernah bilang bahwa karya seni yang direproduksi secara mekanis akan kehilangan auranya. 

Nah, lagu AI bahkan lebih parah. Ia sejak awal tidak punya sejarah, tidak punya niat penciptaan, dan tidak punya aura manusiawi sama sekali.

Lalu, apakah Rollerblade itu karya seni yang murni dan organik? Boro-boro.

Industri budaya kapitalis suka memakai trik pseudo-individuation, atau menempelkan ornamen imitatif yang unik untuk menutupi fakta bahwa sebuah produk sebenarnya diproduksi massal. 

Dalam Rollerblade, bebunyian gamelan dan lirik berbahasa Indonesia murni berfungsi sebagai gimmick estetis agar lagu pop-rap komersial ini terasa subversif dan lokal.

Tapi, generasi digital native jelas peduli amat dengan kritik ndakik-ndakik itu, karena No Na lewat Rollerblade menawarkan sesuatu yang lain: selera. 

Berada di bawah bendera 88rising membuat lagu yang dirilis pertama kali pada 17 April 2026 ini menduduki puncak rantai modal kultural. Jika masih penasaran, anda googling sendiri saja 88rising. 

Intinya, menggunakan lagu bernuansa politik seperti MBG kelamaan bisa bikin cringe, sementara mengkonsumsi sekaligus memakai Rollerblade sebagai latar musik di konten video Tiktok, Instagram Story, dan sebagainya adalah semacam penegasan status bahwa sang kreator memiliki literasi budaya global dan gaya hidup kelas menengah (atas).

Iklan

Kapasitas otak “TikTok Brain” yang sekarat

Alasan lain tentang mengapa pergantian tren budaya populer ini secepat kilat adalah kondisi otak generasi yang tumbuh di era infinite scroll. Otak mereka telah dikondisikan untuk terus-menerus memindai informasi baru.

Beberapa literatur dan riset akademik menunjukkan banyak fakta yang cukup menarik. Pertama, rata-rata pengguna memutuskan untuk lanjut menonton atau men-skip sebuah video dalam waktu 1,7 detik saja. 

Kedua, kapasitas fokus berkelanjutan (sustained focus time) mereka anjlok di angka 47 detik. Ketiga, siklus mencari konten baru ini memicu pelepasan dopamin yang berlebihan, menciptakan apa yang para ahli sebut sebagai “TikTok Brain”. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

No Na bawakan komoditas budaya tingkat tinggi?

Lagu AI “MBG” cepat mati karena strukturnya yang datar mempercepat terjadinya aesthetic satiation (kejenuhan estetis). Sebaliknya, Rollerblade adalah komoditas budaya tingkat tinggi di ruang media.

Durasinya cuma 1 menit 54 detik. Batas emas agar tidak di-skip. 

Di dalam lagu sepadat itu, pendengar diseret paksa dari bunyi gamelan ke beat rap meledak, lalu dihajar dentuman jedag-jedug. Transisi fokus yang ekstrem (context switching) inilah yang terus memberi makan hormon dopamin agar audiens daring tidak sempat bosan.

Sebetulnya, tenggelamnya lagu MBG memberi publik sedikit harapan. Di tengah gempuran algoritma, konsumen media sosial masih tetap mencari sentuhan aura intelektualitas manusia, termasuk menuntut prestise kultural, dan butuh identitas yang nyata. 

Buktinya, saat penggalan lirik “Island girl from Indonesia” diganti oleh seorang kreator konten dari negeri Jiran menjadi “Island girl from Malaysia”, netizen auto mencak-mencak. Ada identitas nasional yang dipertaruhkan. Warganet kita jelas sangat nasionalis, kendati tak mengikuti program Bela Negara.

Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono

 

BACA JUGA Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh

Tags: Bahlil LahadaliaMas Bahlil GantengMBGNo Narollerblade
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO
Cuan

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO
Kabar

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO
Kabar

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.