Glokalisasi yang menggeser lagu MBG
Dirilis di bawah naungan label global 88rising, lagu Rollerblade membombardir telinga publik tanpa intro bertele-tele. Kontras dengan lagu MBG buatan AI, Rollerblade adalah produk hibriditas yang dikurasi secara sadar oleh manusia sungguhan (termasuk Stephanie Poetri). Daya tariknya terletak pada kemampuan membingkai tren pop global dengan kearifan lokal.
Fenomena ini disebut glokalisasi, atau penggabungan elemen lokal ke dalam produk global. Jeremy Wallach mencatat bahwa musisi lokal secara strategis mendomestikasi tanda-tanda modernitas global sembari secara selektif meminjam tanda-tanda lokal subnasional untuk menciptakan identitas kontemporer yang relevan.
Nah, Estetika yang ditawarkan Rollerblade adalah ejawantah dari konsep glokalisasi ini. Penggabungan instrumen pentatonik Jawa (gamelan) dengan beat pop global dan lirik dwibahasa menciptakan sebuah produk yang tidak bisa direplikasi oleh AI manapun pada tahap komputasi saat ini.
Pergantian tren ini bukan terjadi karena anak-anak memahami makna Rollerblade lebih baik daripada lagu MBG. Faktanya, mereka kemungkinan sama-sama tidak mengerti siapa Bahlil, apa itu MBG, atau bahkan arti sebagian besar lirik Rollerblade. Yang bekerja justru hal lain: bentuk bahasanya.
Frasa “Udah siap belum?” bukan sekadar lirik, melainkan ajakan. Ia dapat dipakai dalam hampir semua situasi, mudah ditirukan, dan mengundang respons. Sebaliknya, “My Little Bolu Ketan” berhenti sebagai slogan yang lucu, tetapi tidak membuka ruang interaksi.
Di era media sosial, lirik yang bisa dipakai ulang dalam berbagai konteks memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada lirik yang hanya mengandalkan kelucuan sesaat.
Ketika lagu MBG kehilangan aura, apakah Rollerblade milik No Na adalah karya seni yang murni?
Secara teoretis, meredupnya tren lagu MBG dan naiknya Rollerblade yang dibawakan oleh No Na membuktikan tesis klasik para pemikir Sekolah Frankfurt. Filsuf Walter Benjamin pernah bilang bahwa karya seni yang direproduksi secara mekanis akan kehilangan auranya.
Nah, lagu AI bahkan lebih parah. Ia sejak awal tidak punya sejarah, tidak punya niat penciptaan, dan tidak punya aura manusiawi sama sekali.
Lalu, apakah Rollerblade itu karya seni yang murni dan organik? Boro-boro.
Industri budaya kapitalis suka memakai trik pseudo-individuation, atau menempelkan ornamen imitatif yang unik untuk menutupi fakta bahwa sebuah produk sebenarnya diproduksi massal.
Dalam Rollerblade, bebunyian gamelan dan lirik berbahasa Indonesia murni berfungsi sebagai gimmick estetis agar lagu pop-rap komersial ini terasa subversif dan lokal.
Tapi, generasi digital native jelas peduli amat dengan kritik ndakik-ndakik itu, karena No Na lewat Rollerblade menawarkan sesuatu yang lain: selera.
Berada di bawah bendera 88rising membuat lagu yang dirilis pertama kali pada 17 April 2026 ini menduduki puncak rantai modal kultural. Jika masih penasaran, anda googling sendiri saja 88rising.
Intinya, menggunakan lagu bernuansa politik seperti MBG kelamaan bisa bikin cringe, sementara mengkonsumsi sekaligus memakai Rollerblade sebagai latar musik di konten video Tiktok, Instagram Story, dan sebagainya adalah semacam penegasan status bahwa sang kreator memiliki literasi budaya global dan gaya hidup kelas menengah (atas).
Kapasitas otak “TikTok Brain” yang sekarat
Alasan lain tentang mengapa pergantian tren budaya populer ini secepat kilat adalah kondisi otak generasi yang tumbuh di era infinite scroll. Otak mereka telah dikondisikan untuk terus-menerus memindai informasi baru.
Beberapa literatur dan riset akademik menunjukkan banyak fakta yang cukup menarik. Pertama, rata-rata pengguna memutuskan untuk lanjut menonton atau men-skip sebuah video dalam waktu 1,7 detik saja.
Kedua, kapasitas fokus berkelanjutan (sustained focus time) mereka anjlok di angka 47 detik. Ketiga, siklus mencari konten baru ini memicu pelepasan dopamin yang berlebihan, menciptakan apa yang para ahli sebut sebagai “TikTok Brain”. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
No Na bawakan komoditas budaya tingkat tinggi?
Lagu AI “MBG” cepat mati karena strukturnya yang datar mempercepat terjadinya aesthetic satiation (kejenuhan estetis). Sebaliknya, Rollerblade adalah komoditas budaya tingkat tinggi di ruang media.
Durasinya cuma 1 menit 54 detik. Batas emas agar tidak di-skip.
Di dalam lagu sepadat itu, pendengar diseret paksa dari bunyi gamelan ke beat rap meledak, lalu dihajar dentuman jedag-jedug. Transisi fokus yang ekstrem (context switching) inilah yang terus memberi makan hormon dopamin agar audiens daring tidak sempat bosan.
Sebetulnya, tenggelamnya lagu MBG memberi publik sedikit harapan. Di tengah gempuran algoritma, konsumen media sosial masih tetap mencari sentuhan aura intelektualitas manusia, termasuk menuntut prestise kultural, dan butuh identitas yang nyata.
Buktinya, saat penggalan lirik “Island girl from Indonesia” diganti oleh seorang kreator konten dari negeri Jiran menjadi “Island girl from Malaysia”, netizen auto mencak-mencak. Ada identitas nasional yang dipertaruhkan. Warganet kita jelas sangat nasionalis, kendati tak mengikuti program Bela Negara.
Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil














