Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Ilustrasi Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COKasus Daycare Little Aresha menjadi pengingat pahit betapa mahalnya rasa aman bagi anak-anak di negeri yang absen melindungi hak warganya.

Hari gini, rumah tangga mana sih yang bisa bertahan tanpa double income? Anak terpaksa masuk  tempat penitipan anak (daycare), eh muncul kasus Daycare Little Aresha Jogja. Kita bisa merespons kasus ini dengan dua hal.  

Jumat malam (24/4), orang tua se-Jogja geger. Sebuah daycare berbayar dan harganya tidak murah bernama Little Aresha di bilangan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, digerebek polisi. 

Menurut kronologi yang beredar di media massa, penggerebekan ini terjadi berkat laporan seorang mantan pegawai ke polisi. Daycare tersebut ternyata kerap melakukan kekerasan pada anak-anak yang dititipkan di sana, mayoritas masih bayi dan balita.

Peringatan pemicu trauma: narasi berikut memuat deskripsi kekerasan pada anak.

Berdasarkan keterangan saksi, aparat dan foto yang beredar, anak-anak di Daycare Little Aresha diperlakukan tidak manusiawi. Mereka ditelanjangi, hanya memakai popok, kaki mereka diikat dengan kain, lalu dibiarkan tidur di lantai yang dingin. Kondisi mengenaskan ini disaksikan langsung oleh aparat saat melakukan penggerebekan.

Sebelum ramai di media massa, penggerebekan ini sudah lebih dulu viral di media sosial Threads pada Jumat malam. Muncul kisah-kisah menyakitkan dari orang tua yang anaknya pernah atau masih dititipkan di daycare itu ketika penggerebekan terjadi.  

Mereka mengungkap fakta, ada yang anaknya pulang dalam keadaan lebam di tangan. Ada yang anaknya sangat trauma sehingga setiap hendak diantar ke Daycare Little Aresha, si anak selalu menangis hebat. 

Orang tua itu kini merasa sangat bersalah karena dulu mengira, sikap anaknya cuma kerewelan biasa anak-anak yang enggan berpisah dari orang tua. 

Saya menonton video seorang ibu yang diwawancarai media. Sambil menggendong anaknya di dada, ia berlinangan air mata menceritakan bagaimana anaknya menjadi korban dari tempat pengasuhan yang ia bayar rutin tiap bulan dengan harapan anaknya dirawat dengan penuh kasih. 

Selain itu beredar rekaman pengakuan seorang anak yang mengaku tangannya diikat dan mulutnya ditutup ketika dititipkan di Daycare Little Aresha.

Respons alamiah kita sebagai manusia, mau yang sudah beranak ataupun belum, lumrahnya adalah marah dan sedih. Semua anak adalah murni dan tak berdosa. Jika mereka rewel, itu karena mereka belum bisa mengomunikasikan kebutuhan dan meregulasi emosi mereka. Orang dewasalah yang bisa, kecuali bila orang dewasa itu berkebutuhan khusus. 

Ada jiwa-jiwa jahanam di Daycare Little Aresha

Kita sebagai orang dewasa tak habis pikir, bagaimana sekelompok orang dewasa yang tampaknya sehat jiwa dan raganya, bisa mengelola sebuah daycare dan hari demi hari secara bersama-sama kompak menyiksa anak-anak yang bahkan bicara pun belum lancar.

Jiwa-jiwa jahanam dan tidak punya rasa empati itu ternyata berkeliaran di sekitar kita. 

Mewakili para orang tua, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mantan karyawan yang melapor itu. 

Anda membuktikan bahwa hati nurani itu masih ada. Anda juga membuktikan bahwa sekalipun dikelilingi orang-orang tak bernurani, moral Anda tetap tegak. Anda tidak diam dan berani melaporkan kekejaman ini kepada aparat. 

Ucapan terima kasih saja mungkin tak cukup, namun itulah yang bisa kami sampaikan saat ini. Terima kasih banyak…

Setelah semua kemarahan dan pertanyaan itu, kini kita, para orang tua, terjebak dalam dilema yang sulit.

Anda semua, mau dari kelas ekonomi apa pun, hari-hari ini sulit sekali untuk bisa mengasuh anak hanya berdua sebagai suami-istri. Kalaupun salah satu dari suami istri bisa tetap diam di rumah, ada waktunya kita tetap perlu menitipkan anak. 

Entah beberapa menit atau beberapa jam. Menitipkan untuk keperluan mengerjakan tugas domestik, mengasuh anak yang lebih kecil, atau mengurus hal-hal dalam kaitan kita sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

Apalagi bagi orang tua yang keduanya harus bekerja. Dalam kondisi ekonomi yang rasanya makin hari makin berat ini, tidak banyak orang tua yang punya keleluasaan bisa hidup dengan hanya satu pencari nafkah. 

Apalagi bagi orang tua yang tinggal di kota, biaya hidup dan sekolah yang makin tak terkejar menuntut dua orang tua mesti bekerja. Malah sering juga bukan cuma dua-duanya yang harus bekerja, itu masih ditambah masing-masing orang tua menjalani dua kerjaan atau lebih agar bisa menabung.

Betapa lelah-penat kita mengejar gaji semungil itu, masih harus berhadapan dengan naiknya harga bahan pangan, energi, sewa rumah, kesehatan, pendidikan, pajak, dan segala macam perintilan yang kayaknya kecil-kecil tapi ternyata signifikan terhadap pengeluaran. Kenaikan harga-harga itu terjadi serentak pula.

Lalu ketika kita sudah memampukan diri membayar biaya pengasuhan anak agar bisa konsentrasi mencari nafkah, harus ditambah lagi berhadapan dengan orang jahat yang nuraninya dijual terpisah.

Bingung sekali, uang ternyata tak bisa menyelesaikan masalah. Kita harus apa? Itulah yang kita teriakkan dalam kepala.

Sejak mengandung, orang tua sejatinya sudah menjadi radikal

Menjadi orang tua artinya empati kita jadi luber-luber. Lihat rumah tangga orang lain susah, hati kita ikut menjerit. Lihat anak orang lain menderita, kemanusiaan kita meronta-ronta. Di mana saja. Mau itu tetangga kita, warga lain sesama WNI, hingga rumah tangga-rumah tangga lain di daerah konflik di seluruh dunia.

Waktu kasus keracunan MBG membuat banyak anak terkapar di rumah sakit, para ibu sampai turun demo di berbagai kota. Karena apa? Karena empati. Anakmu adalah anakku juga. Ketika Andrie Yunus disiram air keras, saya begitu ngilu saat menonton video kejadiannya karena saya memakai perspektif orang tua Andrie. Saya membayangkan perasaan mereka. 

Jika Anda orang tua, pasti tahu bahwa orang tua itu default-nya senantiasa waswas. Selalu khawatir anaknya celaka, kurang sehat, dirawat kurang baik, pendidikannya kurang tepat, dan seterusnya dan seterusnya.

Capek sekali ya? Capek banget! Tapi kita juga tidak mau menanggalkan empati itu. Empati membuat kita menjadi manusia.

Saya meyakini, sejak anak ada di dalam kandungan, saat itu juga orang tua menjadi radikal. Radikal dalam arti, jadi lebih sadar pada ketidakadilan dan kekeliruan di sekitar kita. Orang tua juga biasanya lebih vokal karena merasa jika protes dipendam saja, bahayanya sangat mungkin menjalar ke anak-anak kita.

Saya ingat sekali momen ketika saya hamil, saya dinasihati dokter kandungan untuk tidak makan kerang dan ikan tuna. Dua hewan itu punya karakter menyerap polusi di sekitar lingkungan hidupnya sehingga sering kali ada kandungan logam berat dalam tuna dan kerang.

Tapi lama-kelamaan karena paparan informasi, saya jadi tahu bahwa kandungan berbahaya dalam makanan yang bisa mengancam janin saya bisa datang dari mana saja. Misalnya, berita mikroplastik dalam tahu yang dimasak menggunakan bahan bakar sampah plastik, diimpor dari luar negeri pula sehingga kadang-kadang terselip bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahaya mikroplastik juga telah begitu mencemari alam Indonesia sehingga ada di udara, tanaman, dan hewan-hewan yang kita makan.

Tahu, makanan murah yang selalu kita bayangkan sehat itu, ternyata ada yang mengandung mikroplastik. Bikin ngeri sekaligus bingung, ini keluarga saya harus makan apa yang aman?=

Begitu anak lahir, sifat radikal itu makin menguat. Ternyata ada bahaya kekerasan seksual pada anak di mana-mana. Jalan-jalan tidak aman bagi anak. Ruang terbuka hijau sangat minim. 

Bullying sudah seperti budaya. Aktivitas bermain buat anak makin banyak yang berbayar. Lalu terutama penitipan anak dan sekolah, mencari yang bagus bukanlah tugas mudah. Sekarang, ketika yakin sebuah daycare bagus dan kita bersedia membayar, harus ada kasus seperti Daycare Little Aresha ini.

Kita benar-benar dilepas untuk berjuang sendiri oleh negara ini. Tak heran, banyak orang kini mimpinya sederhana saja: ingin bisa hidup biasa-biasa saja, tidak usah muluk-muluk seperti negara maju dan kaya raya, yang penting bisa bekerja dan membesarkan anak dengan tenang.

Mimpi sederhana itu ternyata tetap harus diperjuangkan dengan keras dan menguras tenaga.

Dari peristiwa di Daycare Little Aresha, saatnya menuntut tanggung jawab negara 

Kita belum bicara tentang anak-anak telantar. Belum bicara tentang anak yang terpaksa bekerja. Ada pula anak korban eksploitasi seksual (ingat kasus pekerja spa berusia 14 tahun yang bunuh diri melompat di Jakarta tempo hari). 

Masih ada anak korban KDRT. Anak korban keracunan MBG. Anak tanpa akses pendidikan layak. Belum lagi anak yang memanggul beban domestik untuk mengasuh adik sekaligus bekerja. Masih banyak anak-anak lain yang haknya tak terpenuhi.

Kita baru bicara tentang layanan penitipan anak. Anak-anak ini orang tuanya atau walinya masih ada, hanya saja orang tua/walinya tidak bisa penuh waktu mengasuh anak mereka.

Kepada para orang tua yang bingung seperti saya, ini waktunya bagi kita untuk menuntut tanggung jawab negara.

Saya bisa bilang begitu tak lain karena dua tahun lalu, Indonesia telah mengesahkan UU 4/2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (UU KIA).

UU ini mewajibkan negara untuk mengakui hak anak dalam mendapatkan kepastian hidup, tumbuh, dan berkembang secara optimal. Masih dikutip dari UU KIA, contoh kepastian itu berupa berupa jaminan gizi; pelayanan kesehatan; ruang berekspresi, bermain, dan berinteraksi dengan teman sebaya. 

Namun, satu poin yang harus kita garis bawahi, terutama berkaitan dengan kasus Daycare Little Aresha, adalah hak anak untuk mendapatkan pengasuhan serta perawatan terbaik dan berkelanjutan demi pertumbuhan yang optimal.

UU KIA juga menyatakan setiap ibu berhak atas akses penitipan anak yang terjangkau secara jarak dan biaya.

Semua hak yang disebut itu termasuk dalam apa yang disebut sebagai kesejahteraan ibu dan anak. 

Lalu ini yang terpenting: UU KIA mewajibkan pemerintah pusat dan daerah untuk, pertama, memastikan pendanaan; kedua, menyelenggarakan serta mengawasi penyelenggaraan kesejahteraan ibu dan anak.

Terus berisik ke negara demi daycare yang terjangkau dan aman

UU KIA bukan satu-satunya produk hukum di Indonesia yang memuat hak-hak anak. Kasus Daycare Little Aresha membuat kita memperhatikan lagi hak-hak anak yang seharusnya dipenuhi negara, khususnya daycare yang terjangkau secara harga dan jarak, aman, dan memenuhi hak anak.

Yah, begitulah. Di tengah kondisi kita yang belum bisa bekerja dengan tenang karena ada aja masalah di sekitar kita, kini tambah lagi satu kerepotan sebagai WNI: harus terus berisik agar hak kita dipenuhi negara.

Absennya negara dalam melayani warganya ini selalu membuat saya ingat kutipan seorang teman: Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu. Tanyakan, ini negara apa bukan sih?

Terakhir, karena saya sadar menuntut negara melayani kita itu pasti tidak instan hasilnya, penting bagi sesama WNI untuk terus bersolidaritas. Jangan pernah bosan menjadi orang baik. 

Hidup kita ini sudah susah, tidak perlu ditambahi dengan menjadi jahat pada sesama. Jadikan keluarga-keluarga kita sebagai ruang aman bagi anak siapa saja. Pengasuhan komunal ala pedesaan yang pernah kita rasakan semasa kecil sudah makin langka, karena itu kita perlu saling berpegangan tangan menghidupkannya kembali dengan cara yang lebih adaptif dengan hidup kita hari ini.

Penulis: Prima Sulistya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Exit mobile version